Headline

Infrastruktur Bandara El Tari Segera Disempurnakan

JAKARTA – Provinsi NTT menjadi salah satu dari 13 Kawasan Industri (KI) di luar Pulau Jawa yang akan dikembangkan. Karena itu, Bandara El Tari Kupang dan Pelabuhan Tenau Kupang segera disempurnakan infrastrukturnya. Karena itu, dibutuhkan biaya pembangunan infrastruktur di 13 kawasan itu sebesar Rp 55,4 triliun.

Kementerian Perindustrian (Kemperin) akan membangun 14 Kawasan Industri (KI) di luar Pulau Jawa. Namun, satu kawasan yaitu Jorong belum siap, maka 13 Kawasan Industri yang akan dibangun dalam lima tahun kedepan, termasuk Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam pembangunan 13 KI, pemerintah harus membangun infrastruktur untuk mendukung keberadaan KI tersebut agar dapat terus bertahan. Kebutuhan penanganan infrastruktur untuk mendukung 13 KI tersebut diperkirakan akan menelan anggaran sebesar Rp 55,4 triliun.

Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kemperin, Imam Haryono mengatakan, pembangunan KI kedepan tidak lagi berorientasi pada penyediaan produk saja melainkan pada pelayanan dengan konsep kota mandiri.

“Artinya, semua fasilitas infrastruktur terpadu ada disana, mulai dari perizinan hingga akses transportasi. Didukung dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, mulai dari skill, kebutuhan rumah sakit hingga rekreasi,” kata Imam, Selasa (17/2).

Dia menginginkan ketidaksempurnaan dalam membangun KI sebelumnya dijadikan pengalaman untuk menyempurnakan pengembangan KI ke depan. Karena itu, pihaknya akan memacu Kabupaten dan Kotamadya yang ingin mengembangkan KI harus memiliki Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang jelas. Minimal ada kawasan khusus peruntukan industri (KPI).

“KI akan dijadikan sebagai pemeran utama pertumbuhan ekonomi baru. Sebenarya ada 14 KI, tapi karena Jorong masih dimatangkan, maka akan ada 13 KI di lima pulau dengan total luas lahan 22.484 hektare,” ujarnya.

Untuk membangun KI dengan konsep kota mandiri, maka infrastruktur dasar di luar Pulau Jawa harus dilakukan percepatan pembangunannya.

“Insentif fiskal hanya sebagai desert, tetapi main course-nya itu infrastruktur dasar yang memadai di luar Pulau Jawa. Itu kuncinya disana. Yaitu, bagaimana mempercepat dukungan infrastruktur untuk 13 KI. Baik di dalam maupun luar KI,” paparnya.

Diprediksikan untuk membangun infrastruktur di 13 KI tersebut dibutuhkan biaya sebesar Rp 55,4 triliun. Dana sebesar itu dianggarkan untuk membangun bandara sebesar Rp 8,2 triliun. Yakni pengembangan Bandara Mutiara Palu, Eltari Kupang, Pengembangan Halu Oleo Kendari, Sam Ratulangi Manado dan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.

Lalu pembangunan jalan sebesar Rp 8 triliun. Yaitu pembangunan jalan lingkar Batulicin Palu-parigi, Lingkar Kupang dan Jalan Susumuk-Bintuni.

Pembangungn kereta api diperkirakan memakan dana sebesar Rp 10 triliun. Rencananya akan dibangun kereta api antara Manado-Bitung-Sei Mangke-Bandar Tinggi-Kuala Tanjung,Pasoso-Tanjung Priok, DDT dan elektrifikasi Manggarai-Bekasi-Cikarang-lingkar luar kereta api.

Kemudian membangun ketenagalistrikan dibutuhkan dana sebesar Rp 10,4 triliun. Akan dibangun pembangkit tenaga listrik untuk 13 KI tersebut.

Selanjutnya membangun pelabuhan di Kuala Tanjung, Tanjung Perak, Pontianak, Bitung, Makasar, Banjarmasin, Kupang dan Halmahera. Semua itu diperkirakan membutuhkan anggaran sebesar Rp 17,6 triliun.

Terakhir membangun infrastruktur sumber daya air yang diperkirakan membutuhkan anggaran sebesar Rp 939 miliar.

Dari 13 kawasan industri yang akan dibangun, tiga diantaranya akan dibangun sendiri oleh pemerintah. Ketiganya adalah Palu (Sulawesi Tengah), Bitung (Sulawesi Utara) dan Kuala Tanjung, Batu Bara (Sumatera Utara).

Sedangkan 10 lokasi lainnya yang akan dibangun swasta adalah Teluk Bintuni (Papua Barat), Buli, Halmahera (Maluku Utara), Konawe (Sulawesi Tenggara), Morowali (Sulawesi Tengah), Bantaeng (Sulawesi Selatan), Ketapang (Kalimantan Barat), Landak (Kalimantan Barat), Batulicin, Tanah Bumbu (Kalimantan Selatan), Tanggamus (Lampung), dan Sei Mangkei, Simalungun (Sumatera Utara). (sp/jdz)