Headline

Potret Buram Pendidikan di Lembata Dibalik Kamatian Moses

Lewoleba, mediantt.com — Intervensi politik yang berlebihan terhadap dunia pendidikan di Lembata akhirnya harus mengorbankan seorang kepala sekolah yang tegas dan jujur, Moses Bala Henakin. Kuat dugaan ia meninggal gantung diri karena tidak kuat menahan gempuran politik dari anggota DPRD Lembata. Inilah potret buram dunia pendidikan di Lembata di awal tahun 2015. Seperti apa modusnya?

Di kalangan guru-guru, termasuk di Dinas PPPO Lembata, tentu semua mengenal sosok Kepala Sekolah dari Desa Ile Kimok, Moses Bala Henakin. Ia sontak menjadi berita heboh ketika ia harus meregang nyawa dengan cara yang tidak wajar, menggantung diri dengan seutas tali tambang. Semua jajaran pendidikan di Lembata geger dan panik, apa gerangan yang membuat sosok guru tegas dan jujur itu meninggal dengan cara tak wajar itu. Ia harus meninggalkan duka panjang bagi istri dan anak-anak yang masih belia gara-gara merasa tidak kuat menahan tekanan politik luar biasa, yang tidak biasa dihadapi oleh seorang guru, terlebih guru-guru yang mengabdi di daerah terpencil.

“Almarhum guru Moses meninggalkan anak-anak yang masih belia di bangku pendidikan. Kita sangat kehilangan dia apalagi cara meninggalnya yang tidak wajar, mengakhiri hidup dengan seutas tali tambang, yang diduga kuat akibat tekanan politik luar biasa yang tidak biasa dihadapi guru, terutama guru-guru di daerah terpencil,” tutur Kepala Dinas PPO Lembata, Zakarias Paun, kepada mediantt.com, di Lewoleba, pekan lalu,

Zakarias mengakui bahwa salah satu penyebab, sang kepsek nekad mengakhiri hidupnya karena tekanan yang dilakukan oleh teman-teman anggota DPRD saat rapat dengar pendapat.

Ia menjelaskan, hal ini bermula ketika SD Ile Kimok kebagian dana alokasi khusus (DAK) untuk membangun tambahan ruang kelas. Proyek swakelola ini kemudian oleh salah satu pejabat di Dinas PPO atas nama Andreas Bele, yang saat itu menjabat kepala seksi sarana prasarana, sekarang Kepala UPTD Ile Ape, menggunakan kewenangan sebagai pejabat di Dinas PPO turun ke lapangan membawa serta kontraktor atas nama Arifin, yang kemudian melarikan uang sejumlah ratusan juta rupoah, yang seharusnya digunakan untuk pembangunan ruang kelas pada sekolah tersebut.

“Kami pernah menyurati Bupati Lembata meminta agar tim Inspektorat turun melakukan audit terhadap semua sekolah penerima dana Bansos. Hal itu       saya lakukan karena kami menadapat laporan bahwa pembangunan ruang kelas di SD Ile Kimok sedikit kocar-kacir karena hubungan kepsek dan panitia       pembangunan renggang,” jelas Paun, seraya menambahkan, “Saya mau tegaskan bahwa almarhum Moses Henakin itu tangan bersih, dan tidak ada kerugian negara. Karena setelah konsultan menghitung kembali selisi anggaran pada Arifin,” katanya.

Paun juga menyatakan akan segera melakukan BAP terhadap Andreas Bele karena dugaan menyalahgunakan wewenang. “Irfan ini hebat apa dia? Dia bisa kerja beberapa sekolah karena Andreas Bele, jadi kita akan segera ambil langkah memeriksa Andreas Bele dan bila cukup bukti akan kita ambil tindakan tegas,” tandas Zaka Paun.

I ajuga menjelaskan, selisih uang sisa dana Bnsos yang bersumber dari DAK tersebut telah dilarikan Irfan yang kini entah di mana rimbanya. “Namun kita akan buat laporan polisi untuk mencari, menangkap dan mengadili si Irfan ini. Memang sulit cari celah namun ada kuitansi yang pernah ditandatangani Irfan saat pencairan uang. Jadi kita akan laporkan kasus penipuan dan penggelapan uang,” tegas Paun.

Pencairan bersama kepsek kala itu, terang Paun, diserahkan ke Ibu Heny Uran untuk stok barang. “Saya juga sudah bertemu ibu Heny dan disampaikan bahwa ada stok bahan bagunan untuk SD Ile Kimok berupa 100 zak semen, batu bata dan besi beton, dan ibu Heny akan segera mengirim bahan baku tersebut ke Ile Kimok,” ujar Paun.

Zaka Paun menambahkan, sesungguhnya para guru tidak terbiasa dengan politik, termasuk almarhum Moses ini. “Pagi itu bersama saya (kadis) menuju DPRD Lembata untuk rapat dengar pendapat, namun para anggota dewan terlalu menekan, bahkan ada yang membentak, hingga mengatakan brengsek dan kalimat-kalimat keras lainnya. Saya duga, guru Moses Henakin tertekan hingga bunuh diri karena amarah DPRD itu,” kata Zaka Paun. (steny/jdz)

Foto : Ilustrasi gantung diri