Headline

Rektor Dewa Putu : “Unwar Ingin Mencengkramkan Tangan di NTT”

KUPANG, mediantt.com – Kiprah Universitas Warmadewa (Unwar) secara nasional semakin diperhitungkan. Sebab peringkat secara nasional telah bergeser dari urutan 74 tahun 2017 menjadi 63 pada tahun 2018 ini. Karena itu, Universitas ternama di Pulau Dewata ini makin menggencarkan cengkramannya, termasuk di NTT. Salah satu caranya, menjalin kerjasama dengan media cetak dan online di NTT untuk membantu promosinya.

“Terima kasih kepada teman-teman J urnalis di NTT yang telah menjalin kerjasama dengan kami. Inilah tonggak penting bagi kami untuk makin mencengkramkan tangan kami di NTT. Karena hampir setiap tahun mahasiswa baru dari NTT kurang lebih 300 orang. Kami ingin meningkatkan kualitas mahasiswa dari NTT,” kata Rektor Universitas Warmadewa Bali, Prof Dr I Dewa Putu Widjana, DAP&E, Sp.ParK, dalam pengantarnya sebelum Dialog Kebangsaan bertajuk “Merajut Kebersamaan untuk Memperkokoh Kebangsaan” di Taman Dedari, Sikumana, Kupang, Jumat (17/8).

Menurut Dewa, selama mengikuti kuliah di kampus Universitas Warmadewa, dari waktu ke waktu mahasiswa NTT makin menunjukan kualitasnya. Karena itu, sebut dia, kejasama dengan media di NTT bisa menjadi corong bagi Universitas Warmadewa agar mahasiawa dari NTT makin hari makin percaya dengan Universitas Warmadewa.

Ia juga mengatakan, Dikti baru saja mengumumkan bahwa Universitas Warmadewa telah menempati ranking 63 tahun 2018. “Artinya Universitas Warmadewa telah naik dari perinngkat 74 tahun 2017 menjadi 63 tahun 2018 ini,” kata Rektor Dewa.

Ia juga menambahkan, “Universitas Warmadewa hadir untuk berkolaborasi, bukan untuk berkompetisi”.

Membangun Kerukunan

Sementara itu, Ketua Yayasan Kesejahteraan Korpri Propinsi Bali,
Universitas Warmadewa, Dr Drs A. A. Gede Oka Wisnumurti, ketika menjadi pemateri dalam Dialog Kebangsaan, menekankan soal bagaimana membangun kerukunan antar etnis.

Mengutip pendapat Sosiolog Koentjaraningrat (1982), Gede Oka mengatakan, kebanggan bangsa Indonesia bahwa rakyat yang menduduki kepulauan Nusantara ini
memiliki sifat plural dengan beraneka warna bahasa dan kebudayaan, bineka tunggal ika. “Namun dibalik kebanggaan itu terbersit keprihatinan karena aneka masalah yang timbul karena sifat plural itu. Apalagi bangsa majemuk seperti Indoesia rawan konflik bernuansa Sara,” kata dosen Fisip ini.

Menurut penggagas Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali ini, permasalahan yang selalu mencuat mengganggu kerukunan berbangsa adalah kesenjangan sosial, politik identitas, radikalisme disharmoni sosial, konflik bernuansa Sara, terancamnya kerukunan dan terancamnya persatuan dan kesatuan bangsa.

Karena itu, menurut dia, perlu adanya kesadaran bahwa kita memang berbeda, apalagi masing-masing memiliki credo, saling menghargai dan menghormati satu sama lain. “Perlu menumbuhkan nilai-nilai kearifan lokal yang menjunjung kebersamaan bahwa kita adalah bersaudara,” kata mantan Ketua KPU Bali ini.

Selain itu, tambah dia, perlu membangun sikap toleransi, kerjasama, bersinergi dan kolaborasi, juga menghilangkan rasa saling curiga dengan membangun dialog dan rekonsiliasi. (jdz)