LAMALERA, Destinasi Wisata Dunia Yang Merindukan Akses Internet

Gerakan digitalisasi desa-desa ternyata belum merata diterapkan di Lembata. Sebab, masih banyak desa yang blank spot atau tidak memiliki koneksi internet.

LAMALERA sebagai destinasi wisata bahari dunia karena keunikan tradisi penangkaan ikan paus secara tradisional, sudah masuk kategori desa digital itu. Sudah ada blank spot, namun belum menikmati jaringan internet yang baik. Masyarakat termasuk wisatawan mancanegara kesulitan mengakses internet. Padahal, mereka membutuhkan jaringan internet yang baik untuk mengakses informasi dan keperluan promosi pariwisata.

Desa Lamalera terkenal memiliki sejumlah atraksi wisata yang unik dan menarik, dan yang paling diminati adalah penangkapan mamalia laut terbesar di dunia yaitu ikan paus menggunakan alat-alat tradisional. Tidak heran, jika setiap tahun ribuan wisatawan manca negara dan domestik selalu datang mengunjungi Kampung Nelayan di selatan Pulau Lembata itu.

Masyarakat di Kecamatan Wulandoni, khususnya di Desa Lamalera A dan B, sedang tidak nyaman berkomunikasi. Meski sudah ada tower Telkomsel, tapi jaringan internetnya amat buruk. Kondisi ini sudah berlangsung lama. Pihak Telkomsel diminta bertanggung jawab dan segera menjawab kerinduan warga untuk mendapat jaringan internet yang memadai.

Sejumlah warga di Kampung Nelayan itu menggerutu kesal karena jaringan internet yang buruk. Di tengah pesatnya kemajuan dunia digital yang telah menjangkau hingga ke seluruh pelosok, ternyata masih juga ada kendala jaringan internet. Warga kesulitan mengakses internet juga berkomunikasi via vidio call dengan keluarga atau sanak keluarga yang jauh.

“Sudah ada tower tapi jaringan internet di Lamalera sangat parah. Kita beli pulsa data percuma saja karena tidak bisa terpakai secara baik. Jaringan sangat lambat dan kalau loading bisa berjam-jam,” gerutu Kobus Glau, warga Lamalera A.

Kehadiran Tower Telkomsel tentu sangat membantu masyarakat untuk bisa berkomunikasi, juga mengakses informasi bagi mereka yang menggunakan handphone Android. Dan, memang hampir sebagian masyarakat di pedesaan sudah memiliki handphone pintar Android, yang terbilang mahal harganya itu. Namun tidak bisa dimanfaatkan secara optimal karena jaringan internet yang sangat buruk.

“Masyarakat di pedesaan dengan semangat menggunakan alat komunikasi berupa handphon dan sebagian besar handphone yang digunakan adalah tipe Android yang mahal harganya. Karena kami ingin berkomunikasi (vidio call) dengan keluarga yang ada di berbagai wilayah dan langsung tahu keadaan hidup mereka,” tutur warga lainnya, Ande Tufan.

Selain itu, menurut dia, dengan jaringan internet yang bagus, mereka juga bisa berkomunikasi langsung dengan anak-anak yang sedang belajar atau kuliah di tempat jauh. “Dengan jaringan internet yang baik kita mau video call dengan anak-anak yang jauh sehingga dapat mengetahui dengan jelas keadaan mereka,” ujarnya.

Soal pulsa data, sebut dia, tidak menjadi masalah, yang terpenting bisa berkomunikasi dengan keluarga atau anak-anak yang jauh. “Kami setiap bulannya membeli pulsa data dengan harga puluhan ribu rupiah, tapi pada 9 bulan terakhir ini kami merasa sangat tidak berguna karena jaringan yang buruk. Pengelolah tidak bisa memberikan pelayanan yang baik. Jadi kami minta agar di Lamalera jaringan internet diperkuat, setidaknya 3G,” harap mantan Kades, Yos Molan Dasion.

Di Kecamatan Wulandoni, ada dua tower yang sudah terpasang sejak beberapa tahun silam, yakni di Desa Lamalera A dan Desa Pantai Harapan, yang melayani 11 desa, namun jaringannya amat buruk.

“Kiranya dua tower Telkomsel di Kecamatan Wulandoni, khususnya di Desa Lamalera A dan Desa Pantai Harapan yang melayani sarana komunikasi di 11 desa, dapat dipasang alat yang lebih canggih misalnya 3G, agar semua orang bisa mengakses internet dgn baik. Kebutuhan administrasi di sekolah-sekolah pun dapat terakses dengan baik, tidak harus akses di kabupaten,” harap Valens Tukan, staf Pastoran Lamalera.

Seorang wisatawan berkebangsaan Jerman, Mr Calvin, yang sedang berada di Lamalera juga mengeluh soal buruknya jaringan internet. Ia mengaku kesulitan mengeksplore Lamalera dan keunikan tradisinya kepada rekan dan koleganya di Jerman, karena akses internet yang buruk.

“We had been in Lamalera for four days and had a special impression about the tradition of hunting whales, but when we wanted to distribute it to colleagues in Germany we couldn’t. We hope this internet problem can be resolved immediately by those who have the authority,” hopes Mr. Calvin, who is on vacation with three of his colleagues.

(“Kami sudah empat hari ada di Lamalera dan punya kesan khusus tentang tradisi memburu ikan paus, tapi ketika mau sebarkan ke kolega di Jerman tidak bisa. Kami harap masalah internet ini bisa segera diselesaikan pihak yang punya otoritas,” harap Mr Calvin yang tengah berlibur bersama tiga rekannya).

Penjabat Kepala Desa Lamalera A, Eman Lambo, ketika dimintai komentar di Kupang menuturkan, pihak desa sudah bersurat ke manajemen Telkomsel untuk menaikan kapasitas jaringan internet ke 3G, namun hingga saat ini belum ada jawaban. “Kami berharap pihak Telkomsel segera menjawab permintaan kita agar jaringan internet bisa normal,” kata Lambo yang berada di Kupang mengikuti Rakor bersama Gubernur Viktor Laiskodat. (frk/jdz)