Headline

Kemiskinan di NTT Tidak Punya Korelasi dengan Agamanya Apa

ENDE, mediantt.com – Tekad Cagub NTT yang diusung Golkar, Nasdem, Hanura dan PPP, Viktor Bungtilu Laiskodat, mengingatkan bahwa kemiskinan dan penderitaan orang NTT tidak punya korelasi (berhubungan) dengan agamanya apa. Untuk itu, hanya orang-orang pengecut yang menjual identitas tertentu dalam kampanye.

Saat berkampanye di Desa Detupera, Kecamatan Lio Timur, Sabtu (26/5), Cagub yang berduet dengan Cawagub Josef Nae Soi ini mengatakan, NTT merupakan provinsi termiskin ketiga di Indonesia, juga merupakan provinsi terkorup. Karenanya menjadi Gubernur NTT tidak boleh menggunakan indentitas tertentu.

“Hanya pengecut saja yang gunakan isu indentitas dalam kampanye Pilgub. Karena menjadi Gubernur NTT itu untuk melayani saudara-saudara kita yang masih berada dalam kesulitan yang luar biasa. NTT tidak bisa kita bilang Protestan atau cari pemimpin Katolik. Sebab penderitaan orang NTT itu tidak berhubungan dengan agamanya apa,” tegas Laiskodat.

Menurut Viktor, menjadi pemimpin NTT harus berdasarkan kemampuan dan kecerdasan dari seorang pemimpin. Sebab menjadi pemimpin itu berhubungan dengan hati untuk melayani rakyat NTT yang masih berada pada garis kemiskinan.

“NTT mencari pemimpin yang pintar dan punya keberanian, pemimpin yang punya hati dan terpanggil untuk melayani masyarakat susah, pergi berkunjung ke desa-desa. Pemimpin yang mau melihat penderitaan dan memberikan kebangkitan dan masa depan. Kalau pemimpin NTT hanya Kupang-Jakarta, Kupang, Ende atau hanya masuk kota-kota kabupaten dan tidak masuk ke desa-desa, maka program macam apapun akan gagal,” tandas politisi Nasdem ini.

Ia mengatakan, tidak ada pilihan lain untuk gubernur dan bupati untuk mewujudkan visi misinya selain masuk ke desa-desa. “Pemimpin itu harus bisa menggelorakan semangat kebangkitan, karena semangat pembangunan itu bukan hanya bekerja saja. Tetapi juga propaganda bagi masyarakat bahwa ada masa depan dan harapan,” kata Viktor.

Ia juga mengatakan, NTT saat ini masih banyak pengangguran. Ada anak-anak NTT yang orang tuanya petani hebat, anaknya sekolah di Jawa tapi pulang NTT jadi penganguran. Itu terjadi karena pendidikan yang diambil tidak diarahkan untuk membangun, mengatur dan mengelolah sumber daya alam NTT.

“Kita kaya raya dan tidak ada yang miskin di sini. Tidak ada yang namanya NTT miskin, yang ada hanya karena kemampuan pemimpinnya yang miskin. Indonesia saja impor garam dari Australia padahal keadaan alam sama dengan NTT,” tegas mantan Ketua Fraksi Nasdem DPR RI ini. (tim media)