Tidak Ada Komputer, Peserta Ujian Nasional Belajar ke Lewoleba

WULANDONI – Ini berita buruk dari SMA Negeri Wulandoni. Meski sudah beroperasi sejak dua tahun lalu, sekolah tersebut tidak memiliki komputer yang bisa menunjang ujian nasonal berbasis komputer. Karena itu, para siswa perserta ujian nasional angkatan kedua harus belajar ke Lewoleba.

“Siswa/siswi SMA Negeri Wulandoni peserta ujian nasional, terpaksa diberangkatkan ke Lewoleba, ibu kota kabupaten Lembata, untuk mengikuti simulasi pemakaian komputer sebagai persiapan ujian nasional yang akan datang,” kata salah seorang guru SMAN Wulandoni, Paulus Suban Lamabela kepada mediantt.com, Kamis (7/11/19).

Ia menjelaskan, para siswa harus diberangkatkan untuk simulasi di Lewoleba, karena (ternyata) selama ini siswa/i SMA Negeri Wulandoni angkatan ke dua ini, hanya diajarkan teori untuk mata pelajaran tik komputer. “Sekokah (SMAN Wulandoni) tidak memiliki komputer,” ujarnya.

Menurut Suban, peserta ujian nasional berjumlah 50 orang itu terpaksa diberangkatkan karena sekolah tidak memiliki komputer. “Jadi untuk mengikuti ujian nasional berbasis komputer siswa terpaksa kita berangkatkan untuk latihan komputer di Lewoleba, dan pada saatnya nanti para siawa juga akan mengikuti ujian nasional di Lewoleba,” kata Suban.

Sementara itu, orang wali tua siswa SMA Negeri Wulandoni yang tidak mau namanya ditulis berharap, para siswa yang telah mengikuti simulasi komputer di Lewoleba, harus terus dilatih setelah kembali sehingga mereka menjadi terbiasa menggunakan komputer pada saat ujian nasional.

Ia juga mengkritisi sikap sekolah yang lebih mementingkan peralatan musik berupa drum band daripada komputer yang lebih bermanfaat.

“Kebutuhan yang sangat penting dan utama untuk SMAN Wulandoni adalah sarana komputer, bukan peralatan drum band,” kritik dia.

Keadaan yang sama juga dialami siswa SMK Kelautan Lamalera. Para peserta ujian nasional, 20 orang, juga harus mengikuti latihan atau simulasi dengan memanfaatkan sarana yang dimiliki SMPK APPIS Lamalera.

“SMK Kelautan Lamalera hanya memiliki 10 laptop sehingga yang kurang dipinjamkan dari para guru dan dari SMPK APPIS,” kata guru SMK Kelautan Lamalera, Feliks Kiwan Lamabelawa. (frk)