Headline

Investor Garam di NTT Semakin Bertambah

KUPANG — Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendata di tahun 2015, minat investor untuk berinvestasi garam di NTT semakin bertambah jika dibandingkan 2014 hanya satu perusahaan.

Kepala BKPMD NTT, Samuel Rebo, mengatakan, hal tersebut terbukti dengan kedatangan dua perusahaan yakni PT Inti Daya Kencana dan PT Bumi Inti Timor yang akan menanamkan modalnya di NTT.

“Mereka sangat serius untuk menanamkan modalnya untuk berinvestasi di wilayah kita dan jumlah investasi masing-masing perusahaan mencapai Rp 1 triliun,” katanya, di Kupang, Rabu (11/3/2015).

Ia menjelaskan, saat ini kedua perusahaan tersebut sedang melakukan pemetaan di Kabupaten Malaka dan mencari lokasi-lokasi yang lain untuk mengembangkan bisnisnya serta sosialisasi dengan masyarakat untuk menjelaskan pola kerja sama di wilayah tersebut.

Selain itu perangkat penanam modal di Kabupaten tersebut juga, menurut Samuel, bekerja keras untuk membantu melancarkan rencana investasi dari kedua perusahaan tersebut.

“Mereka meminta agar luas areanya di atas 10.000 hektare, dan daerah yang direncanakan untuk pembuatan garam tersebut selain milik pemerintah, sebagaiannya juga milik warga sekitar, oleh karena itu mereka harus bisa membuat kesepakatan dengan warga setempat,” tuturnya.

Pemerintah sendiri telah menghimbau kepada masyarakat di Malaka agar tidak menjual tanahnya, namun cukup menyewakannya sehingga masyarakat di wilayah tersebut juga bisa mendapatkan nilai tambah dari hasil investasi tersebut.

Selain investasi garam, ia juga menyebutkan ada salah satu perusahaan dalam negeri lagi yang bernama PT Swarna Hijau merupakan gabungan dari Mayora Group, juga akan melakukan penanaman modal dan berencana membangun pabrik tebu di Kabupaten Timur Tengah Selatan (TTS).

“Saat ini pihak perusahaan sedang lakukan uji varietas untuk mencari kecocokan jenis tebu yang akan dikembangkan di wilayah tersebut, dengan rencana pengambangannya mencapai 10.000 sampai 20.000 hektare,” tutur Samuel.

Sedangkan untuk rencana investasinya, lanjut Samuel, sebesar Rp 3,7 triliun, yang tentu lebih besar dari investasi garam yang akan dikembangkan di Kabupaten Malaka.

Karena itu, menurutnya, untuk bisa mensukseskan rencana investasi dari ketiga perusahaan tersebut, pembangunan infrastruktur harus diutamakan khususnya di bagian penerangan.

“Namun saya optimis dengan adanya pembangunan infrastruktur lapangan terbang serta pelabuhan yang nantinya, NTT akan menjadi tol laut akan sangat membantu mengangkat pertumbuhan perekonomian di NTT,” tambahnya. (sp/ant)

Foto : Ilustrasi petani garam (sumber: Antara/Syaiful Bahri)