Akbar Tandjung, Buku Jadi Pendorong Besarkan Golkar

Oleh : Sukma Nulik,

Wakil Sekretaris Tim Penulis

TOKOH Nasional dari Partai Golkar, Akbar Tandjung menyambut baik inisiatif DPD Golkar NTT menerbitkan buku khusus tentang jejak dan kiprah Golkar di NTT. Seturut pemahamannya, melalui buku itu siapapun nantinya akan mengetahui bagaimana kiprah Golkar NTT sejak pemilu pertama tahun 1971 sampai dengan tahun 2018.

“Saya menyambut baik, atas inisiatif penerbitan buku itu. Karena dengan buku itu diharapkan akan memberikan dorongan dan juga motivasi, sekaligus juga inspirasi dari tokoh-tokoh Golkar untuk membesarkan Golkar terutama menyongsong Pemilu 2019,” kata Akbar Tandjung ketika ditemui tim buku di Jakarta, awal Desember 2018.

Akbar berharap Golkar bisa kembali meraih kemenangan seperti yang pernah dicapai 2004 yang lalu. “Saya mengharapkan agar seluruh stakeholders partai bersama-sama turun untuk meyakinkan masyarakat bahwa Golkar adalah partai yang memiliki ideologi nasional sejak didirikan, 1964” harap Akbar Tandjung.

Ideologi partai Golkar tidak lain adalah Pancasila karena Sekber Golkar itu lahir dalam semangat memelihara, mempertahankan dan sekaligus mengamalkan Pancasila, UUD 1945 dan tegaknya NKRI.

Perkuat Kelembagaan Golkar

Akbar Tandjung adalah pemikir Golkar. Salah satu contohnya, ia berpikir keras bagaimana menyelamatkan Partai Golkar dari tekanan amat berat ketika masa transisi terjadinya era reformasi. Hanya parpol dengan kelembagaan kuat akan mampu survive (bertahan) menghadapi berbagai tantangan dan tekanan selama masa transisi. Juga hanya partai dengan kelembagaan kuat pula mampu berperan penting dalam proses konsolidasi demokrasi.

Golkar sudah membuktikannya. Tidak hanya berhasil lolos dari berbagai tekanan mengguncangkan menyusul terjadinya reformasi tahun 1998. Pada Pemilu 1999 – pemilu pertama era reformasi – Golkar mampu keluar sebagai pemenang kedua setelah PDI Perjuangan. Lebih mencengangkan lagi pada Pemilu 2004. Golkar malah kembali berjaya, keluar sebagai pemenang dengan raihan 24.480.757 suara (21,58 persen).

“Keberhasilan Golkar melewati tekanan masa transisi setelah terjadinya reformasi adalah bukti kuatnya kelembagaan partai ini. Kelembagaan partai harus mendapat perhatian serius agar tetap kokoh menghadapi turbulensi politik,”.

Setidaknya demikianlah pesan tokoh nasional dari Golkar, Akbar Tandjung melalui buku karyanya: The Golkar Way Surival Partai Golkar di Tengah Turbulensi Politik Era Transisi, (Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2007).

Bahan tulisan dalam buku itu bersumber dari disertasi Akbar Tandjung berjudul “Partai Golkar dalam Pergolakan Politik Era Reformasi: Tantangan dan Respons”. Disertasi itu ia pertahankan melalui ujian terbuka di UGM, 1 September 2007. Oleh tim penguji yang terdiri dari Prof Dr Irwan Abdullah MA, Prof Dr Ichlausul Amal MA, Prof Dr Mohtar Mas’oed MA, Dr Burhan D Mangenda MA, Prof Dr Bahtiar Effendy MA, Dr Praktikno Msos Sc dan Dr Nanang Pamudji, Akbar Tandjung dinyatakan lulus dengan predikat cum laude.

Ujian terbuka disertasi Akbar Tandjung 11 tahun lalu itu sempat diwarnai polemik terkait fenomena kepemimpinan saudagar dalam politik, khususnya dalam kepengurusan Golkar.

Kata Akbar Tandjung, orientasi kepemimpinan saudagar lebih bersifat jangka pendek. Juga lebih mengedepankan spekulasi bisnis, serta cenderung lebih menghargai hasil akhir daripada prosesnya. Corak kepemimpinn seperti itu cenderung mengabaikan penataan kelembagaan partai politik.

Diakuinya, yang dikritik bukan hak saudagar dalam berpolitik, mengingat apa pun latar belakang seseorang, ia mempunya hak politik yang sama. Namun dalam konteks kepemimpinan politik, pola pikir atau mind set saudagar tidak cocok dan tidak relevan dengan upaya penguatan kelembagaan parpol. Parpol bukan perusahaan yang dapat dijalankan dengan pendekatan bisnis untung – rugi. Parpol adalah suatu lembaga politik yang harus dikelola dengan mind set kepemimpinan politik, yakni yang memiliki idealisme, visi, hargai proses, change and continuity (perubahan dan keberlanjutan), serta berorientasi jangka panjang.

Partai Golkar merupakan kekuatan politik utama pendukung rezim lama, Orde Lama dan Orde Baru yang kemudian ditumbangkan oleh gerakan reformasi tahun 1998. Dalam berbagai kasus yang pernah terjadi di berbagai negara, partai pendukung kekuasaan ikut bubar mengikuti rezim yang digulingkan. Sebut misalnya The Communist Party of Ucraine (Ukraina), The American Popular Revolutionary Alliance atau APRA (Peru) dan The New Society Movement (Filipina).

Semuanya mengalami kemerosotan dan akhirnya bubar. Golkar tidak seperti itu. Menghadapi berbagai tantangan dan tekanan selama masa transisi, Golkar tetap mampu bertahan.

Lebih dari itu, Golkar bahkan berhasil meraih dukungan suara atau jumlah kursi yang signifikan di parlemen selama masa transisi. Catat contohnya pada pemilu pertama era reformasi 1999, Golkar mendulang 23.741.758 suara (22,44 persen) atau menempati posisi kedua setelah PDI Perjuangan.

Lebih mengejutkan lagi pada pemilu berikutnya, 2004, Golkar justru kembali berjaya, meraih kemenangan dengan raihan 24.480.757 suara (21,58 persen).

Akbar Tadjung yang mantan menteri di sejumlah kabinet dan Ketua Umum Golkar (1998 – 2004), mengakui jatuhnya kekuasaan Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998 membuat Golkar seakan kehilangan pegangan dan haluan politiknya. Masyarakat pun sempat bertanya-tanya tentang keberadaan Golkar. Situasi bertambah tidak menentu karena diikuti tekanan politik mendera Golkar. Berbagai kesalahan selama era Orde Baru ditimpakan kepada Golkar. Partai ini dianggap sebagai penyebab utama krisis 1997.

Sementara di internal Golkar terjadi keretakan. Golkar seakan berada di tepi jurang kehancuran. Seiring situasi tidak kondusif itu, sejumlah pengamat, politikus bahkan ilmuwan memprediksi bahwa Golkar akan segera bubar menyusul runtuhnya kekuasaan Soeharto.

Golkar Teryata Tetap Eksis

Kata Akbar Tandjung, keberhasian Golkar tidak lepas dari kesiapan partai mengelola perubahan yang terjadi. Golkar sangat beruntung karena sistem yang berlaku pada era Soeharto memungkinkan sumber daya manusia berkualitas berhimpun di Golkar. Dengan SDM istimewa itu memudahkan Golkar beradaptasi dengan lingkungan politik baru yang demokratis.

Kekuatan lainnya, tradisi konvensi dalam penetapan capres dan calon Ketum Golkar berdampak positif terhadap pemulihan citra Golkar. Juga karena pemimpinnya pada masa transisi gencar melakukan komunikasi di tingkat pusat hingga daerah. Tujuannya memotivasi dan membangkitkan semangat juang para kader. Dampaknya, para kader memiliki kepercayaan diri dalam menghadapi berbagai tekanan dan ancaman penghancuran partai.

Ditambah lagi pendekatan pemimpinnya tidak reaktif dan emosional saat harus menghadapi berbagai tekanan. Langkah bijak itu membuat Golkar terhindar dari konflik terbuka yang dapat merugikan partai ini.

Istimewa

Dr Daniel Sparringa dari Universitas Airlangga Surabaya, menulis kata pengantar buku Akbar Tanjung berjudul: The Golkar Way Surival Partai Golkar di Tengah Turbulensi Politik Era Transisi tersebut. Dia melukiskan, buku itu menjadi istiewa karena ditulis setelah terjadi reformasi. Alasan lainnya, karena bersangkutan dengan Golkar. Partai ini tidak hanya mampu bertahan dalam perubahan yang sangat mengguncang sebagai akibat terjadinya pergantian rezim, sepanjang 1998. Lebih dari itu, Golkar mampu melakukan sebuah transformasi yang sangat mendasar, yakni tranformasi Golkar menjadi sebuah parpol sesungguhnya dalam periode transisi ( 1994-2004).

Buku ini juga menjadi istimewa bukan karena berhasil menarasikan transformasi itu dengan bahasa para ilmuwan sosial. Keistimewaan lain karena penulisnya, Akbar Tandjung adalah seorang aktor politik yang memimpin proyek politik transformasi tersebut melalui slogan bernama paradigma baru. Paradigma itu menekankan konsolidasi dan penguatan kelembagaan di satu sisi serta pengembangan kepemimpinan demokratis di sisi lainnya. (*)