Felix Pullu, Politisi Lentur Hingga Usia Senja

Oleh : Frans Sarong
Wakil Ketua DPD Golkar NTT

GOLKAR masa Orde Baru adalah cerita kejayaan sebuah partai karena memang memiliki berbagai kekuatan pendukungnya. Struktur partai terbentuk dan aktif sampai tingkat desa/kelurahan, bahkan rukun tetangga atau RT. Rentangan struktur itu memudahkan pelaksanaan kegiatan konsolidasi secara cepat. Juga, tidak sulit mendapatkan kader berkualitas unggul serta biaya politik karena pegawai negeri sipil (PNS) atau aparat sipil negara (ASN) bersama militer satu langkah menyokong Golkar. Ibarat rumah yang mengandalkan tiga tiang sebagai penopang utamanya, bangunan partai tentu saja menjadi kuat bahkan sangat kokoh. Muaranya, Golkar dari pemilu ke pemilu selalu keluar sebagai pemenang dengan dukungan suara di atas 80 persen.

Cerita kejayaan itu sudah menjadi kisah masa lalu. Golkar pascareformasi, sebagaimana dilukiskan Felix Pullu, mengalami turbulensi berat. Ibarat ayam, dua sayapnya patah karena ASN dan juga militer harus menarik dukungannya. Dengan demikian, Golkar jadi single fighter, harus berjuang sendiri. Kondisinya pun bertambah runyam karena Golkar masih harus menghadapi berbagai persoalan pelik di lingkungan internalnya, disertai munculnya partai-parta baru.

Seperti juga pernah dilukiskan Ketua Golkar NTT, Melki Laka Lena, partai ini – terutama selepas masa Orde Baru – Golkar berkali-kali harus menghadapi badai hingga nyaris tumbang. Namun syukurlah. Apa pun tantangannya, Golkar tetap bertahan. Faktanya, Golkar tetap bercokol di tangga atas bersama PDI Perjuangan dan beberapa partai lainnya.

Meski begitu – lanjut Felix Pullu – kekuatan Golkar belum pulih. Kondisinya masih jauh dari kejayaan yang dicapai selama era Orde Baru. “Golkar membutuhkan energi baru untuk memulihkan kondisinya,” kata Felix Pullu, politisi lentur, yang ketika diwawancarai tim buku, Senin (3/12/2018), berusia 77 tahun.

Felix Pullu yang bergelar BA pendidikan dari IKIP Sanatha Dharma Yogayakarta (1969) dan Sarjana Hukum Undana Kupang (1984), adalah sesepuh Golkar NTT. Jejak politiknya berawal dari Partai Katolik Ngada. Posisinya sempat menjadi pelaksana tugas ketua selama hampir dua tahun (1969 – 1970), sesaat setelah ketuanya, Jan Jos Botha terpilih dan dilantik menjadi Bupati Ngada.

Menyongsong Pemilu 1971, Felix Pullu menjadi caleg Partai Katolik untuk DPR RI dari daerah pemilihan Ngada. Namun karena dirinya sudah berstatus pegawai negeri sipil, maka pencalonannya dibatalkan dan ia pun resmi bergabung dengan Golkar sejak tahun 1970. Pria kelahiran Lokolado, Ngada, 18 Januari 1941 itu, lalu dipercayakan sebagai Ketua Kelompok Karya Golkar atau Pokar (AMPI sekarang) Ngada. Pilihannya bersama Golkar bertambah menguat setelah menikah dengan Raymunda To Wea. Raymunda yang jebolan APDN Kupang (1976), adalah kader “kuning”. Ibu empat anak itu pernah dua periode menjadi anggota DPRD Ngada (1971-1982). Raymunda bahkan pernah menjadi Ketua Fraksi Golkar Ngada, selama kurang lebih tujuh tahun.

Bersama “beringin” dan langsung di DPD Golkar NTT, Felix Pullu terpilih menjadi anggota DPRD NTT selama empat periode, sejak 1977. Selama periode kedua dan ketiga, posisinya sebagai Wakil Ketua DPRD NTT. Pada periode ke empat, ia kembali menjadi anggota biasa karena Jan Jos Botha yang adalah Ketua DPD Golkar NTT, sekaligus dipercayakan sebagai Ketua DPRD NTT. Felix Pullu dan Jan Jos Botha sama sama dari Ngada, bahkan juga dari kampung yang sama, Mangulewa.

Felix Pullu memang politisi lentur. Sudah pensiun dari DPRD NTT sejak akhir 1990-an, kiprahnya sebagai politisi tak kunjung pudar. Salah satu buktinya, ia dipercayakan sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Golkar NTT sejak kepemimpinan IA Medah dan lanjut ke kepemimpinan Melki Laka Lena, sebagai Ketua Golkar NTT. Felix Pullu bahkan rela mendampingi sejumlah kelompok milenial dalam tim buku ketika harus mewawancarai sejumlah sesepuh Golkar lain di Kota Kupang dan sekitarnya.

Lewat Diklat

Bagaimana Golkar kini, ada baiknya juga mengutip Moh Ichsan Firdaus. Melalui tesisnya di depan penguji UI di Jakarta, 2015, ia menggambarkan era reformasi bagi Golkar menjadi babak baru. Kemenangan berturut turut dengan raihan sedikitnya 70 persen pada masa Orde Baru, belakangan terus surut bahkan tersisa hanya sekitar 14 persen suara pada Pemilu 2014. Kondisi itu terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya karena militer dan birokrasi – sesuai tuntutan reformasi – menarik dukungannya dari Golkar.

“Imbasnya, penguasaan Golkar di pemerintahan dan parlemen ikut melemah,” demikian Ichsan Firdaus melalui tesisnya berjudul: Desain Strategi Politik Partai Golkar Menghadapi Pemilu 2019.

Merespons kondisi itu, Moh Ichsan Firdaus menyertakan sejumlah saran. Di antaranya, perlu melakukan peninjauan ulang terkait doktrin “karya dan kekaryaan” Golkar, khususnya terhadap posisi Golkar pascareformasi dan hubungannya dengan eksekutif. Ichsan Firdaus adalah anggota DPR RI Fraksi Golkar periode 2014 – 2019, dari daerah pemilihan Jawa Barat.

Terkait kondisi Golkar yang melemah menyusul era reformasi, Felix Pullu menitipkan sejumlah saran lebih konkrit yang diharapkan menjadi sumber energi baru bagi Golkar terutama di NTT. Di antaranya, pembinaan kader harus mendapat perhatian serius. Kegiatannya dilakukan secara berkala melalui diklat khusus. Selama kegiatan agar menanamkan semangat militansi ber-Golkar yang ditunjukkan melalui PDLT (pengabdian, dedikasi, loyalitas dan tidak tercela). Melalui diklat itu wawasan dan ketrampilan para kader diharapkan meningkat. Melalui pembinaan itu pula para kader akan memiliki pemahaman secara baik tentang Golkar sekaligus meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya.

“Golkar juga harus mampu membangun dan mengajak kalangan pengusaha bergabung dengan Golkar. Mereka adalah kelompok khusus yang diharapkan bisa menopang ‘gizi’ Golkar,” tambah Felix Pullu.

Di Golkar NTT, sang tokoh satu ini sudah masuk kelompok sesepuh, seiring usianya yang sudah 77 tahun per awal Desember 2018. Namun ia tetap aktif berkat sikap politiknya yang dikenal lentur. Menariknya lagi, Felix Pullu tetap saja tampil beda dengan sesepuh lain seusianya. Lihat saja. Kondisi fisiknya masih segar, sehat, bahkan masih energik. Kebutuhan bertongkat khusus menopang tubuh di usia tua, masih menjadi bayangan di radius jauh. Setidaknya sekali seminggu masih bermain tenis dengan mitra akrabnya. Bahkan sisa jejak gaya penampilannya yang “flamboyan” masih menempel. Ia tidak hanya menjaga dandanan penampilannya, tetapi juga tetap piawai merangkai kalimat lembut dalam berinteraksi. Seperti seniornya, Titus Uly (alm), Felix Pullu adalah politisi lentur yang juga berkemampuan mengendurkan tensi politik di NTT. ***