Headline

Ini Ritual Sakral Warisan Leluhur Memasuki Musim Lefa

‘Nyanyian Laut dari Lamalera’ kembali bergema. Ritual sakral warisan leluhur digelar lagi untuk memulai musim Lefa, atau musim penangkapan Ikan Paus tahun 2016. Ritual ini diharapkan dilakukan sebagaimana mestinya, tanpa dihilangkan. Ini dia ritual sesungguhnya itu.

Salah satu pewaris suku Langofujo, Yeremias Langufujo, mengingatkan semua anak Lamalera, warga Tena Laja, pewaris luhur tradisi ini, agar memasuki musim lefa yang mulai dikenal dengan Tahun Baru Lefo Lamalera, benar-benar mengikuti tahapan yang sudah diwariskan itu.

Pertama, tanggal 28 April 2016, para tua adat dari Lika Telo (Bataona, Lewotukan dan Blikololong), duduk bersama lalu mengirim utusan ke Langofujo untuk meminta kesediaan suku Langofujo, agar pada keesokan harinya, Jumat (29/4), turun ke pantai untuk menggelar musyawarah bersama yang disebut Tobu Neme Fatte.

Kedua, tanggal 29 April 2016 sore, sekitar pukul 16.00 Wita, dilangsungkan ritual Tobu Neme Fatte, persis di depan Kapela Santu Petrus, yang dipimpin oleh tua adat Lika Telo. Topik bahasan pentingnya adalah mengevaluasi hasil tangkapan musim lefa tahun sebelumnya, dan membangun komitmen dan harapan baru untuk musim Lefa 2016. Nah, mulai saat itu, laut menjadi terlarang, tidak boleh ada yang turun melaut, atau dalam bahasa Lamalera disebut Lefa pnurung, hingga dibuka kembali usai Misa Lefa, 1 Mei 2016.

Ketiga, Setelah Tobu Neme Fatte, utusan Lika Telo tanpa diwakili langsung berangkat ke rumah besar Lamamanu, sekitar 3 kilo dari Lamalera ke arah utara, untuk menyampaikan pesan dan keluh kesah kide knuke (orang susah) kedua kampung, Lamalera A dan B, sekaligus meminta fullu kajo lolo untuk para kide knuke yang sedang kelaparan. Selanjutnya, salah seorang utusan dari suku Lamamanu dikirim ke Langofujo untuk menyampaikan bahwa ada tamu dari Lefo Lamalera, yang sedang menunggu di rumah besar Lamamanu. “Bersama utusan dari Lamamanu tadi, orang-orang tua dari Langofujo bergerak menuju rumah besar Lamamany dan bermalam (balle) atau bergadang bersama Lika Telo dan tua-tua adat Lamamanu. Sekitar pukul 24.00 Wita, orang Langofujo nyekar ke makam dan mengajak semua leluhur untuk bergadang bersama-sama di rumah besar Lamamanu.

Keempat, tanggal 30 April 2016, menjelang subuh, utusan Lika Telo kembali ke Lamalera, sementara orang Lamamanu bergerak ke gunung menemui para leluhur untuk menyampaikan semua keluh kesah kide knuke itu, yang akan dirangkai dengan ritual inti Song Dongot atau Ie Gerek, persis di atas batu yang menyerupai ikan paus.

Selanjutnya, tanggal 1 Mei 2016 pagi, semua ritual dan seremoni adat itu disatukan dalam ekaristi kudus di depan Kapela Santo Petrus yang lasim disebut Misa Lefa. Usai misa Lefa, antara Praso Sapang dan Nara Tene, langsung melakukan lefa perdana yang populer dengan sebutan Tenna Fulle. Sore hari, setelah pulang dari Tena Fulle, dilanjutkan lagi dengan ritual penutup di depan kapela, yang disebut glekat tua dan fua malu, atau suku Langofujo dan Tufaona bertukar faja dan tuak.

Dan, tanggal 2 Mei 2016, pada subuh sebelum fajar terbit, Langofujo dan Tufaona kembali ke Kapela Santo Petrus untuk mengambil air berkat yang diletakan di depan patung Santu Petrus lalu direcikan ke semua peledang.
“Langofujo mereciki peledang yang berada di sebelah barat kapela, sementara Tufaona mereciki peledang di sebelah timur kapela. Hari itu juga, semua peledang mulai turun melaut sebagai pertanda Musim Lefa resmi dimulai,” kata Mias, dan menambahkan, “Inilah tradisi warisan leluhur yang tidak boleh diabaikan apalagi ditinggalkan”.

Yuk, yang mau ikut, silahkan datang ke Lamalera. (jdz)

Foto : Suasana ketika Peledang mulai turun melaut ketika musim Lefa sudah dimulai.