Headline

Program Literasi Diusulkan Dapat Alokasi Besar pada APBD Sumba Barat

WAIKABUBAK – Mencermati masih rendahnya tingkat literasi di Sumba Barat, Kepala Dinas Pendidikan Sumba Barat Sairo Umbu Awang mengusulkan alokasi APBD untuk pendidikan Sumba Barat lebih besar diperuntukkan bagi peningkatan kemampuan literasi dan numerasi bagi siswa sekolah dasar, terutama kelas awal.

Usulan ini sampaikan di hadapan anggota Komisi C DPRD, Sekda, Bappeda yang hadir pada kegiatan Konsultasi Publik Hasil Analisis Dana Fungsi Pendidikan Sumba Barat di Aula Kantor Bupati Sumba Barat, Jumat 27 Juli 2018.

Total APBD Sumba Barat pada tahun 2018 adalah Rp 840 miliar. Jumlah ini naik kurang lebih Rp 70 miliar dari tahun 2017 sebanyak Rp 779 miliar. Dari total APBD, dana yang dihabiskan untuk pendidikan pada tahun 2018 mencapai 169 Rp miliar atau 20,2 persen. Alokasi ini merupakan alokasi kedua terbesar dibawah bidang kesehatan 189 milyar.

Menurut dia, dana terbesar pendidikan dialokasikan untuk manajemen yaitu Rp 135 miliar pada tahun 2016, Rp 99 miliar pada tahun 2017 dan turun menjadi 95 milyar pada tahun 2018. Porsi terbesar alokasi itu dihabiskan untuk gaji PNS dan non PNS Pendidikan. Untuk 2018, Gaji non PNS menyerap anggaran kurang lebih Rp 18 miliar dan PNS 11 Rp miliar.

Di bawah manajemen, alokasi terbesar adalah untuk pembiayaan akses pendidikan berupa sarana dan prasarana; Rp24 miliar pada tahun 2016, Rp 46 miliar tahun 2017dan meningkat menjadi 29 milyar pada tahun 2018.

Sayangnya untuk peningkatan mutu pembelajaran alokasinya masih amat sedikit. Tahun 2016, dana yang dialokasikan Rp 2,8 miliar, tahun 2017 menurun menjadi Rp 0.2 miliar dan pada tahun 2018 hanya mencapai Rp 1,6 miliar atau 0.19 persen dari total APBD Sumba Barat Rp 840 miliar.

Rendahnya alokasi untuk mutu pembelajaran ini realitanya belum menjawab permasalahan sebenarnya. Tingkat literasi siswa Sumba secara keseluruhan -termasuk Sumba Barat, masih rendah. Kabupaten yang tergolong tertinggal ini memiliki tingkat tidak illiterasi cukup tinggi.

Berdasarkan hasil uji kemampuan membaca di 12 sekolah se-daratan Sumba Barat (riset ACDP Indonesia, 2016) diperoleh fakta bahwa hanya sepertiga siswa kelas 2 yang sudah berada pada akhir tahun ajaran yang mampu membaca sesuai yang diharapkan. Sebagai standar; anak kelas 2, harusnya sudah mampu membaca nyaring 15-20 kalimat dengan pengucapan dan intonasi yang benar. Ketidakmampuan membaca inilah yang sebenarnya menjadi akar permasalahan mengapa terjadi kesulitan komunikasi dan kesulitan siswa dalam memahami sebuah pesan/informasi.

Sekretaris Komisi III C DPRD Sumba Barat -Kedu Wawo, yang agak terkejut dengan data-data ini spontan meminta Pemda Sumba Barat berupaya keras mengatasinya. Keinginan tersebut ditanggapi antusias oleh Kepala Dinas Pendidikan Sumba Barat dengan usulan meningkatkan alokasi dana APBD untuk program literasi dan numerasi terutama bagi siswa pendidikan dasar.

“Kalau dulu alokasinya lebih mengarah ke pembangunan fisik, ke depan, dengan dasar hasil analisis dan pertemuan hari ini, harus diubah ke peningkatan literasi dan numerasi siswa,” usulnya.

Saran agar program literasi menjadi fokus untuk kegiatan pendidikan Sumba disetujui oleh semua peserta forum yang dihadiri oleh banyak unsur pemerintah, pendidik dan LSM; Bappeda, Sekda, Anggota DPRD, perwakilan Save The Children, INOVASI dan lain-lain.

Di forum tersebut, peserta bahkan mengusulkan agar Pemerintah Pusat -melalui kerjasama dengan INOVASI dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, selain bisa memfasilitasi reviu rencana kerja sekolah dan analisis keuangan sekolah, juga memfasilitasi proses penyusunan peraturan bupati tentang Literasi dan Numerasi.

Usulan tersebut akan disampaikan segera dalam bentuk tertulis oleh Pemda Sumba Barat ke Pusat. “Kita berharap usulan ini diterima. Dengan Peraturan Bupati, kita memiliki payung hukum yang jelas tentang program literasi yang bisa mengarahkan kabupaten ini suatu saat menjadi Kabupaten Literasi,” ujar Sekda Sumba Barat, Umbu Dingu Dedi.

Kegiatan Analisis APBD yang dilakukan pemangku kepentingan seluruh kabupaten di Daratan Sumba dengan INOVASI ini dimulai di Sumba Timur pada tanggal 17 Juli dan akan berakhir pada Agustus di Sumba Barat Daya.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari rekomendasi pertemuan Forum Solidaritas Peduli Pendidikan se-Daratan Sumba yang diadakan sebelumnya. “Hasil dari kegiatan ini akan menjadi bahan diskusi dengan pemangku kepentingan di tingkat provinsi dalam rangka merumuskan kebijakan yang strategis dan tepat guna terkait literasi,” ujar Hironimus Sugi, Provincial Manager INOVASI untuk Sumba. (*/jk)