Pesan dari Boleng, Pilih Pemimpin Bukan Karena Suku Tapi Kapasitas

BOLENG – Cagub NTT yang diusung Golkar, Nasdem, Hanura dan PPP, Viktor Bungtilu Laiskodat, Minggu (15/4), menggelar kampanye dialogis di Desa Mbuit, Keczmatan Boleng, Manggarai Barat. Ada pesan politik menarik dari Boleng bahwa rakyat NTT khususnya di Mangagrai Barat, tidak memilih pemimpin karena suku dan agama, tapi memilih berdasarkan kapasitas.

“Pa Viktor bilang bahwa hidupnya akan sempurna kalau dia sudah berbuat untuk masyarakat NTT. Ini merupakan momentum untuk kita berubah. Jadi kalau mau berubah maka pilihlah pemimpin tidak berdasarkan suku, tapi berdasarkan kapasitas, dan kriteria itu ada pada Victory-Joss” kata Ketua DPD Nasdem Manggarai Barat, Edy Endy, dalam orasinya.

Ia menjelaskan, masyarakat kecamatan Boleng bukan daerah baru bagi Laiskodat. Sebab. secara pikiran/gagasan Laiskodat sudah bersama masayarakat belasan tahun. Menurut dia, Kecamatan Boleng adalah daerah persawahan tadah hujan. Belum ada irigasi teknis di daerah ini. Pun, belum ada listrik PLN, padahal jarak dari Labuan Bajo dekat.

Untuk itu, Endi meminta masyarakat Kecamatan Boleng untuk tidak memilih pemimpin NTT berdasarkan kedaerahan, tapi berdasarkan program kerja yang bisa mengeluarkan NTT dari berbagai stigma buruk seperti sebagai provinsi termiskin di Indonesia.

“Jika ingin berubah, masyarakat harus berubah cara pikirnya. Pilgub bukan memilih kepala suku. Kita harus tanggalkan bahwa orang Manggarai harus pilih orang lain,” ujarnya.

Menurut dia, Viktor Laiskodat mau berkorban untuk NTT, makanya dia maju di Pilgub NTT. Padahal Laiskodat sudah punya nama di kancah Nasional.

Ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Yahidin Umar mengajak warga Boleng agar memilih pemimpin yang menjanjikan masa depan seperti Victory-Joss, yang akan menuntaskan jalan provinsi dalam tempo 3 tahun.

“Pilihlah pemimpin seperti Viktor Laiskodat dan Josef Nae Soi. Mereka berdua akan membawa NTT menjadi sejajar dengan provinsi-provinsi lainnya di Indonesia. Kalau Victory-Joss yang mendapat otoritas dari dari rakyat pada 27 Juni nanti, maka jalan provinsi akan selesai dalam tempo 3 tahun,” sebit Yahidin.

Sementara itu, Cagub Laiskodat dalam orasinya mengajak masyarakat memilih pemimpin tidak berdasarkan asal suku bangsa dan kesamaan bahasa tapi memilih karena kepeduliannya untuk membangun NTT.

Dia mengatakan, NTT merupakan Indonesia mini karena terdiri dari berbagai macam suku dan bahasa. “Kalau orang Manggarai pilih Manggarai, maka tidak akan jadi gubernur,” ujarnya.

Sebagai pemimpin, kata Laiskodat, NTT punya dua mantan gubernur yang fenomenal yaitu El Tari dan Ben Mboy. Fenomenalnya dua mantan Gubernur itu,kata Laiskodat, karena mereka rajin turun ke desa-desa dan melakukan pembangunan.

“Ketika saya mendapat otoritas dari rakyat, maka saya akan membawa NTT keluar dari stigma buruk sebagai provinsi termiskin, terbodoh dan terkorup,” jelasnya.

Ia menjelaskan, selain menuntaskan infrastruktur jalan provinsi dalam tempo 3 tahun, Laiskodat menyatakan sektor pariwisata adalah program utama Victory-Joss.

Menurut dia, sektor pariwisata merupakan lokomotif utama untuk menarik sektor pertanian, perikanan dan kelautan. “Pariwisata merupakan sektor yang menjadi penyumbang devisa bagi NTT,” tegasnya.

Manu Kapu

Disaksikan Tim Media, Cagub Laiskodat dan ronbongan diterima dengan adat Manu Kapu oleh tetua Adat di Desa Terang. Selain itu, hadir juga Ketua DPP PPP, Yahidin Umar, Ketua DPC PPP Manggarai, Andi Nur Cahya serta fungsionaris partai Nasdem Manggarai Barat.

Masyarakat yang sudah menunggu dari pagi sangat antusias dengan kedatangan Laiskodat. Setelah adat manu kapuk, kaum ibu juga menyambut dengan adat Tei Jeppa atau tarian memberi siri pinang. (tim media/jdz)