Headline

DeMAM, Cara Cerdas Mengubah Wajah Desa di NTT

KUPANG – Program Desa Mandiri Anggur Merah (DeMAM) telah berjalan lima tahun, sejak dilaunching tahun 2011. Ini menjadi spirit dan solusi terbaik dari Gubernur NTT Frans Lebu Raya mengubah wajah NTT dari desa, juga mengeluarkan NTT dari stigma miskin, tertinggal dan terbelakang.

Sebuah Program yang digalakkan oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Frans Lebu Raya telah mengubah ribuan wajah desa miskin di Propinsi tersebut. Program bernama Desa Mandiri Anggur Merah (DeMAM) itu telah membuka banyak lapangan kerja, mengurangi angka pengangguran, dan menekan jumlah tenaga kerja (TKI) tidak terampil ke luar negeri.

Frans Lebu Raya mengakui, Program DeMAM telah berhasil memberikan dampak positif terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat NTT yang berada di desa-desa. “Program ini cukup efektif untuk memberdayakan masyarakat NTT yang tinggal di desa-desa dengan infrastruktur sangat minim,” ujar Frans Lebu Raya kepada wartawan.

Program Desa Mandiri Anggur Merah telah membantu di 585 Desa yang menyebar di wilayah  NTT dengan jumlah tenaga kerja sebagai fasilitator atau penyuluh sebanyak 585 orang. Desa  yang mendapat program Desa Mandiri Anggur Merah terus bertambah setiap tahun karena program itu memberikan dampak secara langsung kepada masyarakat dan masih banyak desa yang sangat membutuhkan program itu.

“Program tersebut sudah direplikasi oleh para Bupati dengan tujuan yang sama membantu masyarakat di NTT,” kata Frans.

Frans Lebu Raya meminta dukungan semua pihak, termasuk pers, untuk menyukseskan program ini karena program tersebut untuk mengentasan kemiskinan di daerah ini. “Di samping itu pengembangan desa pariwisata terus dikembangkan serta peningkatan pertanian, peternakan dan nelayan demi memperkuat ketahanan pangan di wilayah ini sehingga masyarakatnya sejahtera,” kata Frans Lebu Raya.

Karena terbukti efektif menyelesaikan berbagai persoalan sosial ekonomi di desa, Frans pun bertekad melanjutkan Program DeMAM ini. Namun, Frans mengubah strategi dengan mentransformasi DeMAM menjadi koperasi. Alasan Frans, sebagai badan hukum, koperasi lebih kuat secara legal formal.

Selain itu, menurut Frans, koperasi sebagai organisasi sosial ekonomi rakyat lebih efektif menggerakkan dan menjaga solidaritas komunitas di desa yang masih kuat semangat kebersamaan dan kekeluargaan.

“Mulai tahun 2015, kami mendorong desa-desa yang menerima Program DeMAM untuk bertransformasi diri menjadi koperasi,” ujar Frans kepada Majalah PIP di Kantor Gubernur NTT menjelang Perayaan Hari Koperasi 12 Juli 2015.

Ubah Wajah Desa

Kisah sukses Program DeMAM tergambar dari kisah Ahmad, seorang petani dan nelayan Desa Dikesare Kecamatan Leba Tukan Kabupaten Lembata, Desa yang mendapat bantuan dana sebesar Rp 250 juta dari program Desa Mandiri Anggur Merah di Kabupaten Lembata.

“Sebelumnya kami hanya bisa merantau ke Malaysia mencari kerja untuk membiayai kehidupan keluarga dan biaya sekolah anak. Hal tersebut mendapat banyak masalah di Negeri jiram itu. tetapi kini kami telah mendapat pekerjaan yang mendatangkan keuntungan besar lewat program ini,” jelas Ahmad kepada Poskupang.com.

Ahmad bercerita, kelompoknya yang berjumlah 10 orang menanam rumput laut. Hasilnya sangat bagus. Di samping itu, mereka juga tetap menjalankan profesi sebagai nelayan mencari ikan.

“Kami sangat berterima kasih karena kami diberi berkah melalui program tersebut. Masyarakat  tidak lagi merantau ke Malaysia. Sebab kalau merantau maka akan kehilangan kesempatan untuk berusaha di kampungnya sendiri,” tutur Ahmad.

Masyarakat berlomba-lomba berusaha karena dana sudah disiapkan di Desa. Kalau mau berusaha bisa pinjam dengan bunga yang sangat rendah.

“Merasakan sendiri sebab kami mendapat pinjaman, dalam waktu yang singkat  atau satu kali panen saja kami langsung melunasi pinjaman itu. Kami disini bisa menanam tiga sampai empat kali. Saat ini anak kami bisa sekolah ada juga kuliah di Kupang, beli motor, pasang listrik di rumah, perbaiki rumah dan kebutuhan rumah tangga terpenuhi,” ungkap Ahmad.

Solusi Atasi Kemiskinan

Gubernur Frans Lebu Raya juga menegaskan, program DeMAM yang diluncurkan pada 2011, dipandang sebagai salah satu solusi terbaik mengeluarkan NTT dari stigma miskin dan tertinggal.

“Jadi selain 8 agenda dan 6 tekat pemerintah daerah NTT saat ini, kami terus membenahi berbagai hal seputar program Desa Mandiri Anggur Merah sebagai salah satu program yang menyentuh langsung persoalan yang saat ini dihadapi sekitar 5,03 juta jiwa penduduk NTT diantaranya kemiskinan dan keterbelakangan,” katanya di Kupang, beberapa waktu lalu.

Sejak 2014, sebut dia, setiap kelipatan 4 desa/kelurahan dalam satu kecamatan mendapat alokasi satu desa/kelurahan Program DeMAM maka dari 306 kecamatan, meningkat menjadi 589 desa/kelurahan penerima program serta 589 pendamping program dengan dana yang dianggarkan sebesar Rp147 miliar lebih.

“Tahun 2015, program Desa Mandiri Anggur Merah dialokasikan kepada 589 desa/kelurahan. Dana yang dianggarkan sebesar Rp147 miliar. Pencairan mencapai 93,55 persen,” katanya.

Sejak tahun 2011-2015, menurut dia, program ini telah diluncurkan di 2.069 desa/kelurahan, dengan 999 tenaga pendamping dengan klasifikasi PKM yang mendampingi 3 desa/kelurahan 357 PKM, yang mendampingi 2 desa/kelurahan 355 PKM dan 287 PKM lainnya masing-masing mendampingi pokmas di satu desa/kelurahan.

“Kami berkomitmen, sampai tahun 2018, 3.252 desa/kelurahan di Provinsi Nusa Tenggara Timur telah mendapat alokasi dana Program Desa Mandiri Anggur Merah,” katanya.

Menurut Gubernur, program Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah merupakan bentuk kepedulian dan keberpihakan anggaran bagi masyarakat di desa termiskin dan terpencil serta tertinggal. Sehingga perlu didukung semua pihak dan sukses atau gagal tidak bisa ditentukan saat ini. “Tapi saya percaya suatu saat nanti, masyarakat akan berbangga karena kita telah mengagendakan pelaksanaan program ini,” kata Gubernur.

Gubernur menyampaikan ucapan terima kasih kepada para Bupati dan Wali kota yang telah menduplikasi Program Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah. “Saya ucapkan terima kasih kepada para Bupati dan Wali kota yang telah melakukan duplikasi terhadap pelaksanaan Program Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah,” ucap Gubernur.
Ia berharap jumlah penduduk miskin di daerah setempat yang terus mengalami penurunan hingga September 2014 sebesar 991,88 ribu orang (19,60 persen) atau berkurang sekitar 2,8 ribu orang dibandingkan Maret 2014 sebanyak 994,68 ribu orang (19,82 persen) merupakan fakta yang harus diakui, meskipun harus terus didorong agar berjalan lebih cepat.

Penurunan ini terjadi karena gerakan percepatan penanggulangan kemiskinan dilakukan secara masif dengan agenda dan program khusus langsung kepada desa/kelurahan yang teridentifikasi memiliki tingkat pendapatan dan kesejahteraan di bawah standar kehidupan yang layak,” katanya.

Misalnya, kata Gubernur, berdasarkan daerah tempat tinggal, selama periode Maret 2014 – September 2014, persentase penduduk miskin di daerah perdesaan mengalami penurunan sebanyak 8,2 ribu orang (dari 894,33 ribu orang menjadi 886,18 ribu orang).

Untuk perkotaan mengalami kenaikan sebanyak 5,4 ribu orang (dari 100,34 ribu orang menjadi 105,70 ribu orang) dari total jumlah penduduk NTT saat ini sebanyak 4,8 juta jiwa. Artinya, persentase penduduk miskin di daerah perdesaan turun dari 22,15 persen pada Maret 2014 menjadi 21,78 persen pada September 2014.

Sementara persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2014 sebesar 10,23 persen, naik menjadi 10,68 persen pada September 2014. “Periode Maret 2014 – September 2014, Garis Kemiskinan (GK) naik sebesar 0,97 persen, yaitu dari Rp265.955,- per kapita per bulan pada Maret 2014 menjadi Rp268.536,- per kapita per bulan pada September 2014,” katanya.

Kepala Bappeda NTT, Wayan Dharmawan mengatakan, program DeMAM ternyata mendapat apresiasi positif dari pemerintah pusat, dan diharapkan akan terus membantu masyarakat NTT yang tersebar di 3.237 desa dan kelurahan.

“Setelah program ini digulirkan, sebuah keberhasilan yang menjadi percakapan di tingkat nasional adalah, pada tahun 2014, untuk pertama kalinya pertumbuhan ekonomi di NTT berada pada posisi teratas dari pertumbuhan ekonomi secara nasional,” kata Wayan.

Program DeMAM, kata dia, ternyata sangat bermanfaat untuk menumbuhkan semangat usaha masyarakat di desa dan kelurahan yang mendapatkan dana hiba sebesar Rp 250 juta. Mereka menggunakan dana ini untuk mengembangkan usaha-usaha produktif yang pada akhirnya sangat membantu mereka untuk memperoleh pendapatan leibih besar dari sebelumnya.

Wayan mengatakan, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya selalu menyerukan agar masyarakat membangun dan berusaha sesuai karakteristik spesifik daerahnya masing-masing. Dan hal itu sangat tepat, karena NTT yang dikenal sebagai daerah kering memang cocok dengan pengembangan sektor pertanian. Meski demikian, setiap daerah memiliki karakteristik berbeda sehingga tidak semua tanaman dipaksakan untuk ditanam di seluruh daerah di NTT.

“Hampir seluruh wilayah NTT ini cocok dengan tanaman tahunan bukan tanaman musiman, karena itu perlu lebih memfokuskan pertanian dengan mengupayakan tanaman tahunan. Tanaman musiman tetap ada dan hasilnya tergantung dari curah hujan sementara NTT ternyata curah hujannya sangat sedikit. Untuk NTT, tanaman tahunan akan berbuah lebih lebat di musim kering,” kata Wayan. (josh diaz/diolah dari berbagai sumber)

Ket Foto : Gubernur NTT, Drs Frans Lebu Raya bersama Ny Lusia Adinda Lebu Raya ketika meninjau salah satu desa penerima DeMAM yang difokuskan pada usaha tenun.