Perempuan Lembata Jadi Sasaran Edukasi Kebencanaan

LEWOLEBA – Pemerintah Kabupaten Lembata menggelar Apel Siaga memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional, Senin (29/4/2019) di halaman kantor Bupati Lembata.

Apel dipimpin Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Lembata, Anthanasius Aur Amuntoda, SE, MM selaku Bupati Kabupaten Lembata. Turut hadir para pimpinan OPD, seluruh ASN dan PPN-PNS serta unsur relawan SAR.

Berdasarkan Keputusan Bupati No 174 Tahun 2019 Tentang Penetapan Desa Tangguh Bencana yakni desa tangguh bencana madya sebanyak 24 desa dan desa tangguh bencana pratama sebanyak 34 desa. Ini merupakan faktor kesiapsiagaan terhadap resiko bencana yang ditanam melalui masyarakat desa yang rentan terhadap bencana.

Bupati Lembata, Eliaser Yenji Sunur ,ST. MT dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Lembata, Anthanasius Aur Amuntoda, SE, MM mengatakan, sejak diterbitkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, disebutkan bahwa wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis yang memungkinkan terjadinya bencana, baik yang disebabkan oleh faktor alam, faktor non alam maupun faktor manusia, yang menyebabkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis yang dalam keadaan tertentu dapat menghambat pembangunan nasional.

Untuk Kabupaten Lembata sendiri memiliki empat gunung berapi tipe A, yaitu gunung api Batutara, Ilelewotolok, Ile Werung dan gunung Hobal, sehingga berpotensi menimbulkan gempa bumi dan tsunami di kabupaten ini. Untuk itu pemerintah daerah melaui BPBD yang bekerja sama dengan Lembaga LSM/NGO dan masyarakat dalam upaya terpadu untuk melakukan latihan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana, sebagaimana visi kebencanaan kabupaten Lembata, yaitu ketangguhan masyarakat di dalam menghadapi bencana. “Artinya masyarakat harus mampu meningkatkan kesiapsiagaan secara mandiri,” katanya.

Amuntoda mengatakan, terkait dengan Hari Kesiapsiagaan Bencana Tahun 2019, BNPB fokus pada pelibatan kaum wanita, sehingga tema besar yang diangkat adalah “Perempuan Sebagai Guru Bencana, Rumah Menjadi Sekolahnya”. Tema tersebut menjadi penggugah, sekaligus melihat realita bahwa perempuan sangat rentan menjadi korban bencana. Kerentanan perempuan menjadi korban bencana, ini dikarenakan sumber daya dan akses informasi yang cukup rendah, seperti banyak wanita yang kurang paham dalam hal informasi penanggulangan bencana. Sebab, simulasi/latihan kebencanaan cenderung diikuti oleh kaum laki-laki.

“Saya minta agar memberi penekanan lebih dan menyasar kepada kaum perempuan dengan memberikan edukasi kebencanaan kepada kaum perempuan, baik perseorangan maupun secara kolektif melalui organisasi kaum wanita di Kabupaten yang kita cintai ini,” ucapnya.

Diakhir sambutan bupati yang diwakili oleh Penjabat Sekda, Anthanasius Aur Amuntoda berharap, kaum perempuan juga bisa menjadi aktor yang meminimalisir jatuhnya korban jiwa akibat bencana. Dengan pemahaman kaum perempuan tersebut, diharapkan bakal mampu mewujudkan kesiapsiagaan keluarga sebagai pondasi ketangguhan masyarakat, Bangsa dan Negara terkhusus pada Kabupaten Lembata dalam menghadapi bencana.

Seusai apel kesiapsiagaan bencana dilanjutkan simulasi dengan evakuasi 10 korban akibat gempa berkekuatan 4,5 SR. (YAN/DINAS KOMINFO LEMBATA)

Ket Foto : Simulasi Penanggulangan Korban Akibat Bencana, Oleh Tim Relawan SAR, yang Tergabung dalam PMI,TRC dan Sahabat Bencana. di halaman Kantor Bupati Lembata, Senin (29/4/2019).