Headline

Natal Memuliakan Kebinekaan dan Keberagaman

NATAL sesungguhnya menghapus ketakutan. Kelahiran Isa atau Yesus sejatinya menjadi simbol pembebasan manusia dari ketakutan. Akan tetapi, kekhawatiran, bila tak boleh disebut ketakutan, menghinggapi bangsa ini menjelang perayaan Natal. Kita khawatir Natal tak berlangsung damai.

Pembubaran kebaktian Natal di Bandung, Jawa Barat, menjadi salah satu pemantik kekhawatiran kita. Sweeping atau penyisiran atribut Natal yang terpantik oleh fatwa Majelis Ulama Indonesia melipatgandakan kekhawatiran kita. Kita khawatir intoleransi makin meluas di seputaran Natal.

Ancaman teror di perayaan Natal mengubah kekhawatiran menjadi ketakutan. Bukan apa-apa, intoleransi merupakan akar terorisme. Syukurlah, Natal kemarin berlangsung damai dan khidmat. Natal sungguh-sungguh telah mengenyahkan kekhawatiran dan ketakutan dari diri kita.

Itu antara lain disebabkan Polri menindak kekerasan bernama penyisiran. Pemerintah Kota Bandung juga menin­dak ormas intoleran yang membubarkan kebaktian Natal. Intoleransi walhasil tak meluas. Polri juga menggagalkan rencana teror malam Natal dengan menangkap sejumlah terduga teroris dan menyita bom yang mereka persiapkan. Bahkan hingga kemarin Polri masih menangkap sejumlah terduga teroris di Purwakarta, Jawa Barat.

Kita mesti mengapresiasi Polri setinggi-tingginya. Ketika di masa lalu sering dituduh absen, Polri kini hadir di tengah-tengah aksi into­leran untuk menindaknya berdasarkan hukum. Lebih hebat lagi, Polri berhasil mencegah terorisme ketika negara-negara lain, seperti Jerman dan Turki, kecolong­an sehingga menjadi korban terorisme.

Kita juga layak mengapresiasi rakyat kebanyakan yang telah menunjukkan sikap dan tindakan saling menghargai di perayaan Natal tahun ini. Rakyat saling berucap, “Selamat Natal.” Bahkan kaum muslim ikut berjaga-jaga di sejumlah gereja di Maluku, Papua, Simalungun, Sumatra Utara, Nusa Tenggara Timur dan berbagai tempat lain. Kita tak meragukan toleransi dan kebinekaan sebagian besar rakyat Indonesia. Mereka yang meneriakkan penyeragaman dan menolak keberagaman hanyalah komunitas kecil yang berisik.

Dalam konteks ini, kita selayaknya mengenang Riyanto, anggota Banser NU Cabang Mojokerto, Jawa Timur, yang tewas memeluk bom ketika berjaga-jaga di Gereja Eben Haezer pada malam Natal 2000. Tindakannya telah menyelamatkan jemaat gereja. Riyanto ialah pahlawan kebinekaan.

Setelah kita menyaksikan dan mengalami damai dan khidmatnya Natal tahun ini, bangsa ini boleh optimistis bahwa toleransi dan kebinekaan kita masih terawat. Natal membuktikan kebinekaan dan toleransi membawa kedamai­an dan persatuan, bukan perpecahan.

Berulang kali kita katakan bahwa kebinekaan ialah sunatullah, hukum alam, fakta sosial. Bila kita menentang hukum alam, musibah akan menghampiri kita. Tiada jalan lain bagi kita kecuali memuliakan keberagaman. Memuliakannya berarti menjadikan keberagaman sebagai berkah. Natal menjadi bukti betapa bangsa ini memuliakan kebinekaan dan keberagaman tersebut. (mi/jdz)

Foto : Ilustrasi