Golkar Menjalani Politik sebagai Kerja dan Kerja untuk Rakyat

KUPANG, mediantt.com – Ketua DPD I Partai Golkar NTT, Melkiades Laka Lena, punya gebrakan politik yang cerdas dalam memanage Partai berlambang Beringin ini. Ia punya spirit yang seirama dengan apa yang selalu ditekankan Presiden Jokowi sebagai periode kerja. Karena itu, Melki menjadikan ini sebagai inspirasi dalam menahkodai Golkar NTT dalam spirit kerja dan kerja untuk membesarkan partai dan juga demi kepentingan rakyat.

“Golkar NTT dalam kepemimpinan saya adalah periode kerja. Sebab politik hari ini versi Pak Jokowi adalah kerja. Karena itu, Golkar NTT akan terus bergerak dengan berbagai kegiatan. Dan, apa yang sudah kami kerjakan akan kami paparkan secara terbuka ke publik,” kata Melki dalam acara buka puasa bersama wartawan dan pengurus Golkar NTT di Kantor Golkar NTT Selasa (12/6).

Dalam keterangan pers itu, Melki Laka Lena disampingi Anggota Fraksi Golkar DPRD NTT Ans Takalapeta, Gabriel Manek, Muhamad Ansor dan Nikson Mesak. Juga Skretaris Golkar Inche Sayuna, dan kader perempuan Liby Sinlaeloe, Megasari dan pengurus lainnya.

Melki menjelaskan, dalam spirit kerja itu seluruh jajaran Golkar, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota diajak berpartisipasi dan bergotong-royong memajukan golkar. “Memang ada yang protes tapi akhirnya semua ngerti dan mau kerja. Dana juga kita gotong-royong sehingga kegiatan konsolidasi bisa berjalan sukses tanpa ada utang,” tegas Melki.

Menurut Melki, Golkar NTT akan terus melakukan konsolidasi di semua lini. “Hari ini semua pengurus Golkar di desa siap memenangkan Victory-Joss pada Pilgub 27 Juni nanti, juga Pileg dan Pilpres. 90 persen semua siap sukseskan Pilgub dengan memenangkan Victory-Joss,” sebut Caleg DPR RI dari Dapil NTT 2 ini.

Melki juga mengaku memberikan ruang politik yang besar kepada orang muda dan perempuan, tanpa mengabaikan senior-senior golkar yang telah berjasa membesarkan Partai Golkar.

Dua Satgas Baru

Kepada wartawan Melki juga menjelaskan, selain Satgas Anti Korupsi dan Satgas Anti Human Trafficking yang telah dibentuk, Golkar NTT juga membentuk lagi dua Satgas baru, yakni Satgas Anti Narkoba dan Satgas Pembela Pancasila. “Satgas Anti Human Trafficking sudah berjalan dengan juru bicara Ibu Megasari. Malam ini Satgas kita terlibat menjemput jenazah TKI non prosedural asal Kabupaten Kupang dan dari TTS yang akan tiba hari Kamis,” kata Melki.

Ia menambahkan, Satgas Anti Korupsi juga telah berkonsultasi ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tentang formulasi pencegahan korupsi. “Kita akan bekerja sama dengan KPK dan Indonesian Coruption Watch (ICW) menggelar pembekalan tentang pencegahan korupsi kepada semua bakal caleg,” kata Melki.

Survei Caleg

Melki juga menegaskan, untuk mendapatkan caleg yang berintegritas dan punya elektabilitas yang baik, maka Golkar segera melakukan survei terhadap semua bakal caleg, baik caleg DPR RI, DPRD Provinsi maupun kabupaten/kota. “Survei dari lembaga independen ini akan jadi indikator penentuan. Hasil survei akan diberikan kepada setiap bakal caleg. Biaya survei juga berasal dari partisipasi semua caleg,” ujarnya.

Nonton Bersama

Menurut Melki, sebagai bagian dari keterlibatan Golkar dalam even Piala Dunia 2018, Golkar akan menggelar nonton bersama di kantor Partai Golkar NTT. “Selama turnamen Piala Dunia ini, Golkar akan gelar nonton bersama, tidak saja di propinsi tapi juga di kabupaten/kota. Golkar menjadi tempat bagi semua ekspresi bisa tumbuh, termasuk usaha kecil dan menengah,” tegas politisi berbesik ilmu Farmasi ini.

Ia juga menambahkan, ke depan Golkar akan memanfaatkan lingkungan kantor untuk mendapat dana-dana mandiri dengan usaha yang dikembangkan seperti lapangan futsal, dan pujasera (pusat jajan). “Kita akan kembangkan semua itu agar Golkar tidak saja menampakkan warna politik semata tapi dunia usaha juga bisa tumbuh,” katanya.

Ans Takalapeta mengatakan, Satgas anti narkoba yang dibentuk Partai Golkar NTT sejalan dengan Ranperda yang diajukan DPRD NTT Khususnya Komisi 5. “Sartgas Anti Narkoba ini seirama dengan sikap frakamsi di DPRD NTT,” kata mantan Bupati Alor ini.

Koleganya Gabriel Manek juga memaparkan sikap kritis fraksi golkar terhadap pemerintahan Frans Lebu Raya. “Ada upaya Pemprov NTT menekan human trafficking tapi regulasinya belum maksimal dilaksanakan. Lemah di pengawasan dan pengendalian sehingga masih ada persokongkolan jahat dalam mafia human trafficking. Pemprov juga tidak melibatkan lintas sektor dalam mencegah orang ke luar negeri,” kritik mantan Bupati TTU ini.

Ia juga cukup keras mengkritisi program anggur merah yang menelan dana sekitar Rp 800 miliar lebih. Kata dia, program ini tidak dilaporkan secara utuh dengan indikator pencapaian yang tepat. “Karena tidak ada laporan utuh, maka menimbulkan multi tafsir,” ujarnya. (jdz)