Headline

Duo VBL-JNS, Ledalero dan Sumber Daya Manusia Berkarakter

“Saya tidak tertarik bangun rumah ibadah. Tapi saya tertarik bangun sistim pendidikan yang baik. Kalau bisa semua gereja di NTT berubah menjadi sekolah”.

HARI Minggu, 8 September 2019, Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere merayakan Hari Ulang Tahunnya yang ke-50. Sebetulnya, usia 50 tahun ini adalah usia pengakuan yang diberikan oleh pemerintah kepada pendidikan tinggi yang kemudian tenar dengan nama STFK Ledalero.

Mula pertama ketika diakui pemerintah tahun 1969, lembaga pendidikan calon imam ini menggunakan nama resmi Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Katolik (STF/TK) Ledalero. Seiring perjalanan waktu dan sesuai tuntutan namanya berubah menjadi Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK Ledalero. Nama ini terus digunakan dan bertahan hingga sekarang.

Tetapi jika merujuk sejarah, aktitivas belajar mengajar dan pembinaan sudah bermula sejak tahun 1932 di Mataloko, Ngada. Hasil kerja akademik angkatan-angkatan awal antara lain Mgr. Gabriel Manek, SVD (alm). Setelah beberapa tahun mengikuti pendidikan di Mataloko, tepatnya Rumah Tinggi (sekarang disebut Kema Tabor Mataloko), para frater angkatan-angkatan awal beralih ke Ledalero.

Proses pembangunan Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero dimulai pada tanggal 20 Mei 1937. Setelah semua fasilitas siap, proses pendidikan dan pembinaan pindah ke Ledalero hingga hari ini. Dan, tanggal ini adalah tanggal lahirnya Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero.

Sejak awal sejarahnya, panti pendidikan tinggi ini fokus menyiapkan para calon imam Katolik untuk kebutuhan internal gereja. Tetapi dalam perjalanan waktu dan sejarahnya, lebih banyak lulusan Ledalero menjadi awam yang berkiprah dan bekerja di berbagai medan bhakti. Dari 5.800 lulusannya sejak awal, sebanyak 19 orang di antaranya menjadi uskup, 1.822 jadi imam dan 3.788 awam. Sekitar 500 orang lulusannya bekerja sebagai pastor misionaris yang berkarya di lima benua.
Itu artinya sebagai pendidikan tinggi, Ledalero memberi andil sangat besar untuk menyiapkan sumber daya manusia di NTT, di Indonesia, bahkan juga di dunia yang terjun ke tengah dunia.

Dengan alasan inilah, duet Gubernur-Wakil Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat-Josef Nae Soi (VBL-JNS) menaruh perhatian penuh dan harapan besar dari lembaga pendidikan tinggi ini. Gubernur VBL, misalnya, sudah beberapa kali mengunjungi Ledalero. Tahun lalu, tepatnya Sabtu, 24 November 2018, VBL memberi kuliah umum di Ledalero. “Setiap kali hadir di Seminari Tinggi Ledalero ini, saya sangat senang karena pasti akan mendapatkan inspriasi. Saya pernah nginap di tempat ini dan berdiskusi secara mendalam tentang banyak hal,” kata VBL ketika memberi kuliah umum itu.

Ketika itu semua penghuni Ledalero, bahkan seluruh warga NTT, terkaget-kaget ketika VBL menandaskan, “Saya tidak tertarik bangun rumah ibadah. Tapi saya tertarik bangun sistim pendidikan yang baik. Kalau bisa semua gereja di NTT berubah menjadi sekolah.”
VBL pasti punya alasan melontar gagasan seperti itu. Bagi dia, iman harus diwujud-nyatakan dalam bentuk dan perbuatan konkret, dari yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dan perbuatan konkrit yang baik, kata VBL, hanya bisa dilakukan oleh manusia terdidik yang lahir dari sistim pendidikan yang baik.

Di hadapan ratusan mahasiswa dan para dosen ketika itu, VBL menggarisbawahi peran gereja dan lembaga-lembaga agama yang sangat strategis bagi pembangunan sumber daya manusia di NTT. “Ketika gereja menjadi sekolah, pastor, pendeta dan suster menjadi guru, maka urusan manusia beres. Gereja men-take over urusan pendidikan dan tugas pemerintah menjadi lebih ringan. Sumber daya manusia akan bagus, karena dididik oleh para suster dan pastor yang memiliki misi pelayanan. Butuh uang berapa, pemerintah penuhi. Visi melayani panggilan moral itu yang diutamakan untuk mentransfer knowledge dan karakter kepada anak didik. Kehadiran saya menantang itu. Urusan duit pemerintah yang cari. Kita bagi tugas,” tantang VBL.

Di mana-mana VBL selalu mengatakan, untuk segera bangkit dan maju, NTT butuh orang dengan mental kerja keras, cepat bergerak, dan berpikir out the box. “Kita butuh gerakan. Mungkin juga banyak pastor dan pendeta marah kepada saya, tapi coba merenung dulu sebelum marah saya. Saya selalu berpikir ekstrem dan kerja esktrem kejar ketinggalan sekian lama,” tandasnya.

Betul. NTT sangat butuh manusia dengan kualitas SDM yang hebat. NTT butuh manusia dengan karakter yang kuat. NTT butuh manusia dengan integritas diri yang teruji. Maka, lembaga pendidikan menjadi sangat vital. Lembaga pendidikan harus menjadi tempat persemaian untuk menempah dan mendidik SDM NTT yang hebat dan siap bersaing.

Bukan rahasia lagi kalau mutu pendidikan di NTT selalu buruk di tingkat nasional. Mutu pendidikan seperti itulah yang membuat NTT sering dilabeli sebagai provinsi bodoh, orang NTT itu bodoh. “Fakta bahwa mutu pendidikan NTT ada di bawah 10 besar Indonesia itu harus bikin kita malu. Bukan cuma gubernur yang malu. Tapi juga para uskup, pastor, pendeta, bupati, preman, polisi, tentara. Kita semua,” kata VBL.

Atas keberadaan, atas peran dan juga atas tanggung jawab serta partisipasinya menyumbang tenaga terdidik di NTT, VBL memberikan apresiasi yang tinggi ketika STFK Ledalero merayakan HUT ke-50, Minggu (8/9/2019) lalu. Duo VBL-JNS sendiri tidak hadir pada acara itu. Tetapi sesungguhnya keduanya ada ketika STFK Ledalero merayakan pesta emasnya. Ada itu lebih dari sekadar hadir. Ada itu tanda perhatian, peduli, dan punya compassion. Bukti bahwa VBL-JNS ada adalah mengutus Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT, Dr. Marius Ardu Jelamu, M.Si, dan Kepala Badan Keuangan Daerah (BKD) NTT, Zakarias Moruk hadir di Ledalero. Bukti bahwa VBL-JNS ada adalah menghibahkan dana bantuan Rp 500 juta untuk Ledalero.

Lebih jauh lagi, keberadaan VBL-JNS di Ledalero, perhatian terhadap Ledalero sarat makna dan punya pesan kuat. Maknanya ialah bahwa VBL-JNS adalah duet pemimpin NTT yang ingin menerabas sekat-sekat primordialisme yang kemudian meniup triumfalisme sempit yang nyatanya lebih banyak menghambat laju pembangunan daerah ini. Sedangkan pesan yang ingin disampaikan adalah keseriusan VBL-JNS membangun SDM NTT yang unggul dan survive di mana saja melalui lembaga pendidikan yang berkualitas.

“Tidak sedikit sumbangsih dari lembaga edukatif ini untuk berpartisipasi aktif mewujudkan generasi cerdas secara intelektual tapi juga cerdas secara spiritual. Ledalero telah memberi harapan penuh keyakinan untuk setiap anak-anak Nusa Tenggara Timur, bahwa daerah ini harus dibangun dengan semangat dan optimisme baru, harus dibangun dengan kerja keras dan pikiran cerdas disertai dengan doa yang sungguh-sungguh, bahwa apa yang kita lakukan selalu diberkati dan direstui oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Nusa Tenggara Timur menjadi Nusa Tanah Terjanji yang di dalamnya kita harus mengisinya dengan pengabdian yang tulus untuk majunya daerah ini, sehingga bisa sejajar dengan provinsi-provinsi lainnya di Indonesia,” kata VBL dalam sambutannya yang dibacakan Karo Humas dan Protokol Setda NTT, Dr. Marius Ardu Jelamu, M.Si, yang juga lulusan STFK Ledalero pada puncak acara Pesta Emas STFK Ledalero itu.

Dengan pernyataan seperti ini, VBL hendak menegaskan tentang peran penting institusi Gereja, baik Gereja Katolik maupun Gereja Protestan dengan denominasi-denominasinya dalam dinamika dan geliat pembangunan di NTT. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Para kepala daerah juga tidak bisa bekerja sendiri. Gereja, hirarki Gereja, para pemimpin umat, tokoh umat harus bergandengan tangan membangun NTT.

Dengan kata lain, kehadirannya beberapa kali di Ledalero, perhatian Pemda NTT yang besar terhadap Ledalero, dan juga lembaga dan institusi keagamaan, tak lain merupakan ajakan moral untuk bersama semua elemen masyarakat menemukan kembali visi tentang NTT yang lebih hebat, lebih baik melalui pendidikan. (Kerja Sama Biro Humas dan Protokol Setda NTT)