Bupati Sunur Tetapkan Festival 3 Gunung Jadi Agenda Tahunan

LEWOLEBA – Festival 3 Gunung (F3G) yang kini sedang digelar di Kabupaten Lembata, akan menjadi agenda tahunan, sekaligus jmenjadi puncak dari semua festival yang digelar di kabupaten satu pulau tersebut.

“Ke depan, Festival 3 Gunung ini akan menjadi agenda tahunan di Kabupaten Lembata. Itu berarti promosi pariwisata harus gencar dilaksanakan sehingga bisa menyedot kunjungan wisatawan ke Kabupaten Lembata,” kata Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur, kepada Pers di Kuma Resort, Selasa (25/9/2018).

Asal tahu, tahun-tahun sebelumnya, Festival Budaya Lamaholot berjalan sendiri. Tapi mulai tahun ini dan ke depan, festival tersebut lekat menyatu dalam Festival 3 Gunung. Festival 3 Gunung ini menjadi payung atas beberapa kegiatan lainnya, seperti Festival Nuhanera, Festival Literasi dan lainnya.

Menurut Bupati Sunur, bila saat ini kegiatan tersebut diselenggarakan oleh pemerintah, maka ketika festival itu menjadi agenda tahunan, pemerintah akan mempercayakan seluruh rangkaian acaranya kepada penyelenggara.

“Itu artinya para pihak yang sekarang ini telah terlibat sebagai event organizer kegiatan ini, harus terus belajar agar bisa menjadi penyelenggara pada event yang sama pada tahun-tahun mendatang,” ujar Bupati Sunur.

Saat ini Festival 3 Gunung memang sedang berjalan. Tapi buah dari kegiatan tersebut mulai dirasakan masyarakat. Bahkan sejumlah wisatawan termasuk wisatawan mancanegara (wisman) telah tiba di Kabupaten Lembata. Selain menginap di hotel, wisatawan juga kemping di sejumlah tempat, terutama di destinasi-destinasi wisata di daerah tersebut.

Pada Senin (24/9/2018) malam, misalnya, puluhan wisatawan bermalam di kaki gunung api (Ile Ape) Lewotolok. Mereka melewati malam di tempat tersebut, karena pada Selasa (25/9/2018) dini hari, wisatawan domestik asal Jakarta tersebut, melakukan trekking ke puncak gunung api tersebut.

Lewotolok merupakan gunung api kedua yang ditaklukkan oleh wisatawan Jakarta tersebut. Karena pada Minggu (23/9/2018) dini hari, mereka berlayar sekitar dua jam lamanya dari Lewoleba menuju Batutara, sebuah gunung api yang letaknya di tengah laut.

Batutara merupakan gunung api dengan sensasi alam yang luar biasa. Pasalnya, setiap 20 menit, gunung api tersebut selalu memuntahkan lahar dan itu dapat disaksikan dari jarak dekat. Fenomena alam tersebut tak ditemukan di tempat lain di Indonesia, kecuali di Lembata.

Sementara satu gunung api lainnya yang juga akan didaki, adalah Ile Werung di Kecamatan Atadei. Sesuai kalender pariwisata Lembata, trekking ke Ile Werung akan dilakukan pada Rabu (26/9/2018).

Untuk sampai di Ile Werung, wisatawan akan menikmati dulu sejumlah atraksi di Watuwawer, yang selama ini dikenal sebagai satu-satunya dapur alam di Lembata.

Disebut dapur alam, karena masyarakat Lembata, terutama di Kecamatam Atadei, selalu memanfaatkan dapur alam itu untuk merebus ubi, kacang tanah juga membakar aneka jenis daging. Bila berkunjung ke Atadei, Anda sudah pasti akan disuguhi hidangan yang di antaranya dibakar di dapur alam Watuwawer.

Dan, bila Anda telah tiba di Ile Werung, maka Anda akan menyaksikan betapa indahnya alam Lembata, teristimewa di sekitar tempat tersebut. Dari puncak Bukit Baturaja, Anda akan menyaksikan betapa indahnya alam Ile Werung yang diberi gelar sebagai gunung Bromo-nya orang Lembata.

Lantaran pembangunan sektor pariwisata di Lembata dilakukan secara bertahap, sehingga pada tahun ini wisatawan mungkin hanya difasilitasi hingga di Ile Werung saja.

Padahal di sekitar Ile Werung, ada juga kisah misteri tentang Sodom dan Gomora. Di tempat itu ada batu yang menyerupai seseorang yang sedang berdiri atau biasa disebut sebagai Atadei.

Untuk sampai ke lokasi itu wisatawan harus melewati ujian maha berat, yakni melewati jalan setapak dan selalu diterjang badai gelombang pantai selatan.

Sesuai agenda Festival 3 Gunung, pada Rabu (26/9/2018), sedikitnya 6 pilot paralayang akan beraksi di Bukit Cinta. Event paralayang dunia yang berlangsung di Lembata ini, merupakan yang pertama kali diselenggarakan di Propinsi NTT.

“Nanti, ada enam orang pilot paralayang yang beraksi di Lembata. Agenda ini akan menjadi pengalaman pertama untuk ditentukan apakah Lembata bisa dijadikan agenda untuk ivent paralayang dunia.pada tahun-tahun mendatang,” ujar Owner Way2east, Adi Gerimu di Lewoleba, Selasa (25/9/2018) siang. (*/jdz)