Kumulatif Ekspor NTT Tahun 2018 Alami Defisit

KUPANG, mediantt.com – Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, merilis nilai ekspor NTT pada Agustus 2018 mencapai US$ 1.561.107 dengan volume ekspor sebesar 5.995.02 ton, naik 11,52 persen dibandingkan dengan periode Juli pada tahun yang sama (2018), sebesar US$ 1.399.862. Nilai ekspor tersebut terdiri atas ekspor migas US$ 179.278 dan non-migas sebesar US$ 1.381.829.

“Namun, membandingkan secara kumulatif ekspor senilai US$ 11.799.565 terhadap kumulatif nilai impor US/ 166.624.686, maka neraca perdagangan luar negeri Nusa Tenggara Timur dalam tahun 2018 mengalami defisit sebesar US$ 54.825.121,” sebut Kepala BPS NTT, Maritje Pattiwaellapia, melalui konferensi pers, di aula BPS NTT, Senin (1/10).

Maritje menjelaskan, komoditas ekspor NTT per Agustus 2018 dikirim ke Timor Leste dengan nilai US$ 1.559.645 dan ke Singapura sebesar US$ 1.462. Komoditas terbesar yang diekspor adalah kelompok komoditas kendaraan senilai US$ 276.658.

Untuk impor, kata Maritje, total nilai impor NTT pada Agustus 2018 sebesar US$ 26.173.638 dengan volume sebesar 2.679.09 ton. Komoditas yang diimpor berupa mesin atau peralatan listrik didatangkan dari Jerman. Sedangkan pelabuhan pengiriman komoditas ekspor NTT dilakukan melalui pelabuhan Atapupu (Belu) dan Maumere (Sikka).

Perkembangan IHK

Melalui konferensi pers yang dihadiri para wartawan media massa, juga dijelaskan Kepala BPS NTT, Maritje Pattiwaellapia, soal perkembangan indeks harga konsumen periode September 2018.

Dia menyebut provinsi NTT mengalami deflasi sebesar 0.69 persen dengan IHK 131,24. Untuk dua kota lainnya yang menjadi barometer BPS NTT, yaitu kota Kupang mengalami deflasi sebesar 0,83 persen dan Maumere terjadi inflasi 0,27 persen dalam periode September 2018.

“Provinsi NTT pada September 2018 mengalami deflasi 0,69 persen setelah bulan sebelumnya Agustus 2018 mengalami deflasi 0,45 persen. Artinya, terjadi penurunan IHK dari 132,15 pada Agustus 2018 menjadi 131,24 pada September 2018. Terjadi deflasi ini disebabkan turunnya indeks harga pada kelompok pengeluaran bahan makanan, kesehatan dan transportasi,” ucap Maritje.

Menurut Kepala BPS NTT, deflasi di Provinsi NTT periode 2018 disebabkan adanya penurunan indeks harga pada tiga kelompok pengeluaran, yaitu bahan makanan, kesehatan dan transpor. Penurunan indeks terbesar terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 3,14 persen. Sedangkan kenaikan indeks harga, dicapai kelompok pengeluaran, yaitu kelompok perumahan dengan kenaikan indeks tertinggi 0,55 persen.

“Jadi, menurut kelompok pengeluaran, pemberi andil terbesar dalam pembentukan deflasi di NTT pada September 2018, adalah kelompok bahan makanan dengan andil negatif sebesar 0,75 persen, diikuti kelompok transportasi dengan andil negatif 0,11 persen. Sedangkan kelompok perumahan memberikan andil positif terhadap inflasi sebesar 0,14 persen, diikuti kelompok makanan jadi sebesar 0,02 persen,” papar Maritje. (son/jdz)