Headline

Direktur RSUD Lewoleba ‘Angkat Tangan’ Karena Cape

Lewoleba, mediantt.com – Baru kurang lebih tiga bulan menjadi Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lewoleba, dr Bernard Yosep Beda, sudah mengeluh cape mengelola rumah sakit itu. Ia sepertinya ‘angkat tangan’ karena harus mengurus semua hal, mulai dari manajemen, obat-obatan, pasien hingga urusan parkir.

“Karena semua urusan di RSUD ditangani langsung oleh direktur, mulai dari manajemen, obat-obatan, pasien hingga parkir, maka saya merasa cape sebagai direktur,” kata dr Bernard kepada mediantt.com di ruang kerjanya, kemarin, ketika dikonfirmasi soal anggaran belanja untuk obat dan biaya makan minum pasien RSUD Lewoleba.

Didampingi Kepala Tata Usaha RSUD Lewoleba, Yusup Lamabelawa, dr Bernard menuturkan, ia sudah cape menjadi Direktur RSUD Lewoleba, tanpa merinci lebih detail argumentasi penyebabnya. “Karena semua hal saya urus langsung jadi saya cape jadi direktur,” tegasnya lagi,

Pernyataan Direktur ini memantik tanggapan beragam dari warga Lewoleba. Ada yang mempertanyakan dimana apoteker yang mengurus farmasi dan obat-obatan di rumah sakit itu. Apakah karena apoteker masih langka sehingga direktur harus mengurus sendiri. Ada pula yang menduga kalau selama ini ada kebocoran anggaran di bagian farmasi RSUD Lewoleba sehingga harus ditangani dan diawasi langsung oleh direktur. “Masa urusan parkir juga harus ditangani oleh direktur, kan aneh sekali, di mana bidang sarana dan penunjang? Apakah bidang ini pun tidak mendapat kepercayaan dari direktur, kemana pula KSO yang selama ini dipekerjakan?” gerutu seorang warga, John.

Yang lain menuturkan, pernyataan Direktur diatas menunjukan ketidakmampuannya menjadi direktur RSUD Lewoleba, karena jabatan tersebut baru diemban kurang lebih tiga bulan. “Masa baru seumur jagung jadi direktur sudah mengeluh cape, ada apa, jangan-jangan tidak mampu atau tidak percaya kepada bidang lain sehingga harus turun tangan. Bisa juga karena direktur bukanlah seorang pemimpin sehingga tidak membagi tugas dan tanggung jawab kepada bidang-bidang yang ada di RSUD Lewoleba,” timpal warga lainnya, Rony.

Tidak Tahu

Ditanya soal anggaran makan minum pasien yang menurut informasi dianggarkan full bed setiap hari dalam satu tahun, dr Bernard menuturkan, anggaran itu sudah ditetapkan dalam APBD jadi semua sudah final. “Semua sudah ditetapkan dalam APBD, jadi informasi soal full bed itu saya tidak tahu hitungan mereka seperti apa,” ujarnya.

Ia mengatakan, kalau masalah makan pasien itu bisa dikonfirmasi ke bidang penunjang. “Tapi info soal full bed itu tidak benar karena sudah ditetapkan dalam APBD, jadi kalau ada yang mengatakan seperti itu, saya tidak tahu hitungan mereka seperti apa,” tegasnya lagi.

Dengan jawaban seperti itu, ada dugaan direktur tidak mengetahui jumlah tempat tidur pada semua ruangan di RSUD Lewoleba.

Kepala Tata Usaha RSUD, Yusup Lamabelawa yang saat itu ada di ruang kerja direktur mengatakan, jumlah temapt tidur seluruh ruangan RSUD berjumlah 98 buah. Sementara itu, menurut Kepala Seksi Penunjang RSUD Lewoleba, Herman Yosep Taranpiraq, yang ditemui secara terpisah mengatakan, jumlah tempat tidur seluruhnya ada 111, termasuk IGD.

Anggaran makan minum pasien berdasarkan estimasi pihak RSUD adalah Rp 1,2 miliar dengan perkiraan 1 hari terisi 45-50 tempat tidur oleh pasien, jika dirata-ratakan 55 pasien setiap harinya. “Hitungan ini didasarkan pada bed offerething rate (BOR). Besaran anggaran makan minum pasien ini berpengaruh pada standar menu sehingga tahun 2015 ini, komposisi makan pasien diberi tambahan. 3 kali makan (pagi, siang,malam) dan 2 kali snack (pagi dan sore). (steny)

Foto : Para petugas media Rumah Sakit Umum Daerah Lewoleba.