Headline

Stok Pangan Cukup, NTT Belum Rawan Pangan

Krisis air baku yang terjadi di hampir seluruh wilayah NTT akibat dampak El Nino yang meluas, belum berpengaruh terhadap ancaman bencana rawan pangan. Stok pangan masih cukup tersedia hingga beberapa waktu ke depan.

“Bencana rawan pangan mudah terjadi di saat daerah mengalami cuaca buruk, berupa angin dan kemarau panjang akibat El Nino yang selalu datang di setiap tahunnya. Dalam kondisi kemarau panjang akibat El Nino itu, sejumlah sumber air baku untuk pertanian akan mengering dan akan mengganggu proses irigasi ke lahan pertanian. Akibatnya, seluruh tanaman pertanian akan merana, mati dan terjadi gagal panen. Jika terjadi gagal panen maka potensi rawan pangan sangat tinggi,” jelas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT, Tini Thadeus kepada wartawan, pekan lalu.

Sebenarnya, menurut dia, Pemerintah NTT telah melakukan langkah antisipasi. Caranya dengan menyediakan stok pangan, baik beras, jagung, ubi- ubian maupun kacang- kacangan. “Sesuai laporan yang kita terima dari instansi teknis, stok kebutuhan pangan kita masih sangat cukup dan tersedia,” katanya.

Ia menerangkan, akibat El Nino, 170 desa di 18 kabupaten dari 22 kabupaten/kota di NTT telah mengalami krisis air bersih. Debit sumber mata air terus menyusut akibat kemarau, sehingga warga harus berjalan kaki untuk mengambil air di desa lain atau membeli air tanki dengan harga yang mahal. Dari jumlah desa yang mengalami krisis air itu, tercatat 39. 879 orang atau 4. 325 keluarga yang menderita kekurangan pasokan air bersih.

“Kita sudah salurkan tanki bantuan ke seluruh daerah melalui dinas teknis untuk membantu memasok air bersih bagi masyarakat,” papar Tini Thadeus.

Sementara itu, Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKP2) NTT, Hadji Husen menyampaikan, stok beras yang dikuasai pemerintah masih cukup tersedia, terutama stok beras yang menjadi kewenangan bupati/walikota masing-masing sebanyak 100 ton dan kewenangan gubernur sebanyak 200 ton. Sedangkan stok beras yang disimpan di gudang BKP2 NTT saat ini mencapai 86 ton.

“Stok ini saya simpan untuk mengantisipasi jika semua stok yang ada habis. Maka stok yang saya simpan itu akan disalurkan,” ujar Husen.

Selain beras, paparnya, jagung dan umbi- umbian juga masih sangat tersedia. Secara akumulatif, stok jagung di provinsi berjumlah 104 .419 ton dengan rata- rata kebutuhan 8. 222 ton. Dengan demikian, bisa dipastikan stok beras dan jagung yang tersedia dan tersebar di seluruh kabupaten/kota, masih mampu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat untuk tiga bulan ke depan. Sehingga dapat dipastikan, bencana rawan pangan yang akan terjadi di provinsi ini sangatlah tidak mungkin.

170 Desa Krisis Air Bersih

Tini Thadeus juga menjelaskan, dampak El Nino yang meluas telah mengakibatkan 170 desa di NTT yang tersebar di 17 kabupaten mengalami krisis air bersih sejak dua pekan terakhir. Dikhawatirkan krisis air bersih berlanjut hingga puncak kemarau pada Oktober sampai November 2014.

Menurutnya, krisis air bersih tersebut dialami 4. 325 kepala keluarga atau sekitar 39. 879 jiwa. Kabupaten yang menderita krisis air bersih antara lain Nagekeo, Rote Ndao, Sabu Raijua, Timor Tengah Selatan, Kupang, Timor Tengah Utara, Belu, Malaka, Lembata, Alor, dan Flores Timur.

“Krisis air bersih itu memicu harga air bersih di sejumlah desa melojak. Harga air bersih naik karena debit sumber- sumber air menyusut bahkan mengering. Air untuk minum saja sulit, apalagi untuk tanaman dan ternak,” kata Tini.

Ia menyebutkan, krisis air yang terjadi di Kabupaten Nagekeo misalnya, terdapat dua kelurahan dan tujuh desa yakni Kelurahan Mbay dan Towale, Desa Tonggulambang, Tenga Tiba, Waedoa, Nggolonio, Marapokot, Aeramo, dan Waikokok. Warga di desa-desa tersebut harus mengeluarkan dana lebih besar untuk memperoleh air bersih. Harga air tanki ukuran 5. 000 liter melonjak lebih dari 200 persen. Jika pada kondisi normal harga air ukuran 5. 000 liter tersebut dijual Rp50. 000 sampai Rp70. 000, kini naik menjadi Rp200. 000 hingga Rp300. 000. Sedangkan harga air per jeriken ukuran lima liter dijual Rp5. 000.

Dia mengatakan, karena harga air tanki mahal, warga biasanya patungan untuk membeli air. “Nanti mobil tanki yang membawa air berhenti di setiap rumah untuk membongkar air ke drum yang disiapkan. Setelah penuh, mobil bergeser ke rumah lainnya,” ujarnya.

Ia menyatakan, krisis air yang terjadi di desa- desa, menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten. Saat ini belum ada intervensi untuk mengatasi krisis air dari pemerintah provinsi, kecuali BPBD NTT yang telah mengirim tiga mobil tanki untuk mengangkut air bagi warga yang menderita krisis air di Sumba Barat dan Lembata. Operasional mobil bantuan tersebut menjadi tanggungjawab bupati.

Secara terpisah, Kepala Seksi Kedaruratan BPBD NTT, Marten Lodo mengatakan, pihaknya tengah mengajukan bantuan dana kepada pemerintah untuk mendanai penggalian sumur bor di 10 titik di desa- desa yang dilanda kekeringan, serta dana untuk pengadaan air bersih di 170 desa tersebut. Proposal untuk permintaan dana bantuan sudah dikirim tetapi sampai saat ini belum ada jawaban. (*/jk)

Attachment