Delapan Hektar Lahan di Kabupaten Kupang Siap untuk Deklarasi Kelor

KUPANG, mediantt.com – Lahan seluas delapan hektar di Kabupaten Kupang, siap untuk gerakan penanaman kelor. Hal ini sejalan dengan rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT mendeklarasikan Nusa Tenggara Timur sebagai provinsi kelor bertepatan dengan perayaan HUT NTT ke-60 pada 20 Desember 2018.

Lokasi yang telah ditentukan untuk penanaman kelor (moringa oleifera) terdapat di tiga desa, yaitu Desa Oefafi (dua hektar), Oeteta (tiga hektar) dan di Desa Pitai (Semau) seluas tiga hektar. Deklarasi tanam kelor melalui program Revolusi Hijau akan dilakukan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, bersama Wakil Gubernur, Josef A. Nae Soi.

Kepala Dinas Pertanian NTT, Yohanes Tay Ruba, di ruang kerjanya, Selasa (2/10), mengatakan, hingga saat ini berbagai persiapan mulai dilakukan. Diantaranya, menyiapkan benih (bibit) kelor sebanyak 30.000 anakan, lahan, kerjasama dengan pihak BPTP Naibonat soal grand desain pertanian, roadmap pengembangan kelor. Juga disiapkan dokumen RPJMD, Renstra dan pedoman umum tanaman kelor serta petunjuk pelaksanaan di lapangan.

“Untuk implementasi Revolusi Hijau tanaman kelor sebagai kebijakan teknis, kami lakukan melalui dua pola. Yaitu, pola inti dan plasma. Pola inti, ditanam diatas lahan dengan jarak tanam satu kali satu meter dengan populasi sebanyak 10.000 pohon kelor. Dilakukan secara intensif monokultur (tanaman khusus kelor). Tujuannya untuk bisnis dengan memanen daun dan pengeringan. Pola ini ditargetikan dari 40 hektar hingga 60 hektar,” jelasnya.

Sedangkan pola plasma, lanjut Tay Ruba, dilakukan penanaman kelor secara allegroping (tanaman lorong) di pematang dan di teras-teras kebun sehingga menghasilkan legum yang bisa menghasilkan netrogen alamiah. Pola plasma dilakukan secara monokultur pemberdayaan dan mandiri. Pola plasma juga bisa ditanami dengan tanaman pangan lainnya, seperti kacang-kacangan dan ubi-ubian. Ditanam dengan jarak tanam 2,5 sampai 4 meter secara berbaris, menghasilkan 400 pohon kelor per hektar.

Dia menjelaskan, gerakan penanaman kelor tahap pertama seluas delapan hektar di Kabupaten Kupang, dialokasikan melalui APBD Perubahan 2018. Pelaksanaannya melibatkan 100 orang tenaga keloris yang telah dilatih Wahana Visi Indonesia (WVI) bersama PT Moringa Organik Indonesia (MOI). Dan melalui APBD-P disiapkan pelatiahn kelor bagi 100 orang petani, di Blora, Jawa Tengah.

“Gerakan tanam kelor akan kami libatkan Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk menanam di pekarangan rumah dan juga di lahan petani sekaligus sebagai pendamping. Kami pun telah menggerakan seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lapangan untuk bekerja keras mendukung program Revolusi Hijau,” tandasnya.

Sesuai data, sebut Tay Ruba, terdapat luas lahan baku di NTT 4.736.984 hektar, lahan kering yang belum diolah seluas 3.638.030 hektar (belum diolah), lahan sawah 215.756 hektar, lahan pertanian 883.158 hektar dan potensi lahan kering seluas 534.313 hektar (sudah diolah).

Untuk diketahui, daun kelor bukan daun biasa. Tapi daun istimewa yang mempunyai banyak kandungan gizi. Bahkan organisasi kesehatan dunia (World Health Organization/WHO), menyebut kelor dijuluki sebagai pohon ajaib. Kelor memiliki kandungan vitamin C tujuh kali lipat dari kandungan vitamin C pada jeruk dan kalsium empat kali lebih banyak dari susu. (son/jdz)