Headline

Mengenal Lebih Dekat Kepala Basarnas Bambang Soelistyo

Badan SAR Nasional (Basarnas) hanya butuh waktu tiga hari untuk menemukan lokasi jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501. Keberhasilan yang mengundang banyak pujian itu tidak lepas dari peran Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI F. Henry Bambang Soelistyo.

MENCARI korban jatuhnya pesawat atau korban bencana alam merupakan tugas Badan SAR Nasional (Basarnas). Dengan kemampuan, pengalaman, serta peralatan yang digunakan, dipastikan Basarnas mudah menyelesaikan tugas itu. Namun, kali ini badan yang dibentuk negara tersebut dihadapkan pada kasus besar. Yaitu, hilangnya pesawat AirAsia QZ8501 yang kehilangan kontak pada Minggu (28/12) pukul 06.18.

Mendengar kabar itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) langsung memerintah Basarnas untuk turun mencari pesawat dan korban. Mereka dituntut untuk segera menemukan pesawat tersebut dengan cepat. Basarnas pun tancap gas. Mereka langsung menerjunkan kekuatan penuh untuk mencari pesawat nahas itu. Tidak kurang dari tujuh pesawat serta empat kapal langsung menuju ke lokasi jatuhnya pesawat.

Selain itu, Basarnas tidak menutup pintu bantuan atau laporan yang dirasa membantu pencarian dan evakuasi. Misalnya, laporan-laporan dari para nelayan yang mengaku melihat puing atau pesawat yang jatuh ke perairan.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI F. Bambang Soelistyo memimpin langsung pencarian tersebut. Arek Suroboyo itu mengungkapkan, pencarian pesawat kali ini tidak seperti biasanya. Sangat menguras tenaga. ’’Sebab, pesawat hilang secara tiba-tiba dari radar dalam hitungan menit,’’ ucapnya.

Namun, dia tidak lantas patah arang. Pria yang lahir di Jogjakarta 57 tahun lalu itu tetap memanggul penuh tanggung jawab yang dibebankan kepada dirinya. Lulusan Angkatan Udara 1982 itu terus memantau perkembangan tiap menit.

Bahkan, agar lebih berfokus, Soelistyo langsung pindah rumah ke kantor. Dia berada di kantor nyaris 24 jam. ’’Saya setiap malam tidur di kantor. Tidur mulai jam 03.00, jam 05.00 sudah harus bangun lagi,’’ ungkapnya.

Selama pindah rumah di kantor, dia ditemani stafnya. Setiap ada perkembangan, dia selalu mengevaluasi kerja tim SAR di lapangan. Mereka memperhitungkan kemungkinan posisi kapal dengan kondisi laut setiap hari.

Saking sibuknya memimpin pencarian, pria yang mengawali karir di sekolah penerbangan angkatan 28 tersebut sampai lupa mandi dan makan. Namun, semua itu dijalani dengan ikhlas. ’’Saya kan punya tanggung jawab, ya menyampaikan kepada kalian. Mempertanggungjawabkan apa yang kami lakukan kepada pihak keluarga dan masyarakat. Jadi, tentu harus dilakukan maksimal,’’ tuturnya.

Dia menyatakan, tidak mudah menemukan pesawat yang hilang secara tiba-tiba. Meski sudah mengerahkan kekuatan penuh ditambah bantuan TNI dan negara tetangga, ada masanya kejenuhan dan kebingungan mendatangi. Apalagi ketika melihat keluarga korban yang terus berharap korban pesawat bisa ditemukan dengan selamat.

Meskipun terlahir sebagai TNI, hatinya tidak selalu kuat. Pria yang berpengalaman sebagai penerbang tempur pesawat Hawk MK-53 tersebut tiba-tiba menjadi melankolis. Dia hanya bisa termenung. Ketika kesulitan datang, Soelistyo pun memilih duduk sendiri dan memejamkan mata sembari memanjatkan doa kepada Yang Mahakuasa. Dia berharap bisa segera mendapat jalan keluar.

Menurut Soelistyo, kesedihan muncul karena belum adanya temuan yang mengarah pada posisi pesawat AirAsia atau penumpangnya. Puncaknya, saat melakukan telekonferensi dengan keluarga para penumpang pesawat tujuan Surabaya–Singapura tersebut, tangis Soelistyo pecah. ’’Keluarga memiliki harapan besar dan kami belum bisa memenuhinya,’’ katanya.

Semakin lama pesawat itu hilang, semakin banyak tekanan yang dirasakan. Apalagi setiap jam dalam sehari awak media meminta kepada Soelistyo untuk terus mengabarkan update pencarian pesawat buatan Prancis itu. Dia pun berkali-kali harus mengecek data ketika ada wartawan yang bertanya lewat telepon. Namun, berbekal ketenangan, dia berhasil melalui tekanan tersebut. ’’Intinya, saya menyampaikan temuan tim di lapangan. Namun, sebelum disampaikan, kami cek lebih dulu. Kabar yang disampaikan harus tepat,’’ paparnya.

Ketenangannya dalam menghadapi masalah kadang goyah. Terlebih saat ada berita simpang siur mengenai banyaknya temuan puing atau korban. Misalnya, Selasa (30/12), TNI menyatakan menemukan tumpahan minyak di perairan Tanjung Pandan. Mendengar itu, Soelistyo langsung memerintah anak buahnya untuk mengecek. Ternyata, ketika didekati, tumpahan minyak itu hanya sebongkah karang.

Usaha dan doanya akhirnya terjawab. Tepat tiga hari pencarian, akhirnya pesawat itu ditemukan di sekitar perairan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Penemuan bukti itu didahului patroli pesawat oleh TNI Angkatan Udara. Saat berada di atas perairan Pangkal Bun, tim operasi melihat puing-puing pesawat seperti exit door. Mereka juga menemukan pelampung serta enam mayat yang mengapung.

Mendengar kabar itu, pria lulusan Universitas Merdeka Madiun tersebut langsung mengerahkan kekuatan penuh ke Pangkal Bun.

Temuan itu pun menjawab keyakinannya sejak pagi. ’’Nggak tahu kenapa, ada keyakinan tersendiri yang nggak bisa saya jelaskan. Saya yakin hari ini. Tuhan pun tunjukkan jalan. Meski, hasilnya tidak sesuai dengan harapan (korban meninggal). Itu kuasa Gusti Allah,’’ ujarnya.

Keberhasilan dalam waktu singkat tersebut menjawab kritik yang akhir-akhir ini dibebankan publik. Banyak yang menilai Basarnas lamban dalam menjalankan tugas. Namun, kritik itu dibungkam Soelistyo lewat bukti.

Meski berhasil, mantan dosen utama Sesko TNI tersebut tetap tidak sombong. Menurut dia, keberhasilan itu bukan disebabkan kehebatan dirinya sebagai pemimpin. Namun, hasil yang diperoleh merupakan kerja seluruh tim SAR yang luar biasa dan didukung sistem yang maksimal. ’’Ini kerja kami semua. Bukan hanya saya,’’ tegas pria yang pernah menjabat Kadispen AU itu.

Prestasi Soelistyo patut diapresiasi. Sebab, dia mampu menemukan pesawat dengan cepat. Meski, pesawat yang jatuh tersebut tidak mengirimkan sinyal ke radar Basarnas. Kegemilangan Soelistyo itu tidak didapat dengan instan. Sebab, suami Ratih Setyaningsih tersebut sepanjang hidupnya dididik militer. Bahkan, dia sangat paham dengan pesawat.

Soelistyo mengawali karir sebagai perwira penerbang Wing 300 Kohanudnas. Dilanjutkan menjadi perwira penerbang Skuadron Udara 12 Lanud Pekanbaru, Kadisops Skuadron Udara 15 Lanud Iswahjudi, serta Danskadik 103 Lanud Adi Soetjipto. Karir Soelistyo melesat ketika dipercaya menjadi Kadispen AU, Pangkohanudnas, Direnhan Kemenhan, dan yang terakhir kepala Basarnas. (jp/jk)