Headline

Bupati Sunur Panen Garam Curah di Tapobaran, Harga Jual Rp 1.700

TAPOBARAN, mediantt.com – Geliat ekonomi petani garam di Desa Tapobaran, Kecamatan Lebatukan, bakal makin baik. Kamis (6/9), Bupati Lembata Ir Eliaser Yentji Sunur, melakukan panen perdana garan curah diatas lahan seluas 1 hektare milik warga. Garam itu akan dipasarkan untuk industri lokal di Lembata juga akan merambah pasar ke Flores Timur dengan harga Rp 1.700 per kg.

Disaksikan media, Kamis (6/9), Bupati Eliaser Yentji Sunur didampingi para pejabat OPD Lembata serta masyarakat Desa Tapobaran melakukan panen perdana garam curah, yang dikelola Dinas KUKM, Perindag Kabupaten Lembata.

Hadir dalam panen perdana itu Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur, Kepala Dinas KUKM dan Perindag Kabupaten Lembata Drs. Gabriel Bala Warat, para Kepala SKPD dan Camat Lebatukan.

Bupati Lembata dan Kadis KUKM di dampingi Para kepala OPD
mengawali panen raya garam, dengan secara simbolis mengambil garam dari lahan yang telah disediakan.

Kepala Dinas KUKM dan Perindag Gabriel Bala Warat mengatakan
total produksi garam curah diatas lahan seluas 1 ha yang dikerjakan dalam panen perdana menghasilkan sekitar 5 ton per 0,5 ha lahan, selanjutnya setiap 10 hari ke depan akan dipanen dengan target 1 bulan 3 kali panen.

“Untuk pemasaran garam curah ini akan dijual ke lokasi industri yang ada di Lembata seperti pabrik es batu, pabrik tepung ikan dan pabrik mutiara. Penjualan juga akan dilakukan sampai ke wilayah Adonara dan Larantuka di Kabupaten Flores Timur, dengan harga jual saat ini Rp 1.700/kg,” jelas dia.

Bupati Eliaser Yentji Sunur dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Desa Tapobaran dan pemilik lahan yang telah memberikan kontribusi kepada Pemkab Lembata.

“Jika seluruh masyarakat dan pemilik lahan yang ada di Lembata bertindak sebagaimana yang dilakukan masyarakat Desa Tapobaran, tentunya seluruh proses pembangunan dapat berjalan dengan baik di Lembata,” tegas Sunur.

Tentunya, jelas dia, pembukaan lahan garam di Kabupaten Lembata selain karena faktor potensi, juga bersinergi dengan kebijakan Pemprov NTT dan Pemerintah Pusat untuk menjadikan negara Indonesia sebagai pemasok garam terbesar yang dilakukan melalui sinergitas kebijakan implementatif antara kabupaten, provinsi dan pusat.

“Pemerintah menyediakan lahan yang clean dan clear dari persoalan, sedangkan pemerintah diatasnya mengintervensi anggaran sehingga membantu kabupaten,” kata Bupati Sunur.

Bupati Lembata juga menambahkan, “Saat ini dari rencana keluasan lahan 6 ha yang telah dipersiapkan di Desa Tapobaran, baru dikerjakan 1 ha dan proses produksi di TA 2019 akan terus dikerjakan”. (bata/jdz)