Headline

Angin Kencang Landa Kota Kupang, BPBD Masih Data Dampak Kerusakan

KUPANG  – Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Timur masih mendata kerusakan yang terjadi akibat angin kencang yang melanda Kota Kupang, Minggu (10/3).

“Kami belum bisa pastikan berapa banyak rumah penduduk yang mengalami kerusakan akibat bencana ini, karena tim BPBD sedang melakukan pendataan di semua kelurahan yang terdampak bencana,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Kupang Ade Manafe saat dihubungi Antara di Kupang, Senin (11/3).

Kendati demikian, menurut dia, BPBD telah menerima 100 laporan mengenai kerusakan rumah warga akibat terjangan angin kencang di Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Laporan yang masuk ke BPBD Kota Kupang untuk sementara sudah 100 laporan. Kami masih terus melakukan pendataan di lapangan,” ujar Ade.

Selain itu, menurut dia, aparat BPBD serta TNI/Polri dan Taruna Siaga Bencana berupaya membersihkan batang-batang pohon yang tumbang dari jalan raya. “Banyak pohon tumbang dan menutup jalan raya sehingga tidak bisa dilintasi kendaraan,” kata Ade.

Hujan lebat dan angin kencang yang melanda Kota Kupang antara lain dilaporkan menyebabkan pepohonan tumbang serta merusak rumah warga dan bagian dari Rumah Sakit Bhayangkara Titus Uly Kupang.

Fenomena Squall Line

Minggu (10/3), angin kencang disertai hujan deras melanda wilayah Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Akibatnya sejumlah pohon tumbang serta menimbulkan kerusakan puluhan bangunan rumah dan fasilitas umum.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut jika saat ini wilayah Kupang sedang dilanda fenomena ‘squall line’.

“Fenomena ini kami identifikasi sebagai ‘squall line’. Fenomena ini sangat berbahaya karena terdiri atas barisan awan cumulonimbus yang dapat mengakibatkan cuaca ekstrem seperti hujan deras, angin kencang dan badai guntur,” kata Forecaster dari BMKG Stasiun El Tari I Ketut Wardhana di Kupang, Minggu (10/3/2019).

Ia menjelaskan, squall line merupakan fenomena cuaca berskala lokal dari waktu tumbuh hingga punah atau berakhir selama sekitar 3-5 jam. Berdasarkan pantauan radar cuaca BMKG, pada sekitar pukul 11.14 WITA, squall line sudah memasuki fase punah, tetapi masih ada potensi cuaca buruk dan awan cumulonimbus.

“Hasil pantauan radar, kecepatan angin mencapai 44 knots atau 80 km per jam,” katanya.

Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya hujan deras disertai angin yang dapat menyebabkan pohon maupun baliho tumbang.

“Kami minta agar masyarakat tidak berlindung di bawah pohon jika sedang terjadi hujan disertai kilat maupun petir,” ucapnya. (ant/in)