NAMA PELEDANG atau PERAHU NELAYAN LAMALERA

Oleh : Yoseph Bruno Arkian Ulanaga Dasion SVD

RASANYA berat juga menuliskan catatan ini, pada saat-saat kerudung duka menyelubungi langit kehidupan seluruh masyarakat Lamalera, karena seorang Lamafa-nya mengalami musibah di laut pada saat berjuang mendapatkan rezeki Tuhan. Pencaharian sejauh kesanggupan manusia dan teknologi saat ini, telah
diusahakan sepanjang beberapa hari berbuah nihil. Sampai dengan saat ini, semua penghuni desa nelayan Lamalera, terus membubungkan doa-doa ke Langit, semoga mujizat bisa terjadi. “kalau boleh,” atas kehendak Tuhan, raganya yang tak bernyawa boleh kembali.

Dalam dunia dewasa yang melek ilmu pengetahuan dan teknologi, akan ada usaha untuk mengklarifikasi hal-hal yang bisa dipandang sebagai musabab terjadinya musibah ini.

Seturut adat orang Lamalera, telah diadakan upacara “Tutu Koda – Belu Koda” sebagai upaya mendapatkan sedikit sinar terang menuju akar dan musabab musibah. Meskipun, upaya adat ini sering tidak bisa dipahami kepala manusia yang selalu bermain dengan hukum-hukum logika modern.

Sebagai orang Lamalera saya perlu memberikan sedikit catatan adat sehubungan dengan “NAMA PELEDANG” atau “NAMA SAMPAN” para nelayan Lamalera, yang akhir-akhir ini semakin banyak mengalami perubahan, sehingga sering menjadi batu sandungan dalam memahami tradisi kenelayanan orang-orang Lamalera.

Munculnya nama-nama baru ini, oleh sementara pihak dinilai bahwa “barangkali secara adat” bisa menjadi sebuah alasan terjadinya peristiwa nas seperti ini.

Beberapa waktu lalu, di Bali, dalam sebuah acara temu-kangen, saya bertemu dengan sekelompok sahabat yang beberapa kali pernah berkunjung ke Lamalera. Mereka berkunjung kesana, setelah membaca banyak tulisan atau karena pernah mendengar cerita tentang kehidupan di Lamalera yang, nota bene, masih “tradisional.”

Menyebut kata “tradisional”, banyak orang hanya berkutat pada arti “kesederhanaan” alat-alatnya, atau karena tidak menggunakan tenaga mesin modern. Sementara saya sendiri lebih suka melihat kata ini dalam arti pentingnya yang menegaskan bahwa tradisi penangkapan ikan atau tradisi kenelayanan Lamalera itu sendiri “kaya dengan nilai-nilai kehidupan yang tidak hilang digerus kemajuan modern.”

Dalam kaitan dengan arti ini, maka segala bentuk usaha demi pemajuan dan perkembangan teknologi penangkapan ikan di Lamalera, antara lain, dengan mengadopsi tenaga mesin atau sarana teknologi modern lainnya, adalah hal yang wajar-wajar saja, dan harus diberikan ruang terbuka.
Namun, dengan catatan, agar nilai atau kebajikan-kebajikan tradisional yang bersifat mapan atau kekal, haruslah tetap dijaga dengan sebaik-baiknya. Dengan kata lain, Bungkus atau paketnya boleh berubah seturut jaman, tetapi ISI-nya tak boleh dikebiri.

Sehubungan dengan “kebajikan-kebajikan tradisional” ini, salah seorang sahabat mengeluhkan tentang nama peledang atau nama sampan Lamalera. Menurut dia, nama-nama tradisional peledang atau sampan di Lamalera itu selalu berhubungan dengan Manusia, Alam-lingkungan atau sebuah peristiwa historis yang harus diingat dan dikenang oleh semua orang Lamalera.

Baginya, nama-nama tradisional adalah apresiasi jiwa kenelayanan orang Lamalera yang arif-bijaksana, beriman dan manusiawi, yang selalu menomorsatukan kekerabatan dan kehidupan bersama sebagai satu keluarga besar. Nama perahu selalu menyangkut sekelompok orang atau keluarga besar atau suku. Bukan atas nama satu pribadi atau satu keluarga saja.

Ia mengimbu, bahwa, akhir-akhir ini, nama-nama peledang atau sampan terdengar sangat tidak enak, bukan hanya di telinga tetapi juga di hati. Bahkan, melihat dan membacanya saja pun tidak rela. Nama-nama baru sudah bernuansa ketamakan dan ingat diri seseorang atau satu keluarga.

Nama-nama, yang katanya sesuai dengan “Jaman Now” itu terasa sangat nakal, arogan, dan bahkan memiliki arti yang sangat bertolak belakang dengan semangat kenelayanan orang Lamalera.

Nama-nama tradisional selalu menyatakan sikap hidup para nelayan Lamalera, yang memandang laut dan isinya sebagai belahan jiwa yang harus dijaga, dihormati dan disegani, bukan sebagai lawan yang harus ditundukkan atau dimusnahkan. Prinsip hidup asali para nelayan Lamalera adalah “Ada laut, ada juga darat. Ada ikan, ada pula manusia dan kehidupannya.”

Ia menyebutkan sebuah nama perahu, yakni “Canibal”. Baginya, nama ini justeru bertentangan dengan pemahaman asli semangat kenelayanan orang Lamalera.

Saya langsung tertunduk malu….sangat malu. Karena orang-orang luar punya pemahaman yang begitu dalam tentang tradisi orang lain, sementara orang-orang yang punya tradisi, malah memberikan punggung bagi tradisinya sendiri.

Kita semua mengerti arti kata “Canibal”, yaitu sebagai gaya hidup sekelompok manusia yang berperilaku kejam, barbarik, yang sukanya merusak dan membunuh manusia atau nyawa makhluk hidup lainnya. Dalam lingkungan hidup kaum kanibalis, mereka yang bertindak kanibalis dipuja sebagai pahlawan sukunya, tetapi tidak untuk masyarakat manusia di era modern ini.

Sejauh yang saya paham, barangkali pengguna nama ini mengartikan dirinya sebagai pahlawan atau ksatria, namun sayang seribu sayang, hal ini sama sekali tidak mewakili kepahlawanan para Lamafa dan nelayan Lamalera yang punya tradisi kelautan tersediri.

Nama-nama yang kejam dan arogan ini, barangkali lahir dari salah paham generasi muda, yang tidak lagi melihat ikan paus atau ikan-ikan lainnya sebagai Berkat dari Allah, tetapi sekadar MUSUH yang harus dilenyapkan.

Saya ulangi sekali lagi, Nama-nama yang barbarik atau yang bernuansa kebinatangan dan kecongkakan adalah nama-nama yang tidak boleh disetarakan begitu saja dengan semangat hidup kenelayanan orang-orang Lamalera, yang teguh pada prinsip hidup nenek moyang, yaitu “Ola Ama Genne” dan “melaut untuk mencari rezeki dari Tuhan untuk para janda dan yatim-piatu.”

Hemat saya, itikad memberikan nama pada perahu atau sampan milik sendiri adalah kebebasan pemiliknya. Tetapi, saya sendiri menolak, kalau perahu atau sampan dengan nama-nama yang mencoreng jiwa dan semangat kenelayanan orang Lamalera tidak boleh diijinkan untuk diparkir di pantai Lamalera. Tingkah laku dan gaya para “nelayan baru” yang tidak patuh pada aturan dan tradisi kenelayanan Lamalera pun, tidak boleh dengan sendirinya disebut sebagai yang mewakili tradisi.

Penggunaan nama-nama seperti ini, boleh dimaknai sebagai sebuah gejala menurunnya kesadaran kenelayanan tradisional yang sarat makna simbolis dan kultural.

Cerita tentang hal-hal yang berhubungan dengan tradisi penangkapan ikan akan semakin panjang, kalau kita mau bicarakan juga soal doa-doa, pembagian ikan tangkapan, dan penomor-satuan para janda dan yatim piatu. Hal-hal mendasar seperti ini, konon, semakin diabaikan dan dilupakan. Penangkapan ikan-ikan di laut bukan lagi sebuah hal sakral. Yang sekarang ada hanyalah saling merampas rejeki dari Langit. Siapa cepat dia menang.

Laut semakin ribut dan gaduh dengan akting-akting para Lamafa murahan dan para nelayan tak beriman, hanya karena mau dishooting oleh kamera-kamera para pembuat acara-acara tayangan televisi.

Sudah tiba saat, semua pihak yang merasa bertanggungjawab atas keberlangsungan tradisi kelautan di Lamalera, dalam hal ini khususnya orang-orang Lamalera sendiri, harus duduk bersama untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai tradisional yang harus dilestarikan. Termasuk di dalamnya soal pemilihan nama untuk peledang atau sampan.

Berkembang dan menjadi maju itu BOLEH, tetapi tidak berarti menjadi bebas dan liar merusak tradisi.

Sambil berdoa agar saudara saya Lamafa muda berprestasi, Benyamin Blikololong, akan segera ditemukan dan segera kembali ke tengah keluarga, saya juga berdoa dan berharap agar tradisi kenelayanan Lamalera selalu dijaga dan dilestarikan sepanjang segala abad. (*)

Nagoya-Jepang.
12 Mei 2018