Headline

BBM Naik, Pemerintah Punya Dana Lebih Rp 100 T

Jakarta, mediantt.com — Kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 2.000 per liter diharapkan memberikan tambahan dana untuk belanja produktif Rp 100 triliun lebih. Dana itu akan digunakan sebagian untuk membiayai proyek infrastruktur. Sebagian lagi digunakan untuk memperkuat program perlindungan sosial yang sudah berjalan. ”Dan yang paling penting lagi adalah untuk mewujudkan visi dari presiden, untuk pengembangan di sektor maritim,” ujar Menkeu Bambang P.S Brodjonegoro, kemarin.

Namun, Bambang tidak memungkiri bahwa kenaikan harga BBM itu akan membawa dampak inflasi. ”Dengan kenaikan Rp 2.000, baik untuk premium maupun solar, tambahan inflasi untuk tahun ini ada pada kisaran 2 persen. Jadi, kalau kita mengambil baseline 5,3 persen, perkiraan inflasi akhir tahun 7,3 persen untuk 2014. Tentunya masih ada dampak inflasi di Januari 2015 sampai Februari, tetapi jumlahnya tidak akan sebesar di dua bulan pertama kenaikan, yakni November dan Desember 2014,” urai mantan wakil menteri keuangan di era pemerintahan SBY itu.

Menyoal tambahan ruang fiskal, Bambang menyatakan bahwa pemerintah berharap akan terjadi penurunan defisit APBN 2015. Targetnya, penurunan defisit anggaran mencapai 2,2 persen. ”Kita harap dengan nanti setelah berapa untuk infrastruktur, perlindungan sosial, dan keperluan lain, yang diharapkan defisit itu bisa dikendalikan di bawah 2,2 persen,” imbuhnya.

Menko Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan, pemerintah memastikan bahwa dampak kenaikan BBM bisa minimal. Dia mengungkapkan, pengalihan bantuan atau kompensasi BBM diperuntukkan bagi 15,6 juta kepala keluarga dari kategori miskin dan hampir miskin. ”Kompensasi tersebut lebih besar daripada dampak inflasi. Mulai besok (hari ini) kantor pos akan memasarkan dan sudah ada kartu yang berjalan. Jadi, semua ini sudah harus dipersiapkan dengan baik,” terang Sofyan. (jk)