Headline

Komponis Lagu Gerejani Itu Telah Tiada

Talenta menggubah lagu rohani versi bahasa daerah baginya adalah bakat alami. Kapan saja dan dalam situasi apapun saya bisa gubah lagu rohani. Saya pernah ikut penataran menjadi komponis Lagu Gerejani yang dibimbing oleh Pater Anton Sigoama, SVD di Solor, Kabupaten Flores Timur.

SIAPA yang tak kenal sosok pemuda ganteng, Stanis Deri Burin, di kampung kelahirannya, Puor, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, puluhan tahun silam. Putra tunggal dari pasangan Mateus Kopong Burin dan Theresia Adang Wuwur ini terbilang cerdas dan punya talenta unggul. Bukan saja, ia seorang guru sekolah dasar. Tapi lebih dari itu, dikenal sebagai motivator pembangunan di desanya. Lebih dari itu, ia memiliki talenta menggubah lagu Rohani khas berbahasa daerah setempat. Namun lagu-lagu itu dikenal luas oleh umat di berbagai keuskupan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bahkan seantero Nusantara dan mancanegara. Tapi sayang, Sang komponis lagu rohani-gerejani yang kental bahasa Lamaholot itu telah tiada. Ia telah menghadap sang Khalik, Minggu, 3 Agustus 2019 di Desa Puor B, Kecamatan Wulandoni.

Anak petani kelahiran Desa Puor, 1 Juli 1927 itu mengikuti kursus ilmu Pertanian di Lela, Kabupaten Sikka ketika Tentara Jepang menjajah Indonesia pada tahun 1942, mengaku mengikuti saran seorang gurunya. “Betapa subur lahan pertanian di Desa Puor. Sangat rugi jika lahan pertanian di kaki Gunung Labalekan setinggi hampir 3000 meter itu tak dikelola maksimal dengan aneka tanaman komoditi pertanian dan perkebunan. Karena itu, kursus tentang ilmu pertanian menjadi pilihan,” pesan sang guru,Yoseph Badi Lango kala itu.

Sekolah Pertanian selama setahun pun sukses mengantarnya pulang kampong dan mulai bertani. Lahan subur di kampong itu, akhirnya ditanami aneka tanaman komoditi pertanian dan perkebunan.

Sebagai guru muda saat itu, Stanis Deri Burin juga dikenal sebagai penggerak pembangunan di desa. Ide dan gagasannya sangat membantu pemerintah desa dalam memajukan pembangunan di desa. Buktinya, ia pernah menjadi Ketua Lembaga Swadaya Desa (LSD) Puor. Konsep dan strategi membangun desa dengan system “barter” bahan bangunan dengan bahan pangan masyarakat menjadi pilihan tepat.

“Masyarakat ingin bangun rumah permanen, ditukar saja dengan bahan bangunan berupa semen, besi baja, paku, cat dan lain-lain yang disiapkan Pastor Paroki Lamalera, Pater Arnoldus Dupont, misionaris asal Belanda melalui tenaga operasional, Yos Belawa. Bersama Kepala Desa Puor, Yoseph Nusa Wuwur dan Sekdes, Markus Kedele Sakeng, Desa Puor maju pesat dengan rumah permanen keluar sebagai Juara Lomba Desa”.

Lulusan SDK “Ikan Paus” Lamalera tahun 1937 itu, mesti jalan kaki 6 Km dari Kampung Puor untuk bersekolah di Lamalera. Tahun 1940 ia melanjutkan ke sekolah Belanda, Vervool School (VS), selama dua tahun sebelum kursus pertanian di Lela, Kabupaten Sikka.

Usai pendidikan sekolah dasar, tentara Jepang pun masuk dan menjajah Indonesia tahun 1942. Ketika itu, ratusan anak muda Lembata direkrut Tentara Jepang sebagai “Tokuju”, relawan Bela Negara. Tak ketinggalan, Stanis muda juga masuk Tokujo. Tapi, tugas utama sebagai guru bantu di SDK Puor setelah tamat Sekolah Guru Bawah (SGB) dan Kursus Sekolah Guru Atas (SGA) di Larantuka, Kabupaten Flores Timur.

Sebagai seorang guru muda kala itu, Stanis Deri Burin aktif sebagai Ketua Dewan Stasi Santu Petrus Puor bahkan pernah menjadi Penasehat Dewan Paroki Santu Yosep Boto. Menariknya, tradisi hari raya Natal dan Paskah selalu dirayakan di pusat Paroki Boto, yang diikuti seluruh stasi. Tidak sekedar hadir merayakan “pesta keagamaan” itu, tapi tiap stasi aktif ikut pertandingan bola kaki, Volley dan Bulu tangkis. Bahkan lomba koor/paduan suara menjadi ajang menarik ekspresi lagu Rohani-Gerejani di saat perayaan Natal dan Paskah. Tiap stasi tak mau ketinggalan tampil dengan lagu rohani berbahasa daerah yang mengesankan.

“Tiap stasi bertekad menjuarai lomba koor dan ingin tampil menarik. Karena itu, saya mulai terinspirasi menggubah lagu bahasa daerah bernuansa religius untuk memuji Tuhan dan sekaligus dilombakan. Niat mulia menjadi penggubah lagu sebagai wujud ekspresi jiwa berkomunikasi dengan Tuhan terbukti sukses”, ungkap Stanis Deri Burin saat diwawancarai dua tahun silam.

Bakat Alami

Sejumlah lagu rohani meroket ketika itu dan hingga kini tetap lestari dimadahkan di setiap stasi, paroki dan bahkan di Keuskupan Nusa Tenggara yang tak pernah lekang digusur zaman. Komponis bertalenta, Stanis Deri Burin, sukses menggubah sejumlah lagu rohani. Diantaranya dengan judul, “Ema Maria” (Mama, atau Bunda Maria), “Tite Persaja” (Kita Percaya), “Tobi Nora Bao Doro” (Asam dan Beringin tumbuh memuji Tuhan), dan “Oh Tuhan, Oh Raja”. Dan masih banyak lagi lagu rohani yang tercecer belum dibukukan secara baik. Ini salah satu cuplikan lagu terkenal dengan judul, “Ema Maria”,

Koor : Ema Maria disenareng, disenareng.
Modi pana ponu dimoon kami
Dike gawe tede, dimoon kame e – e-ma
Ema disenareng, ema ata nimun o
Solo: 1. Ema ata nimun o. Liko jaga, doan susa ia tana ekan. Ema peten, ema sudi ana, ia o-o…. 2.Ema disenareng o…. Pana laran, gawe ewa, ia lewo tana. Ema peten, ema sudi ana, ia o – o.

“Talenta menggubah lagu rohani versi bahasa daerah baginya adalah bakat alami. Kapan saja dan dalam situasi apapun saya bisa gubah lagu rohani. Saya pernah ikut penataran menjadi komponis Lagu Gerejani yang dibimbing oleh Pater Anton Sigoama, SVD di Solor, Kabupaten Flores Timur. Antara lain diikuti banyak guru dari Dekenat Lembata termasuk guru Alo Bala (alm) dan guru Bernardus Bala Ladjar (alm),“ tutur Stanis Deri Burin yang menikah dengan gadis cantik asal Desa Lewuka, Aloysia Bribin Udjan tahun 1949.

Hasil perkawinan itu, melahirkan putra/putri berturut-turut, putri sulung, Yasinta Kewa Burin (alma), Edeltrudis Peni Burin, Yasinthus Tibang Burin, Maria Tuli Burin, Ursula Siba Burin, Redemta Adang Burin, dan Protus Donatus Kia Burin.

ST. Deri Burin sempat menduda sejak meninggalnya istri terkasih. Kemudian menikah lagi dengan Fransiska Peni Botoor dan dikarunia tiga orang putri yakni, Aloysia Bribin Burin, Elisabet Peni Burin dan Margaretha Kebang Burin. Ayah dari 11 putra-putri ini mengatakan, Pater Anton Sigoama, SVD bahkan merasa terkesan dengan lagu ciptaannya, “Tobi Nora Bao Doro” dan memintanya diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Namun, Komponis Stanis berdahli, tak mau diterjemahkan karena maknanya akan berbias dan tak menggugah lagi.

Inspirasi sebagai komponis juga terilhami juga oleh situasi kehidupannya ketika itu, sang istri jatuh sakit bertahun-tahun. Bung Stanis Deri Burin hanya berpasrah pada Tuhan. Menggubah lagu rohani baginya adalah berdoa kepada Tuhan. Berkomunikasi kepada sang Pencipta dan pemilik kehidupan. Kiranya, beban sakit sang istri boleh mendapat kesembuhan dari Tuhan. Rupanya kehendak Tuhan lain dan menjemput ajal sang istri terkasih. Situasi hidup sebatang kara ini makin mengilhaminya sebagai komponis lagu Gerejani bernuansa bahasa daerah setempat.

Pelopor Pembangunan Desa Puor

Stanis Deri Burin, saat meninggal dunia usianya 93 tahun, usia yang melampaui usia bonus ajaran Alkitab. Biasa disapa STD Burin atau “Bapa Gur Stani-Bapa Stani”. Gagasan membangun Desa Puor dilakukannya dengan sistem barter. Terobosan yang luar biasa penuh resiko karena berbiaya tinggi ini tidak menyurutkan semangat dan mimpi para tokoh inovatif desa termasuk para pendidik yang saling bahu membahu memajukan desa berbasis potensi lokal. Apalagi intervensi anggaran dari negara yang dikenal dengan nama dana Bangdes yang hanya 100.000/tahun. Sementara harga komoditi kemiri di pasar Lewoleba adalah Rp 300/Kg. Itu pun jalan kaki selama satu hari untuk menjual komoditi dimaksud karena sentuhan pembangunan infrastruktur jalan baru menjangkau wilayah ini di tahun 1990-an. Karena itu, kemiri hanya digunakan untuk suplay penerangan malam yang dikenal dengan nama “Pad Mulan”.

Desa Puor yang hampir 60 persen wilayah merupakan penghasil komoditi kemiri, rupanya menjadi inspirasi cerdas, Stanis Deri Burin yang didukung berbagai pihak menggagas dan melahirkan kelembagaan produktif milik Desa Puor yang disebut Lembaga Sosial Masyarakat Desa disingkat LSD. Bahkan, ST.D. Burin diangkat menjadi Ketua LSD Puor kala itu. LSD ini kemudian mengembangkan dua unit produktif milik desa yakni unit Pertokoan yang dikenal dengan Kios LSD yang menyediakan sembilan bahan pokok (sembako) non lokal. Sementara unit yang satunya adalah Penumpukan Komoditi Rakyat jenis kemiri dengan harga Rp 200/Kg. Dibawah kendali St. Deri Burin, LSD kemudian membangun jaringan pemasaran dengan Desa Lamalera. Malah komoditi kemiri tersebut dibarter dengan bahan bangunan berupa Semen yang digunakan untuk membangun rumah penduduk di Desa Puor.

Itulah sepenggal kisah sang guru dan komponis ternama Flobamora bahkan Nusantara karena lagu ciptaannya sering dinyanyikan di Jakarta dan kota besar lainnya di Indonesia. (Karolus Kia Burin)