Politani Diharapkan Tunjukan Jati Diri Melalui Pendidikan Vokasi

KUPANG, mediantt.com – Wakil Gubernur NTT, Josef Adrianus Nae Soi, mengajak segenap civitas akademika Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Kupang untuk tidak membatasi kiprahnya. Tetapi sebagai mitra pemerintah, Wagub minta agar lembaga Politani dapat menunjukan jati diri melalui pendidikan vokasi pertanian berkualitas dan berjiwa kewirausahaan (enterpreneurship).

Ajakan ini disampaikan Wagub Nae Soi, ketika berpidato pada Rapat Senat Terbuka Luar Biasa, Wisuda Sarjana Terapan Angkatan X dan Ahli Madya Angkatan XXX Politani Kupang, di kampus Politani, Kamis (4/10). Turut hadir dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa itu, unsur Forkopimda NTT, para mantan Direktur Politani, orang tua, keluarga, wisudawan, civitas akademika Politani dan insan pers.

Menurut Wagub, NTT memiliki sumberdaya alam yang luar biasa. Namun, memiliki struktur ekonomi termiskin ketiga di Indonesia. “Saatnya kita harus bangkit. NTT sangat kaya dan memiliki matahari serta lahan yang luar biasa. Mari kita tunjukan kepada Indonesia dan dunia, bahwa NTT tidak miskin,” katanya.

Wakil Gubernur, sebagaimana dikutip dari rilis Biro Huma Setda NTT, memperkenalkan dua gerakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) dalam visi NTT Bangkit Menuju Sejahtera. Yakni, revolusi hijau untuk gerakan menanam kelor (moringa oleifera) dan revolusi biru untuk optimalisasi wilayah laut.

“Kita tunjukan kepada dunia, jika ingin membeli kelor maka datanglah ke NTT. Kita punya kelor dengan kualitas terbaik di dunia. Lahan kita juga sangat luas. Sekarang orang banyak mencari lahan kering. Kita harus optimalkan lahan kering dan mari kita bekerjasama untuk NTT yang lebih baik,” ungkap wagub.

Direktur Politani Kupang, Thomas Lapenangga, mengungkapkan komitmen lembaganya untuk mendukung program pemerintah. Kata dia, penelitian dosen dan upaya pengabdian masyarakat diarahkan pada masalah khas NTT. Seperti, optimalisasi lahan kering, pangan lokal, pakan ternak dan kesehatan hewan.

Melinda Rs Moata, dosen dan peneliti tanah dan SDA, melalui orasi ilmiah mengungkapkan, lahan kering yang luas di NTT dapat ditanami tanaman komoditi unggulan lokal. Seperti, pangan, holtikultura dan perkebunan.

Melinda menawarkan pendekatan circular economy dengan menggunakan kembali sumberdaya pertanian melalui reducing, reusing dan recycling untuk pembangunan pertanian berkelanjutan. (son/jdz)