Headline

BI Perkirakan Inflasi di NTT Meningkat pada Akhir 2018

KUPANG – Bank Indonesia memperkirakan tingkat inflasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada akhir 2018 akan mengalami peningkatan, yakni pada level 4,20-4,60 persen (yoy), jika dibanding dengan pertumbuhan inflasi pada 2017 hanya pada kisaran 2,55-2,95 persen.

“Secara tahunan, pertumbuhan inflasi pada akhir tahun 2018 diperkirakan akan meningkat pada kisaran 4,20-4,60 persen (yoy),” demikian hasil kajian ekonomi dan keuangan regional Provinsi Nusa Tenggara Timur yang diterima Antara di Kupang, Kamis (6/9).

Menurut Bank Indonesia, inflasi di NTT pada tahun 2018 diperkirakan meningkat dibandingkan perkiraan realisasi tahun 2017 sebesar 2,55-2,95 persen (yoy). Kondisi ini didorong oleh pembalikan arah, terutama untuk komoditas sayur-sayuran dan bumbu-bumbuan yang mengalami inflasi rendah dan beberapa kali mengalami deflasi.

Rokok dan tembakau turut menjadi pendorong inflasi tahunan 2018 seiring masih berlangsungnya kenaikan cukai rokok.Sementara itu, komoditas lain masih relatif stabil seperti daging ayam ras seiring dengan adanya penambahan pembibitan ayam (breeding farm).

Breeding farm atau pembibitan ayam merupakan salah satu usahapeternakan yang memelihara ayam indukan (parent stock) untuk menghasilkan bibit yang baik atau ayam indukan yang menghasilkan telur tetas.

Adapun komoditas sandang, kesehatan dan pendidkikan juga diperkirakan relatif stabil. Sementara, harga komoditas yang diatur oleh pemerintah (administered prices) seperti bahan bakar minyak, tarif dasar listrik serta angkutan udara, justru sering menyumbang inflasi tertinggi di daerah ini.

Pada tahun 2018 angkutan udara diperkirakan relatif stabil seiring penambahan rute penerbangan yang lebih banyak pada tahun tersebut.Potensi kenaikan inflasi diperkirakan berasal dari risiko kenaikan harga bahan bakar pesawat (avtur).

Dalam rangka pengendalian inflasi di tahun 2018, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi NTT terus meningkatkan koordinasi dengan seluruh pihak terkait hingga seluruh kabupaten/kota.

Pada tahun 2018, pemerintah merencanakan akan melakukan penjajakan pembentukan klaster hortikultura, karena sekitar 80 persen lebih, penyebab inflasi di Provinsi NTT berasal dari komoditas hortikultura seperti bumbu-bumbuan dan sayur-sayuran.

Dengan memastikan pasokan yang terjaga pada komoditas hortikultura, diharapkan dapat berkontribusi besar dalam meredam gejolak inflasi komponen bergejolak (volatile food).

Inflasi komponen bergejolak ini, umumnya dipengaruhi oleh shocks (kejutan) dalam kelompok bahan makanan seperti panen, gangguan alam, atau faktor perkembangan harga komoditas pangan domestik maupun perkembangan harga komoditas pangan internasional. (ant/st)