Headline

BMKG Ingatkan, SikIon LAM Bisa Ganggu Pelayaran di NTT

Kupang, mediantt.com — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) stasiun Meteorologi Kupang mengingatkan masyarakat NTT untuk mewaspadai siklon LAM karena bisa mengganggu system pelayaran di NTT. BMKG mendeteksi adanya siklon tropis LAM di Teluk Carpentaria sebelah barat daya Merauke.

“Untuk kondisi terakhir saat ini yang terpantau di data kami serta tergolong kategori tekanan rendah terjadi di Merauke dan hal ini perlu diwaspadai,” kata Kepala Hubungan Masyarakat (Humas) BMKG Kupang di Kupang, Rabu (18/2).

Ia menjelaskan, walaupun Siklon tropis LAM tersebut bergerak dengan kecepatan 110km/jam ke arah barat dan menjauh dari wilayah Indonesia, namun perlu diwaspadai siklon ini, karena melihat cuaca yang masih berubah-ubah.

“Kami belum bisa memprediksi arah dari Siklon tersebut, jadi berharap waaspada saja dengan situasi ini, dan kami pun akan terus lakukan pemantauan,” tuturnya.

Ia menambahkan, untuk hari ini posisi dari Siklon tropis tersebut berada di 11.2L5, 137.2BT (sekitar 465 km sebelah barat daya Merauke) dengan arah gerak berada di barat barat laut dan kecepoatan 8 knots (15/jam).

Sedangkan, dalam waktu 24 jam diperkirakan akan menguat dengan posisi 11.4LS, 136. 2BT yang berada di 560 km sebelah barat daya Merauke.

Saiful mengatakan, dampak dari iklim tropis LAM tersebut dapat mempengaruhi cuaca di perairan Nusa Tenggara Timur (NTT) seperti hujan ringan dan gelombang laut dengan ketinggian tiga sampai empat meter.

Karena itu, pihaknya akan terus melakukan pantauan lebih insentif terhadap Siklon LAM tersebut agar bisa menyampaikan hal ini kepada masyarakat.

“Kemungkinan besar Siklon tersebut mengarah ke perairan Australia, namun kita perlu waspadai karena cuaca belum bisa diprediksi,” tambahnya.

Di samping itu, yang perlu diwaspadai juga oleh masyarakat NTT adalah dalam satu minggu ke depan tinggi gelombang di beberapa wilayah seperti di bagian timur dan Utara Flores serta perairan selatan NTT, Pulau Timor dan sampai samudra Hindia selatan NTT.

“Untuk bagian Utara Flores dan Selatan NTT tingginya bisa mencapai satu sampai dua meter sedangkan yang lain masih biasa-biasa saja,” kata Saiful.

Sedangkan untuk arah angin di NTT, arah angin pada umumnya dari Barat Daya- Barat Laut dengan kecepatan berkisar antara 10-25 knot dan tinggi gelombang laut menurut Saiful sangat signifikan berkisar antara 0.75-2.0 meter.

Waspadai Cuaca Ekstrem

Secara terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Tini Tadeus mengimbau kepada masyarakat agar selalu waspada menghadapi cuaca ekstrem.

“Sebelum terjadi bencana diharapkan masyarakat harus selalu siap selalu, karena kita tidak bisa memprediksi perubahan cuaca saat ini,” katanya di Kupang, Rabu (18/2).

Hal ini karena dari data yang diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kupang, diprediksi cuaca ekstrem yang terjadi di NTT puncaknya berada di Januari.

Menurut dia, kewaspadaan yang harus dilakukan adalah dengan cara menghindari pohon-pohon yang tinggi, memangkas pohon yang dianggap dapat mengganggu keselamatan seseorang di sekitar rumah yang dapat mengakibatkan pohon tumbang saat angin yang kencang.

Dari data yang diperoleh, pada tahun 2014 ada empat orang yang meninggal akibat tertimpa pohon, sedangkan di tahun ini ada dua orang yang meninggal diakibatkan oleh hal yang sama.

“Kejadian ini terjadi di Kabupaten Maumere, yang mengakibatkan pasangan Suami dan istri meninggal akibat tertimpa pohon yang tumbang dan menimpa rumah mereka,” katanya.

Selain mengantisipasi pohon-pohon yang tinggi, ia juga menghimbau agar masyarakat yang keluar dari rumah harus memperhatikan cuaca yanbg terjadi pada saat itu.

“Harus lihat situasi, kalau ingin keluar dari rumah jangan sampai ada angin yang kencang yang dapat menggangu keselamatannya,” tuturnya.

Imbauan ini juga bukan hanya bagi pihak-pihak yang melakukan perjalanan darat saja, namun bagi laut dan udara, himbaiun ini sangat penting.

Di samping itu, untuk mencegah adanya angin puting beliung yang sering terjadi di daerah terbuka, ia meminta masyarakat agar gemar menanam pohon, karena puting beliung sering terjadi di daerah-daerah yang terbuka.

“Kalau ada pohon-pohon yang rindang puting beliung tidak akan terjadi di daerah tersebut, karena yang sering terjadi adalah di wilayah-wilayah yang terbuka,” katanya. (ant/jdz)