Headline

Perwira Teladan dari Tanah Papua

DI TENGAH ramai publik memperbincangkan drama Setya Novanto versus KPK yang dalam beberapa hari lalu menguasai panggung pemberitaan dan pergunjingan, ada satu fakta jauh di ujung Nusantara sana yang hampir saja terlupakan. Pada Jumat (17/11), pasukan gabungan TNI-Polri berhasil menyelamatkan dan membebaskan sebanyak 347 warga sipil di Kampung Banti dan Kimbeli, Distrik Tembagapura, Papua, yang selama beberapa hari sebelumnya disandera kelompok kriminal bersenjata (KKB).

Proses pembebasannya tentu saja dramatis, bahkan sebetulnya jauh lebih dramatis ketimbang adegan Ketua DPR yang menghilang dari rumahnya saat akan ditangkap KPK dan tiba-tiba besoknya muncul di rumah sakit karena mobilnya mengalami kecelakaan tunggal menabrak tiang listrik.

Ada juga heroisme ketika TNI dan Polri berbagi peran dengan apik dalam sebuah orkestra penyelamatan sandera yang berakhir sukses. Namun, itu semua hampir saja luput dari perhatian publik yang pada saat sama terbetot oleh kegaduhan politik dan hukum di Jakarta.
Termasuk nyaris pula kita melupakan sebuah pesan moral hebat yang ditunjukkan lima perwira TNI yang tergabung dalam pasukan pembebasan, yang belakangan menolak kenaikan pangkat luar biasa.

Menurut Mabes TNI, seharusnya ada 63 anggota TNI yang mendapat kenaikan pangkat luar biasa sebagai penghargaan Mabes TNI atas keberhasilan mereka menyelamatkan sandera dari cengkeraman penyandera. Akan tetapi, lima perwira tak mau menerimanya dengan alasan ‘keberhasilan evakuasi sandera adalah keberhasilan anggota; karena itu, selayaknya yang mendapat kenaikan pangkat hanya anak buah mereka’.

Sikap itu sebetulnya agak anomali. Di tengah kehidupan dunia modern yang kian dipenuhi manusia penghamba citra, ketenaran, pujian, dan pengakuan atas eksistensi dirinya, rupanya masih ada perwira-perwira rendah hati yang tak mengharap pamrih. Di zaman ketika orang lebih suka berbohong demi mendapat pengakuan dari pihak lain, ternyata masih ada teladan dari perilaku perwira yang jauh dari sifat egoisme dan oportunisme.

Lantas, teladan buat siapa? Tentu buat kita semua yang mungkin saat ini sudah terjangkiti sindrom miskin moral, hipokrit, dan hanya berorientasi pada harta dan kuasa. Perwira-perwira ini, yang belajar menjadi tangguh di medan pertempuran sesungguhnya, telah memberikan pelajaran bagi kita agar tak gampang diperbudak glorifikasi yang menyesatkan.

Penghargaan penting, tapi integritas lebih penting. Kita patut memberikan apresiasi kepada mereka, tetapi tak semestinya pula kita menjadi terharu berlebihan. Semua yang berlebihan, apalagi puja-puji yang overdosis, justru akan menjerumuskan isu itu menjadi dramatisasi murahan.

Kita pastikan saja bahwa sikap terpuji yang sudah dicontohkan para perwira itu bisa menjadi standar bagaimana kita berperilaku. Rakyat saat ini merindukan keteladanan. Itu sulit sekali mereka temukan dari para pemimpin dan elite negeri. Yang kini muncul justru teladan dari perilaku perwira menengah. Itu mungkin pertanda bahwa rakyat memang tak perlu lagi berharap keteladanan dari para petinggi, berharaplah keteladanan dari sekeliling kita. (miol/jdz)

Foto : Suasana pembebasan sandera di Papua.