Headline

NTT Usulkan Jadwal Munas Golkar Kembali ke Periodesasi Normal

KUPANG, mediantt.com – Menyikapi bergulirnya wacana percepatan Munas Golkar yang terus menguat, Partai Golkar NTT mengusulkan agar Munas dilembalikan pada periodesasi normal demi menjaga soliditas partai di pusat dan daerah.

“Pembahasan dan pro kontra terkait jadwal munas dikembalikan pada periodesasi normal, sehingga tetap jaga soliditas partai di pusat maupun daerah. Sebab partai Golkar saat ini fokus dalam pembahasan dan penentuan pimpinan di lembaga legislatif, persiapkan menuju pilkada serentak 2020 dan agenda organisasi plus kaderisasi. Jadi tidak perlu ada percepatan munas dan kembali pada periodesasi, mekanisme plus jadwal normal,” demikian pernyataan sikap politik Partai Golkar NTT yang dituangkan dalam siaran pers yang diterima mediantt.com, Senin (27/5/2019).

Pernyataan sikap yang diteken Ketua Gollar NTT Melkiades Laka Lena dan Sekretaris Inche DP Sayuna ini menjelaskan, DPD PG NTT telah melaksanakan pleno tanggal 11 Mei membahas hasil Partai Golkar dalam Pemilu Pileg dan Pilpres 2019, yang melibatkan semua pengurus dan Wantim. Juga, melaksanakan rapat koordinasi DPD PG NTT tanggal 23 – 24 Mei membahas hal yang sama di Kupang, melibatkan semua pengurus DPD II se NTT, para caleg DPR RI, caleg DPRD Provinsi dan para caleg terpilih DPRD kabupaten/kota se-NTT.

Selain itu, DPP Partai Golkar telah melaksanakan silaturahmi dan konsultasi dengan Ketua dan Sekretaris DPD PG se Indonesia di Jakarta tanggal 19 Mei 2019, membahas hasil pileg pilpres 2019 di seluruh Indonesia, dilanjutkan buka puasa bersama Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla.

Ditegaskan, kesimpulan dalam dua pertemuan di DPD PG NTT dan juga di DPP Partai Golkar relatif sama, baik dalam aspek catatan hasil pileg 2019 dan rekomendasi untuk pilkada serentak 2020 dan pilpres 2024.

Catatan terkait hasil Partai Golkar dalam pileg pilpres 2019 antara lain a) dampak konflik intern Partai Golkar sejak era Aburizal Bakrie berlanjut ke terbelah dua kepengurusan dengan Agung Laksono berlanjut ke Setya Novanto lalu ke Plt Ketum Idrus Marham dan sekarang Airlangga Hartarto membuat konsolidasi internal tidak berjalan maksimal. b) energi dan waktu selama periode 2014 sampai 2019 habis hanya untuk selesaikan konflik kecuali periode terakhir dipimpin AH, suasana mulai lebih kondusif. c) kasus korupsi yg menimpa pimpinan partai baik di pusat dan daerah membuat citra Partai Golkar dan daya juang kader menurun.

Sementara itu, demikian Melki. catatan positif terkait pileg pilpres 2019 bahwa pertama kalinya Partai Golkar menang dalam pilpres sejak era reformasi. Sebab smua potensi Golkar solid bergerak di lapangan baik pengurus dan para caleg serta para senior Pak Akbar Tanjung, Pak Abirizal Bakrie dan Pak Agung Laksono.

“Suasana dan kerja Golkar kali ini lebih semangat untuk membuktikan Partai Golkar masih merupakan partai besar di Indonesia juga di daerah,” katanya.

Semua pihak menyadari keberhasilan Partai Golkar ditentukan oleh soliditas internal dan dalam masa kepemimpinan AH bisa merangkul dan menggerakkan berbagai pihak bergerak untuk kepentingan Golkar dan Indonesia.

“Pertemuan dua kali di DPD PG NTT dan DPP Partai Golkar memberi rekomendasi bagi pengurus DPP PG utk menata kembali organisasi dan kaderisasi sesuai dengan perkembangan zaman dan tuntutan rakyat. Periode kepengurusan berjalan normal dan tinggal diputuskan pembenahan dari atas ke bawah atau bawah ke atas,” tegasnya.

8. Pembahasan dan pro kontra jadwal munas dikembalikan kembali pada periodesasi normal sehingga tetap jaga soliditas partai di pusat maupun daerah. Partai Golkar saat ini fokus dalam pembahasan dan penentuan pimpinan di lembaga legislatif, persiapkan menuju pilkada serentak 2020 dan agenda organisasi plus kaderisasi.

“Jadi tidak perlu ada percepatan munas dan kembali pada periodesasi, mekanisme plus jadwal normal,” tegas Melki, caleg terpilih DPR RI di Dapil NTT 2. (jdz)