NTT Butuh Sentuhan ‘Playmaker’ Hebat seperti Josef Nae Soi

JIKA Provinsi NTT adalah sebuah lapangan sepak bola dan seluruh rakyat adalah pemainnya, maka Josef A. Nae Soi adalah playmaker yang mengatur tempo permainan, membagi si kulit bundar secara baik dan penuh perhitungan kepada para pemain depan agar provinsi yang identik dengan kemiskinan ini bisa mencetak gol dengan bangga.

“Saya ini dulu posisi midfielder. Jadi saya suka jelajah seluruh lapangan. Saya harus membagi bola itu merata ke seluruh pemain di depan. Kalau musuh defense saya over bola itu ke belakang. Mancing musuh yang di depan ke belakang, baru saya suruh mereka over bola ke depan, baru kami menyerang,” kata pemain Terbaik El Tari Cup tahun 1972 ini.

“Maksudnya, kami akan mengajak semua pihak (stakeholder) yang ada di NTT itu untuk membangun NTT. Ibarat NTT itu lapangan bola, sebelas anggota tim itu harus bekerjasama satu sama lain, dan sayalah yang mendistribusikan bola itu sehingga bisa gol. Hasilnya adalah kesejahteraan untuk masyarakat NTT,” jelas Josef yang akrab dipanggil Ose ini.

Lahir di Mataloko, sebagai anak ketiga dari pasangan petani Alosius Soi dan Lusia Deru Soi pada 22 September 1952, Josef telah menunjukkan jiwa kepemimpinan dan kemandiriannya sejak dini. Sang ayah meninggal tahun 1960 ketika Josef masih duduk di kelas tiga Sekolah Rakyat (sekarang SD) Katholik Mataloko.

“Saya tidak bisa lupa pesan ayah saya sebelum dia meninggal. ‘Anak, kamu boleh miskin harta tapi harus kaya martabat’,” kenang Ose.

Kepergian sang ayah membuat keluarga Josef hanya berharap pada sang ibu. “Saya kalau bicara ibu, saya selalu air mata berlinang. Kami masih kecil-kecil ibu saya harus bergerak dengan adik kandungnya yang sudah kami anggap sebagai ibu kandung sendiri. Mereka harus bekerja keras sehingga kami bisa begini ini. Orangnya tegas. Dia adalah seorang bapa sekaligus ibu bagi kami dan dia adalah pahlawan yang paling saya kagumi,” tutur Ose.

Sepeninggal sang ayah, Josef bersama lima adik dan dua kakak perempuannya turut mencari uang untuk meringankan beban ibunya. Setiap hari Josef bekerja mengambil makanan dari dapur susteran SSPS dan mengantar bagi para siswa di Seminari Mataloko sambil terus bersekolah di SR Todabelu 1 Mataloko yang berjarak sekitar seratus meter dari seminari Mataloko.

“Saya mengambil makanan di susteran dan bawa ke Seminari. Setelah itu saya langsung ikut sekolah pada pagi hari. Siang saya ambil makan lagi, sorenya saya belajar lagi. Lalu malam saya ambil bawa makanan untuk anak-anak seminari, lau saya belajar bersama-sama dengan mereka,” jelas Josef.

“Anak-anak seminari itu ada ratusan, jadi ada gerobak di dalamnya ada nasi dan lauk-pauk, ada periuk besar berupa tong, biasanya ada lima atau enam tong. Saya dorong gerobak ke seminari yang jauhnya sekitar 500 meter. Lalu saya bagi makanan untuk anak seminari. Saya cuci piring mereka lalu saya pergi sekolah. Dari pekerjaaan itu saya dibayar lalu uangnya saya berikan ke ibu untuk membiayai adik-adik saya,” katanya dengan logat Bajawa yang khas.

Dengan penghasilan itu Josef bisa melanjutkan pendidikan ke sekolah setingkat SMP yaitu Ambach Schole (sekolah kejuruan) milik kongregasi SVD di Mataloko tahun 1963, namun ia terus menjalani pekerjaan mengantar makanan bagi para siswa seminari.
“Pagi jam 6 saya ambil makanan dari susteran untuk diantar ke anak-anak seminari. Saat anak-anak seminari makan saya pergi ke asrama saya di Ambach School untuk mandi dan ganti pakaian. Terus kembali ke seminari saya cuci piring. Sehabis cuci piring, waktunya dari jam 8 sampai setengah duabelas saya ikut sekolah sama-sama dengan anak-anak seminari,” kata Josef.

Memang hidup Josef penuh keunikan yang ia sendiri kenang dengan senyum. Ia terdaftar sebagai siswa Ambach Schole tetapi belajar bersama-sama dengan siswa-siswa seminari dengan mata pelajaran yang sama.
“Saya tidak di dalam kelas, tapi saya di luar kelas, ada jendela yang terbuka, saya ada meja dan kursi khusus diberikan oleh Pater Boumans, SVD. Jadi saya di luar gedung tapi jendelanya terbuka sehingga gurunya ngajar saya dengar,” jelasnya sambil tertawa.

Josef mengikuti pendidikan di seminari sampai kelas 4 dan karena Seminari itu tidak melayani ujian resmi ala SMP ia harus melanjutkan ke SMP Negeri 1 Ende agar bisa mendapat ijazah. Di Ende ia lulus dengan nilai terbaik kedua.
Setelah menamatkan SMP di tahun 1967, Josef memilih masuk Sekolah Menengah Olahraga Atas (SMOA) di Ende. Namun ia terlambat sehingga harus mengikuti kelas percobaan tahun 1967-1969. “Orang sudah sekolah tujuh bulan saya baru masuk kelas satu. Tapi begitu ujian kenaikan kelas dua, saya lulus. Jadi semua orang sekolah tiga tahun saya hanya dua tahun dua bulan,” kenang Ose yang menamatkan SMOA pada tahun 1969.

Saat belajar di SMOA, Ose juga menjadi pemain kesebelasan PERSE (Persekutuan Sepak Bola Ende) dan ia dipilih mengikuti seleksi atlet PON di Stadiun Tambak Sari Surabaya. Selepas SMOA, Ose sempat bekerja sebagai guru olahraga di Seminari Kisol selama sebulan namun kemudian ia pindah ke Maumere menjadi guru Olahraga dan Biologi di SMA St. Gabriel dan SMEA Maumere. Kerja sebagai guru di kedua sekolah ini ia jalani sampai tahun 1972.

Di Maumere, jiwa kepemimpinan Ose terus diasah. Ia menjadi pemain sekaligus pelatih Persami Maumere dan tahun 1972. Saat itu Persami menjadi juara El Tari Cup dan Ose menyabet gelar Pemain Terbaik.
Sebagai pemain terbaik, Ose mendapat bonus Rp 38 ribu dari Bupati Sikka, Laurensius Say. Bermodalkan uang tersebut Ose bertolak ke Surabaya menumpang kapal Ratu Rosari dengan tekad melanjutkan pendidikan di Jakarta.

“Saya tidur di Soverdi selama tiga hari kemudian saya naik kereta barang langsung dari Surabaya ke Gambir. Sampai di Gambir tidak ada kenalan, saya langsung ke Soverdi di Jalan Matraman Raya 125. Seminggu di situ baru saya cari om saya di Tanjung Priok,” tutur Ose.

Setelah menetap di Tanjung Priok ia telah diterima di Sekolah Tinggi Olahraga (STO). Namun nasib mengatakan lain. Ketika berkunjung ke Universitas Atmajaya ia bertemu mantan gurunya di Maumere, Pater Josef Glinka, SVD. Pastor dan guru besar Antropologi Ragawi asal Polandia itu mendorongnya untuk melepas studi olahraganya dan masuk jurusan manajemen Atmajaya. Ia mengikuti nasihat mantan gurunya itu dan diterima dalam jurusan Manajemen di Atma Jaya di tahun 1974.

Kuliah di Atmajaya ia jalani sambil membiayai dirinya sendiri. Paginya ia bekerja sebagai guru Olahraga di STM Perkapalan Kosambi Cilincing Tanjung Priok, sore harinya ikut kuliah di Atmajaya. Dua tahun menjalani kerja sebagai guru, di tahun 1975 Ose diminta oleh Hary Tjan Silalahi untuk bekerja pada Center for Strategic and International Studies (CSIS).

“Dia bilang kau tidak usah guru di Tanjung Priok karena terlalu jauh, kerja saja di CSIS,” kata Ose mengingat permintaan Hary Tjan saat itu. “Kerja saya itu ringan. Saya baca koran kemudian membuat analisa buat pak Hary Tjan Silalahi dan pak Daoed Joesef.” Ose terus menjalani kuliah sambil bekerja di CSIS sampai tahun 1978.

Di kampus, anak Mataloko ini terus menanjak dan diakui kepemimpinannya. Setelah ia menjadi Sekretaris DPC PMKRI Jakarta (1973-1975), kemudian terpilih menjadi ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (IPK) Universitas Atmajaya (1975-1977) dan selanjutnya Ketua Umum Dewan Mahasiswa Atma Jaya tahun 1977-1979. Belum selesai studi sarjananya, Ose telah dikirim Atmajaya ke Universitas Leiden di Negeri Belanda untuk mengikuti short course Hukum Laut selama 9 bulan (1979-1980).

Menarik Perhatian Broery

Sekembalinya ke Jakarta, Ose hampir saja meninggalkan studinya. Seorang temannya di Atmajaya, Ria Marantika, adalah adik dari penyanyi Broery Pesulima. Saat Broery berulang tahun, Ria mengajak teman-temannya termasuk Ose ke rumah Broery. “Kami anak-anak muda, duduk di belakang main gitar. Begitu Broery dengar suara saya dia langsung ke belakang. ‘Itu suara siapa Ria?’ tanya Broery. ‘Teman saya,’ jawab Ria.”

Broery langsung mengajak Ose untuk mengikutinya bernyanyi keesokan harinya di night club Moon Light di Jalan Sabang. Setelah selesai di Moon Light, Broery mengajaknya ke night club Tropicana. Di sana mereka bertemu Chris Biantoro. Chris pun mengajaknya menyanyi di sejumlah night club. Namun jebolan kampus Hugo de Groot di Belanda ini akhirnya memilih dunia pendidikan. Aktifitas menyanyi di sejumlah tempat dihentikan dan ia memilih melanjutkan studi sarjananya, dan tamat tahun 1983.

Setahun setelah menjadi sarjana, Ose mempersunting gadis pujaannya Maria Fransisca Djogo, seorang perawat tamatan Akademi Carolus yang ia kenal di Jakarta. Pernikahan ini dikaruniai dua orang anak, Alfredo Sebastianus Soipili dan Justina Josepha Mamo Soi. Alfredo Sebastianus, yang diberi nama sesuai nama pemain sepakbola favorit ayahnya Marco van Basten, kini menjadi seorang pengusaha dan Justina Josepha baru saja menyelesaikan studinya di Universitas Padjajaran.

Di tahun 1987 ia menjadi dosen pada Akademi Litigasi Republik Indonesia (ALTRI) – Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Pengayoman Kehakiman Jakarta tahun 1987-2005. Puncak kariernya di dunia akademis adalah menjadi Pembantu Direktur III di Altri Kehakiman (2000-2005). Ilmu hukum laut yang didapatkan dari Belanda ia terapkan sebagai dosen di ALTRI.

Selama menjadi dosen, Ose tak henti memperdalam ilmu manajemen dan hukumnya. Ia antara lain mengikuti kursus Retail Management di Adelaide, Australia (1992), kursus Basic Safety Training, Survival Craft and Rescue Boat serta Advanced Fire Fighting di Rotterdam, Belanda (2002), serta kursus Port Management and the Law of Sea Malmo di Swedia (2003).

Pengalaman dan kematangan di bidang maritim dan hukum ini juga yang membuat Yasona H. Laoly, Menteri Hukum dan HAM kemudian mengangkatnya sebagai penasehat di Kementrian Hukum dan HAM di tahun 2014. Jabatan ini diembannya hingga 2019.

Masuk Politik secara Kebetulan

Hubungan yang baik dengan banyak orang membawa keberuntungan tersendiri bagi Ose. Saat menjadi Sekretaris DPC PMKRI Jakarta di tahun 1975-1976, ia sering bertemu dan bertukar pikiran dengan Akbar Tanjung yang saat itu adalah Ketua Umum HMI. Namun setelah ia aktif di Dewan Mahasiswa ia sudah tak bertemu Akbar Tanjung lagi.

Sekitar 12 tahun kemudian, yaitu tahun 1997, iseng-iseng Ose bersama beberapa teman termasuk Eky Syahrudin, mendatangi Musyawarah Nasional Luar Biasa Golkar di Hotel Indonesia. Di sana ia bertemu Akbar Tanjung dan di luar dugaan Akbar memberinya tanda pengenal dan menyuruhnya masuk ke ruang Munas sebagai peserta.

“Saya tidak tertarik sama sekali ke politik saat itu. Saat saya salaman sama Akbar, dia bilang ‘Sep you di sini?’ Saya bilang saya mau nonton. Kami dikasih tanda pengenal dan disuruh masuk. Saya kaget begitu Akbar terpilih, nama saya dipanggil sebagai salah satu pengurus pada saat itu. Apalagi kami harus maju ke depan jadi pengurus pusat Golkar,” kata Ose yang saat itu adalah dosen Universitas Atmajaya dan juga menjabat Pembantu Direktur III di ALTRI.

Di tahun yang sama berlangsung Pemilihan Umum legislatif dan Ose dicalonkan menjadi anggota DPR RI dari NTT, namun ia berada di nomor buntut dari 25 calon. Calon nomor 24 adalah professor Toby Mutis dan nomor 23 adalah Jendral Henuhili. Tentu saja sangat kecil harapannya untuk terpilih. Namun pada saat pengangkatan anggota MPR, Akbar justru mengangkat Ose menjadi anggota MPR.

“Saya nomor 25 tapi diangkat, nomor 23 dan 24 tidak ditunjuk tapi saya yang ditunjuk,” kata Ose.

Jabatan anggota MPR itu dari tahun 1997-1999. Di pengurus Pusat Golkar, Ose bertahan menjadi pengurus bidang keagamaan selama 16 tahun sejak ia masuk. Di tahun 2014 ia dipercayai menjadi wakil sekretaris jendral hingga saat ini.
Masuk politik tak mengurangi minat Ose untuk terus mengasah kemampuan manajerialnya. Tahun 1998 saat mulai aktif di Golkar, ia justru melanjutkan studi S2 Manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen LPMI Rawamangun. Studinya diselesaikan tahun 2002.

Di tahun 2004 ia dicalonkan lagi menjadi anggota DPR RI dan terpilih berturut-turut selama dua periode sampai dengan tahun 2014. Selama dua periode di DPR RI, Ose banyak berkecimpung di komisi yang membidangi infrastruktur, perhubungan, dan urusan percepatan daerah-daerah tertinggal.

Kepiawaiannya dalam melobi anggaran untuk percepatan pembangunan infrastruktur tak banyak diketahui. Salah satu yang patut diingat adalah bagaimana Ose menyelematkan dana bantuan dari pusat untuk pembangunan Bandara Mbay. Dana tersebut seharusnya dikembalikan ke pusat karena ada persoalan teknis yang belum jelas pada pemerintah daerah Nagekeo. Namun berkat kemampuan lobi seorang Josef, dana tersebut tetap dipergunakan untuk pembangunan Bandara Tambolaka di Sumba Barat Daya dan Flores Timur.

Minat Kemaritiman

Ose sudah tertarik mempelajari ilmu kemaritiman sejak studi ke Belanda. Tahun 2004 ia mulai aktif dalam International Maritime Organisation (IMO) di London. Indonesia telah menjadi anggota IMO sejak tahun 1961. Saking berminatnya, ia berangkat ke Konferensi IMO dengan biaya sendiri. Namun kemampuan lobbynya menyebabkan setiap dua tahun ia diundang sebagai delegasi dari Indonesia hingga tahun 2014.

“Saya tertarik dengan maritim itu pada saat pak Sudomo menjadi Mentri Tenaga Kerja. Dalam suatu diskusi ia mengatakan akan membenahi para pelaut. Kebetulan saya punya latar belakang kursus hukum laut. Maka berusaha dengan dana sendiri untuk ikut konferensi IMO pada tahun 2004,” kata Ose.

Kecintaannya pada kemaritiman jualah yang membawanya kembali ke NTT. “Kita ini kan negara maritim, kita memberi kepada dunia empat Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI): alur laut Selat Malaka, alur laut Selat Sunda, Alur laut Selat Lombok dan alur laut Selat Ombay di NTT. Kita memberikan itu kepada dunia dan kita harus mengatakan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara archipelagus terbesar.”
“Karena itu saya setuju dengan konsep pak Jokowi mengenai tol laut itu. Tetapi kemudian tidak hanya kelautan yang kita pentingkan tetapi maritim. Maritim itu menyangkut semua, pelabuhan, kekayaan alam yang ada di laut itu, itu maritim. Itu yang harus diberdayakan semua.”

Menurut Ose, Indonesia perlu memperjelas Zona Ekonomi Eksklusifnya agar mampu berdiri terhormat dengan bangsa lain di hadapan hukum internasional. “Contoh di NTT, kasus tumpahan minyak Montana, perusahaan di Australia yang mencemari laut kita, kenapa kita tidak bisa complain? Karena ZEE sudah tidak kuat dalam negosisasi internasional. Kita tidak punya ahli untuk menentukan ZEE. Itulah mendesak kami mau mendidik anak-anak kita ahli di bidang kelautan,” kata mantan Ketua Diklat Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) tahun 1997-2004 ini.

Meninggalkan Kenangan

Josep Nae Soi telah menjalani lapangan sepakbola kehidupan bagaikan seorang midfielder yang handal. Tak pernah mengeluh dan memamerkan diri tapi sekurang-kurangnya sudah sejumlah warisan hukum dan perundangan yang ia tinggalkan.
“Saya sudah di DPR pernah meninggalkan beberapa buah tangan undang-undang, tapi di eksekutif saya belum pernah meninggalkan sesuatu. Itulah yang membuat saya terpanggil untuk pulang ke NTT saya mau berbuat sesuatu untuk NTT sehingga masyarakat NTT akan mengenang pernah dipimpin oleh seseorang yang berbuat untuk NTT. Dan itu saya mau bekerja sungguh-sungguh dengan pak Viktor untuk membangun NTT,” kata lelaki dengan moto hidup “Fortiter In Re, Suaviter In Modo” (tegas dalam prinsip, ramah dalam cara) ini.

“NTT dari dulu dikatakan termiskin, terbodoh. Padahal NTT punya potensi SDA yang begitu bagus, kalau SDM tinggal digerakkan saja pasti bagus. Selama ini kami himbau kepada orang tapi sekarang kami, saya dan pak Viktor, himbau kepada diri sendiri untuk pulang menggerakkan orang NTT untuk bangkit dan sejahtera.”

“Pada saat pak Viktor telpon saya saya sedang berada di tanah suci, Israel, untuk memutuskan apakah menolak atau menerima tawaran posisi duta besar di sebuah Negara Amerika Latin. Saya putuskan pulang ke NTT,” ungkapnya.

Bagi Josef, Viktor Laiskodat adalah pasangan yang pas untuk maju sebagai pemimpin NTT. “Saya tidak akan mau jadi calon kalau tidak berpasangan dengan Viktor Laiskodat,” katanya di sejumlah kesempatan. Josef memang telah mengenal Viktor sejak tahun 2003 dan keduanya telah menjalani banyak hal bersama. Kini Viktor hanya memanggilnya dengan “Kaka Ose”.

Semoga Viktor bisa menjadi pemain depan yang tajam dan kaka Ose menjadi pengatur bola yang adil dan handal di lapangan sepakbola NTT. “Kami tidak mengenal gubernur dan wakil gubernur. Itu bahasa Undang-undang yang tentu wajib dipakai. Tapi dalam peran dan fungsi kami menggunakan istilah gubernur satu dan gubernur dua.”

Gubernur satu itu pak Viktor akan memperkenalkan NTT keluar, karena lokomotif kami adalah pariwisata. Dia akan mencari investor dari luar dan dana-dana dari luar untuk membangun NTT. Itu tugas beliau. Sedangkan sayalah yang mengelola pemerintahan sehari-hari. Mengelola birokrasi, administrasi kepemerintaha sehari-hari.

Kalau tidak begitu, NTT ini maju tapi maju di tempat. Pembanguan infrastruktur tidak bisa kita hanya berharap pada APBD yang hanya Rp 400 miliar. Harus mencari inisiatif ke luar. Dengan adanya Perpres NO 38/2015 dimungkinkan pemerintah bekerjasama dengan badan usaha untuk membangun infrastruktur. Itu tugas pak Viktor untuk cari uang, kalau sudah ada uang saya mengelola. Bagaikan mengover bola dengan benar dan tepat waktu,” jelas kaka Ose. (mvm/jdz)