Gubernur dan Wagub NTT Bertekad Basmi Mafia Human Trafficking

KUPANG, mediantt.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dan Wakil Gubernur, Josef Nae Soi (JNS), bertekad akan membasmi secara tuntas mafia-mafia human trafficking di NTT. “Kami tidak henti-henti untuk menyelesaikan masalah ini dan memoratorium secara menyeluruh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal NTT,” kata Wagub JNS, setibanya di Bandara El Tari, Kupang, menggunakan pesawat Garuda Indonesia, pukul 21.10 Wita, Senin (8/10).

Wagub JNS tiba kembali di Kupang dari Medan, Sumatera Utara, dengan membawa tiga orang anak remaja wanita yang diduga menjadi korban perdagangan orang (human trafficking). Wagub disambut sejumlah pejabat Pemprov NTT, yaitu Kadis Sosial, Wellem Fony, Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), Erni Usboko, Karo Umum, Sakarias Moruk dan Karo Humas, Semuel Pakereng.

Tiga remaja wanita itu masing-masing berinisial TS (Belu), LS (Kabupaten Kupang) dan STP dari Kabupaten TTS. Ketiga remaja ini berangkat pada subuh (pagi hari) seminggu lalu dari Bandara El Tari, Kupang, menuju Surabaya, Jakarta dan tiba di Medan. Sewaktu tiba di Bandara Juanda, Surabaya, ketiga remaja wanita tersebut bertemu dengan Suster Laurentina (PI Penfui).

Kepada wartawan di Bandara El Tari Kupang, Wagub menjelaskan, sebenarnya ada empat orang remaja wanita yang berangkat ke Medan. Namun, satu orang belum terlacak keberadaannya. Dan pihaknya segera melaporkan kepada kepolisian untuk mencari tahu keberadaan seorang remaja wanita itu.

Menurut Wagub, awalnya informasi diperoleh dari Suster Laurentina yang bertemu ketiga remaja NTT di Bandara Juanda, Surabaya. Tapi Suster Laurentina setelah melihat gelagat anak-anak ini langsung mencurigai pasti ada hal yang tidak lumrah. Tapi Suster Lurentina bertemu mereka dan berpesan jika terjadi sesuatu maka segera telpon Suster Laurentina.

Selanjutnya setelah mereka tiba di tempat penampungan di Medan dan keesokan harinya mereka ke gereja, sambil menelepon Suster Laurentina dan Suster Laurentina menelpon temannya di Medan untuk menampung mereka, karena mereka sudah diperlakukan tidak wajar. Orang yang menampung mereka adalah Ibu Sinaga dan salah seorang warga negara India.

Kata Wagub JNS, setelah mendengar informasi dari Suster Laurentina, langsung menyampaikan hal ini kepada Gubernur Viktor Laiskodat dan beliau menyetujui untuk berangkat ke Medan menjemput ketiga anak tersebut. “Saya bertemu dengan orang yang menampung mereka dan memintanya untuk membawa pulang ke NTT,” ucap Wagub.

Ditanya wartawan, siapa yang merekrut tiga remaja itu, sebut Wagub, anak-anak ini tidak mengetahui nama perekrut dan anak-anak tidak mengetahui perusahaan perekrut TKI yang mana, tapi wajah orang itu mereka mengenalnya.

Wakil Gubernur JNS mengatakan, akan meminta bantuan pihak kepolisian untuk melacak pelaku perekrut. “Saya dan Pak Gubernur, bekerjasama dengan teman-teman yang bekerja di bidang Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk tidak henti-henti menyelesaikan masalah perdagangan orang. Namanya mafia-mafia, saya dan Pak Gubernur, akan terus kejar mereka,” tegas Wagub JNS.

Anak-anak ini, tambah Wagub, sudah dirayu oleh pelaku dan sudah memberikan pil anti hamil. Sehingga kalau sudah dikasih pil anti hamil arahnya mau kemana lagi. “Langkah selanjutnya anak-anak ini diambil alih Dinas Sosial dan DP3A untuk dididik supaya mereka punya ketrampilan dan ketika kembali ke rumah masing-masing selanjutnya bisa berkarya dan mandiri,” tuturnya.

Wagub JNS mengaku akan bekerjasama dengan pihak kepolisian dan pihak terkait untuk menuntaskan masalah human trafficking secara komprehensif dan terintegral. Juga bekerjasama dengan pemuka agama guna menyelamatkan anak-anak yang tidak berdosa ini.

Suster Laurentina menjelaskan, kepulangan Wagub JNS bersama tiga anak wanita ini atas kerjasama jaringan anti perdagangan manusia dengan Pemprov NTT.

Kadis Nakertrans NTT, Bruno Kupok, ketika dihubungi, mengatakan masalah ini menjadi tugas Dinas Sosial dan DP3A NTT karena soal human trafficking. (son/jdz)