Reinha Rosari Larantuka Mulai Berkabung

Prosesi Jumat Agung di Kota Larantuka, sebuah kota kecil di bawah kaki Gunung Ile Mandiri yang juga ibukota Kabupaten Flores Timur itu, tinggal dua hari lagi.

Kegiatan Semana Santa (pekan suci) di ujung timur Pulau Flores itu dimulai dari Rabu Trewa, 28 Maret 2018. Pada hari terbelenggu (trewa) ini, umat Katolik setempat mulai berkumpul di kapel-kapel yang ada untuk berdoa mengenang kisah pengkhianatan Yudas Iskariot terhadap Yesus di Getzemani.

Yesus akhirnya ditangkap dan kemudian disalibkan oleh para serdadu Yahudi. Pada saat Rabu Trewa inilah, kota Reinha Rosari Larantuka berubah menjadi kota berkabung, tenggelam dalam khidmat dan refleksi pada pemurnian jiwa menuju pentas Jumat Agung nan abadi.

Antonius Tonce Matutina, Sekretaris Daerah Kabupaten Flores Timur, selaku Ketua Panitia Samana Santa 2018 menghendaki agar Prosesi Jumat Agung tahun ini berjalan lebih khidmat dan menjiwai kisah sengsara Yesus yang wafat di Kayu Salib.

Semana Santa di Larantuka, kota kecil seluas sekitar 99,82 km2 atau 4,19 persen dari luas Kabupaten Flores Timur dengan jumlah penduduk sekitar 42.254 jiwa (BPS 2015) itu, sudah menjadi agenda tahunan karena telah ditetapkan sebagai wisata religi nasional oleh Kementerian Pariwisata.

Pada Kamis Putih (29/3) sore, kongregasi setempat mulai melakukan upacara Tikam Turo, yakni mempersiapkan rute prosesi dengan menanam lilin di sepanjang ruas jalan yang menjadi rute prosesi Jumat Agung yang jatuh pada 30 Maret 2018.

Di Kapel Tuan Ma (Bunda Maria), patung Bunda Maria yang telah dimeteraikan dalam sebuah peti mati selama satu tahun penuh, harus dibuka dengan penuh hati-hati oleh petugas Conferia (sebuah organisasi gerejani) yang telah diangkat melalui sumpah.

Patung Bunda Maria berkeramat itu, kemudian diambil dan dimandikan oleh petugas yang ditunjuk. Setelah itu, Patung Bunda Maria Pelindung Kota Reinha Rosari Larantuka itu kemudian dikenakan pakaian berkabung (selembar kain hitam atau ungu, atau mantel beludru biru).

Pada puncak ritual Sesta Vera atau Jumat Agung itu, pintu kapel Tuan Ma dan Tuan Ana (Patung Bunda Maria dan Patung Yesus) dibuka untuk umum mulai pukul 10.00 Wita.

Tradisi keagamaan bagi umat Katolik Larantuka ini dimulai sekitar 5010 tahun yang lampau, yang merupakan tradisi peninggalan Bangsa Portugis saat menyebarkan agama Nasrani di Kepulauan Solor serta berdagang kayu cendana di kepulauan tersebut.

Puncak perayaan Semana Santa pada Jumat Agung diawali dengan arak-arakan perahu serta puluhan bahkan ratusan kapal motor untuk mengantar Tuan Menino (Patung Yesus) dari Kapela Tuan Menino (Kota Sau) ke Kapela Pohon Sirih di Pante Kuce, depan istana Raja Larantuka.

Perayaan ini memberi kesan kuat bahwa pusat ritual itu kepada Yesus Kristus karena mengalami penyiksaan yang panjang sampai wafat di salib yang disaksikan sendiri oleh Maria, ibu kandungnya (Mater Dolorosa).

Menurut legenda, Patung Tuan Ma ditemukan oleh seorang laki-laki di Pantai Larantuka sekitar 500 tahun yang lampau. Ia kemudian menyerahkan patung tersebut kepada Raja Larantuka.

Selama lebih dari empat abad, wilayah ini mewarisi agama Katolik yang cukup kuat di Nusantara lewat peran para misionaris, persaudaraan rasul rakyat biasa (Confreria), Suku Semana, Suku Kakang Lewo Pulo serta Suku Pou (Lema) dalam pertumbuhan agama Katolik di wilayah Larantuka.

Saat Rabu Trewa tiba, umat Katolik setempat mulai bersiap-siap melakukan ritual bunyi-bunyian, sebagai simbol berduka menjelang hari kematian Yesus di kayu salib.

Pada malam Rabu Terbelenggu, umat mengenang peristiwa saat Yesus dibelenggu oleh serdadu dan para algojo Yahudi lalu diseret mengelilingi Kota Nazareth setelah ditangkap akibat pengkhianatan muridnya, Yudas Iskariot.

“Umat membuat bunyi-bunyian dengan peralatan apa saja yang bisa menimbulkan bunyi pada Rabu Terbelenggu itu, karena keesokan harinya (Kamis Putih) suasana Kota Larantuka mulai dilanda sunyi dan sepi,” kata Bernard Tukan, seorang tokoh Katolik setempat.

Pada Kamis Putih, umat Katolik Larantuka melakukan misa di Katedral Reinha Rosari Larantuka untuk mengenang perjamuan malam terakhir antara Yesus dengan 12 muridnya sebelum dikhianati oleh Yudas Iskariot.

Dalam pandangan Gereja Katolik Larantuka, kata Bernard Tukan, perayaan Paskah bukan sekadar peringatan Hari Kebangkitan Isa Al Masih, namun lebih dari itu merupakan ritual yang memadukan agama dan adat, sehingga telah menjadi sebuah perayaan budaya.

Dalam perjalanan sejarah, Prosesi Jumat Agung di Kota Larantuka itu akhirnya ditetapkan sebagai wisata rohani, sehingga umat Katolik dari berbagai penjuru Nusantara dan dunia, selalu hadir sebagai peziarah untuk mengikuti jalan salib suci di kota kecil yang diapiti Selat Gonzalu itu.

Menjelang acara puncak Semana Santa pada Jumat Agung (30/3), umat Katolik di Kapela Tuan Meninu, Kelurahan Sarotari, menggelar ritual Perpetu, yakni sebuah ibadah bagi para Mardomu yang menyatakan kesetiaannya untuk melayani Tuhan pada tahun sebelumnya dengan membakar lilin di dalam gereja.

“Semua ibu-ibu tidur di kapela/gereja sampai jam 03.00 subuh. Nanti dilanjutkan dengan upacara Trewa dengan membunyikan lonceng dan disambut oleh warga dengan segala macam bunyian sebagai lambang mulai berkabung,” ujar Mikael Mige Sakera, salah seorang tokoh agama setempat

Sebelum upacara prosesi laut, panitia juga melakukan ritual Tikam Turo (pasang lilin) sepanjang area yang akan dilintasi umat saat perarakan patung Bunda Maria sebagai pelindung Kota Reinha Rosari Larantuka itu.

Kapela Tuan Ana merupakan salah satu tempat yang penting dalam prosesi ritual Paskah di Larantuka. Di lokasi inilah, patung Tuan Ana (Yesus) yang dianggap sakral diletakkan di dalam keranda di ruang klausur tertutup.

Patung Tuan Ana hanya keluar dari persemayaman saat Paskah, setelah dijemput oleh Tuan Ma (Bunda Maria) yang bersemayam di Kapela Tuan Ma, tak jauh dari Kapela Tuan Ana.

Kedua arca tersebut akan diarak menuju Gereja Katedral Renha Rosari Larantuka saat Jumat Agung. Prosesi ini yang kemudian disebut masyarakat Larantuka sebagai Semana Santa.

Larantuka, kota kecil yang terletak pada 8,4 derajat lintang selatan dan 123 derajat bujur timur, berada di kaki Gunung Ile Mandiri, dan sisi selatan kota itu langsung berhadapan dengan Selat Gonzalu yang membatasi Flores Timur daratan dan Pulau Adonara di seberangnya.

Kini, Larantuka sedang berkabung, tenggelam dalam khidmat dan refleksi pada pemurnian jiwa menuju pentas Jumat Agung nan abadi pada 30 Maret 2018. (ant/laurensius molan)