Headline

Bupati Deno Terdorong Wujudkan Ruteng sebagai ‘Kota Molas’

RUTENG, mediantt.com – Bupati Manggarai, Dr Deno Kamelus, tak tergangu dengan status Kota Ruteng sebagai kota kecil terkotor sesuai penilaian Adipura periode 2017-2018. Deno malah terima itu sebagai cambuk sekaligus dorongan untuk mewujudkan Ruteng sebagai Kota Molas.

Sebagaimana diberitakan, Kota Ruteng menjadi satu dari empat kota kecil dengan nilai paling rendah pada program penilaian Adipura periode 2017 – 2018. Ini
merupakan penilaian dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia (RI). Empat kota itu adalah, Kota Ruteng di Manggarai bersama Waikabubak di Sumba Barat, Waisai di Raja Ampat, Buol di Sulawesi Tengah dan Bajawa di Kabupaten Ngada.

Deno mengatakan, pengumuman penilaian Adipura oleh KLHK merupakan cambuk agar semua elemen di daerah ini membangun komitmen bersama dalam mewujudkan dan meningkatkan kebersihan kota.

“Itu jadi semacam cambuk bagi kita semua yang menghuni Kota Ruteng ini. Hasil itu didasarkan pada beberapa kriteria, mulai dari pembuangan sampah terbuka, partisipasi publik dalam pengelolaan sampah yang rendah, strategi pengelolaan sampah, sampai pada komitmen dan kebijakan anggaran. Dan hasilnya memang begitu. Yang perlu dipikirkan adalah langkah kita ke depan,” jelas Bupati Deno kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu (16/1/2019).

Bupati Manggarai optimis, langkah-langkah strategis terkait kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah akan lebih baik pada tahun 2019 ini. “Tahun ini kita alokasikan anggaran sekitar Rp 450 sampai 500 juta pada setiap Kelurahan, dan salah satu prioritas pemanfaatan adalah penataan lingkungan dalam mewujudkan kota yang bersih,” tegas Deno.

Menurut dia, intervensi pemerintah kelurahan akan dilakukan melalui pengadaan tempat sampah umum, pengadaan kendaraan roda tiga untuk pengangkutan sampah ke transfer depo, sampai pada sosialisasi terkait pengelolaan sampah rumah tangga.

Sementara itu, lanjut dia, secara umum untuk Kabupaten Manggarai, beberapa hal yang akan dilakukan adalah pembenahan fasilitas pendukung, penataan kembali tempat-tempat penampungan sampah, perbaikan dan pengadaan truk-truk sampah.

“Selama ini memang terdapat beberapa kendala, termasuk tiga dari empat truk sampah yang kita miliki itu rusak. Tahun ini saya minta kepada instansi teknis (Dinas Lingkungan Hidup) untuk segera perbaiki yang rusak dan mengadakan dua atau tiga truk pengangkut sampah baru,” katanya.

Deno berkomitmen, penataan transfer depo dan tempat penampungan sementara akan menjadi prioritas. “Saya juga sudah minta Pol PP untuk melakukan pengawasan pada beberapa titik yang selama ini dipakai sebagai tempat pembuangan sampah, padahal tempat itu sudah ditutup. Misalnya yang di kilometer lima menuju Watu Alo. Itu bukan TPA. Sudah ditutup,” tegasnya

Untuk diketahui bersama, sejak diberitakan tentang Ruteng dinobatkan salah satu kota terkotor, banyak warganet yang berharap agar segera dilakukan pembenahan. Selain menyorot langkah dan kebijakan pemerintah, kampanye aksi bersih-bersih sampah juga mulai dilakukan.

Bupati Deno juga berkisah bahwa aksi bersih sudah dilakukan sejak lama. Ia mencontohkan, warga di Kelurahan Lawir, Kecamatan Langke Rembong, melakukan aksi bersih sejak Agustus 2018, telah menyediakan tong-tong sampah di beberapa titik dengan jarak 10 sampai 20 meter.

Selain itu, kata dia, berbagai komunitas orang muda di Kota Ruteng juga melakukan kegiatan bersama ‘bersih-bersih kota’. Beberapa titik yang selama ini menjadi tempat kegiatan mereka adalah Mbaru Wunut, Patung Hati Kudus Yesus (kompleks Toko Tarzan), dan di lingkungan masing-masing.

Menurut Bupati Manggarai, aksi partisipatif tersebut hal baik yang harus terus ditingkatkan. “Seluruh warga kota seharusnya terlibat dan berpartisipasi untuk mewujudkan Ruteng ini sebagai Kota Molas. Mulai dari menyiapkan tempat sampah di rumah, belajar tentang pengelolaan sampah rumah tangga, sampai pada mendiskusikan langkah-langkah strategis agar bisa menghasilkan kebijakan yang mampu menangani soal (sampah) dengan baik,” katanya.

Menurutnya, “Kota Molas” adalah arah kebijakan dan kondisi ideal yang diharapkan. “Kerja-kerja kita (di bidang lingkungan hidup dan penataan kota) ini menuju ke sana. Ke Ruteng sebagai Kota Molas itu,” ungkap Bupati Deno, sembari menyampaikan ucapan terima kasih kepada kelompok-kelompok dan komunitas yang terlibat dalam mewujudkan Kota Ruteng yang bersih.

“Ini tanggung jawab kita semua. Hasil penilaian Adipura kemarin itu adalah cambuk bagi kita semua,” ujar Bupati yang selalu sigap merespons setiap persoalan di kabupaten itu. (kons hona)